Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung BCA

Gedung BCA

Bank Tak Bisa Dipaksa Ekspansif

Nida Sahara, Rabu, 14 Agustus 2019 | 09:30 WIB

JAKARTA – Meskipun pengusaha mengeluhkan kondisi likuiditas yang cenderung ketat, perbankan tidak dapat dipaksa untuk terlalu ekspansif. Sebab, perbankan sendiri juga dihadapkan pada kondisi likuiditas yang ketat.

Menurut Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja, secara industri, perbankan memang masih mengalami kendala di sisi likuiditas yang ketat. Untuk itu, bank tidak bisa memaksakan diri untuk menyalurkan kredit ketika kondisi likuiditas tidak memungkinkan, ditambah dengan ekonomi global yang tidak menentu.

"Kalau bermain sepak bola dan lapangan sedang becek karena habis hujan, kita harus berhati-hati agar tidak jatuh terpeleset karena licin. Jadi, saat ini tidak boleh dipaksa kredit growth yang tinggi di tengah kondisi makro yang jelek terutama karena situasi dunia yang tidak menentu," ujar Jahja ketika dihubungi Investor Daily, Selasa (13/8).
Dia menegaskan, meletupnya kredit macet menandakan dampak negatif bisa selalu ada pada dunia usaha. Dengan demikian, sebelum melakukan ekspansi perlu berhati-hati melihat kondisi ekonomi baik domestik maupun global. "Jadi harus alon-alon asal kelakon. Harus lihat pergerakan bunga The Fed, jika turun, seyogianya BI juga mengikuti," ucap Jahja.

Secara terpisah, Direktur Retail Banking PT Bank Permata Tbk Djumariah Tenteram juga menyebut secara industri memang masih terjadi pengetatan likuiditas perbankan. Namun, bagi Bank Permata saat ini masih tergolong aman, tercermin pada loan to deposit ratio (LDR) semester I-2019 yang berada di posisi 92,69%.

"Perang dagang sedikit banyak berpengaruh, kalau lihat domestik masih cukup kuat. Paling yang perlu diperhatikan adalah bagaimana bisnis-bisnis yang berorientasi ekspor dan berkaitan dengan negara-negara tersebut perlu diperhatikan," jelas Djumariah.

Pihaknya menilai, pelonggaran suku bunga acuan BI menjadi 5,75% dan penurunan giro wajib minimum (GWM) sebesar 50 basis poin sudah cukup membantu perbankan untuk mendapatkan likuiditas tambahan. Meskipun tidak menambah likuiditas banyak, hal itu dapat membantu untuk ekspansi kredit. "Selain itu, penurunan bunga acuan merupakan satu langkah bagaimana caranya untuk menggerakkan lagi pertumbuhan ekonomi, terutama pertumbuhan kredit," tegas dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA