Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Customer service melayani nasabah di konter PT Bank Victoria International Tbk, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Customer service melayani nasabah di konter PT Bank Victoria International Tbk, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Bank Victoria Siap Penuhi Modal Minimum Rp 3 Triliun

Minggu, 18 Oktober 2020 | 14:16 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Victoria International Tbk berkomitmen untuk memenuhi aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait modal inti minimum tahun 2022 sebesar Rp 3 triliun. Perseroan memiliki sejumlah strategi untuk mencapai modal inti yang ditetapkan regulator tersebut.

Merujuk Peraturan OJK (POJK) Nomor 12 Tahun 2020 tentang Konsolidasi Bank Umum, aturan modal inti bank paling sedikit Rp 3 triliun wajib dipenuhi paling lambat tanggal 31 Desember 2022.

Pemenuhan modal tersebut dilakukan secara bertahap, untuk tahun 2020 modal inti minimum bank diatur sebesar Rp 1 triliun, pada 2021 minimum Rp 2 triliun, hingga tahun 2022 modal inti minimum bank senilai Rp 3 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan Bank Victoria, pada kuartal kedua tahun ini, modal inti Bank Victoria (only) sebesar Rp 2,03 triliun, menurun 19,12% dibandingkan posisi sama tahun lalu Rp 2,51 triliun.

Saat ini perseroan masuk kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) II, apabila tidak dapat memenuhi aturan modal tersebut, perseroan akan turun kelas.

Direktur Utama Bank Victoria
Direktur Utama Bank Victoria

Direktur Utama Bank Victoria Ahmad Fajar mengatakan, perseroan masih memikirkan langkah yang tepat untuk menambah modal. Pihaknya bisa menerbitkan saham baru melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

“Untuk modal, kami yang jelas komit ke OJK tahun 2022 untuk modal Rp 3 triliun akan kami penuhi, baik melalui rights issue atau strategic investor,” ungkap Fajar dalam public expose perseroan, Jumat (16/10).

Adapun untuk modal inti secara konsolidasi Bank Victoria per Juni 2020 sebesar Rp 2,35 triliun, menurun dibandingkan kuartal II-2019 yang mencapai Rp 2,78 triliun, dan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di level 18,22%.

“Kami akan penuhi dari kami sendiri. Selain itu di Bank Victoria Syariah juga akan kami penuhi. Sebab, dalam kelompok usaha bank, modal Bank Victoria Syariah harus menjadi Rp 1 triliun. Bisa penambahan saham dari PSP (pemegang saham pengendali) atau partnership,” sambung dia.

Kurangi Portofolio ke Multifinance

Selain komitmen meningkatkan permodalan, perseroan menjaga kualitas kredit tetap baik di masa pandemic Covid-19.

Pasalnya, rasio kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) gross perseroan cukup tinggi di level 6,72%.

Untuk itu, Bank Victoria mengurangi portofolio kredit pada sektor yang membuat NPL terkerek naik seperti multifinance.

“Kami juga melihat tahun 2018 ada beberapa kasus di perusahaan multifinance, kami ada channeling dan executing, jadi kami terus turunkan di sektor multifinance, kami tidak lakukan ekspansi lagi terutama di multifinance. Salah satu sektor yang kami kurangi adalah multifinance, pada kondisi pandemi ini mereka juga terdampak. Mereka juga kalau ada masalah sulit kami eksekusi, itu kenapa kami kurangi portofolionya,” terang Fajar.

Wakil Dirut Bank Victoria International
Wakil Dirut Bank Victoria International

Pada kesempatan itu, Wakil Direktur Utama Bank Victoria Rusli mengatakan, strategi perseroan menjaga NPL dengan melakukan jemput bola secara langsung. Nasabah yang diperkirakan mengalami masalah ditawarkan untuk restrukturisasi.

Rusli menjelaskan, apabila bank hanya menunggu debitur mengajukan restrukturisasi kredit sendiri, maka sudah terlambat, bisa menjadi kredit macet. Oleh karena itu, perseroan aktif menjemput bola.

“Kami petakan debitur yang bisnisnya terdampak langsung pandemi ini, begitu kami lihat terdampak, kami ada lampu merah, kuning, dan hijau, kami fokus di lampu kuning dan merah. Kami restrukturisasi di awal terhadap keuangan mereka, supaya debitur kami bisa survive,” papar dia.

Bagi debitur yang sudah terdampak, bank tidak bisa memaksakan untuk tetap membayar angsuran pokok maupun bunga, karena debitur juga bermasalah dengan arus kas.

“Bank antisipasi jangan menunggu nasabah datang ke bank, kami antisipasi dengan rapat bulanan sebagai early warning system, mana debitur yang terdampak,” lanjut Rusli.

Adapun sektor yang berkontribusi terhadap kenaikan NPL gross perseroan mayoritas adalah sektor perhotelan, yang saat pandemi Covid-19 mengalami penurunan pemasukan yang signifikan. Hingga akhir tahun diperkirakan NPL gross masih akan meningkat dan perseroan akan terus memupuk pencadangannya.

“NPL gross akan naik, karena industri yang erat kaitannya dengan mobilitas manusia terganggu, contohnya perhotelan, properti, airline. Kami tidak punya portofolio di airline, tapi perhotelan kami signifikan portofolionya, restoran juga signifikan terdampak,” pungkas Rusli.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN