Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

BI: Pemilu AS Takkan Timbulkan Volatilitas Rupiah

Jumat, 7 Oktober 2016 | 16:48 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA- Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara memperkirakan pemilihan umum Presiden Amerika Serikat (AS), 8 November mendatang, tidak akan menimbulkan volatilitas berlebihan ke pasar keuangan dan terhadap nilai tukar rupiah.

Mirza di Jakarta, Jumat, seperti dilansir Antara, mengatakan bahwa dirinya memantau pelaku pasar terus melakukan penyesuaian dalam bertransaksi, mengikuti hasil berbagai survei menjelang Pemilu AS mendatang.

Dengan demikian, hasil Pemilu AS tidak akan jauh berbeda dengan ekspektasi yang sudah terbangun di pasar. "Harusnya tidak ada gejolak. Pasarkan adjust (menyesuaikan) terus. Ini kan survei terus. Setiap survei diumumkan, pasar pasti ada penyesuaian," ujarnya.

Jika terdapat volatilitas kurs rupiah di pasar keuangan, lanjut Mirza, BI sudah bersiap untuk mengintervensi agar level kurs rupiah sesuai takaran fundamental ekonomi domestik.

"Kita awasi saja, apakah kalau Hillary yang menang ada dampaknya terhadap kurs dolar AS, Trump yang menang ada dampaknya pada dolar AS," ujarnya.

Mirza menuturkan bank sentral akan menjaga pergerakan kurs agar tidak terlalu lemah dan juga tidak terlalu kuat, melainkan stabil di posisi fundamentalnya.

Stabilitas kurs rupiah penting untuk mendorong kegiatan transaksi ekspor dan impor yang lebih kompetitif.

"Karena dengan stabilitas kurs, importir yang memerlukan valuta asing (valas) untuk impor mereka bisa lebih memprediksi. Sedangkan eksportir yang menerima valas mereka bisa tau dan percaya diri untuk menjual valasnya," jelasnya.

Pemilu Presiden AS akan berlangsung pada 8 November 2016, dengan dua kontestan, kandidat dari Partai Demokrat Hillary Clinton, serta kandidat Partai Republik, Donald Trump.

Debat antara dua kandidat Presiden negara adi daya tersebut selalu mempengaruhi kepercayaan investor tentang prospek Amerika Serikat. Penguatan kurs rupiah hingga berada di level Rp13.000 sejak akhir September 2016 lalu, juga salah satunya disebabkan sentimen akibat debat capres AS. (gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN