Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BNI. Foto: Investor Daily/DAVID

Bank BNI. Foto: Investor Daily/DAVID

Didukung 63 Juta Nasabah, BNI Terus Perkuat Digitalisasi

Kamis, 22 Juli 2021 | 13:05 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Didukung 63 juta nasabah, di antaranya 9 juta nasabah mobile banking, PT BNI Tbk terus memperkuat digitalisasi untuk melayani para nasabah penyimpan dan peminjam. Saat ini, transaksi di kantor cabang tinggal 2%. Selebihnya, nasabah melakukan transaksi lewat anjungan tunai mandiri (ATM) dan layanan digital BNI. Penggunaaan transaksi digital terus meningkat, sehingga dalam waktu dekat, mayoritas transaksi dilakukan nasabah secara digital.

Sementara itu, untuk memperkuat permodalan, BNI akan melakukan rights issue senilai sekitar Rp 11,7 triliun pada semester pertama 2022. Pada September tahun ini, BNI juga menerbitkan surat utang US$ 500-800 juta.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar saat media visit BNI visit via zoom pada Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar saat media visit BNI visit via zoom pada Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar memaparkan, bank pelat merah ini sudah berada di jalur digitalisasi, dengan didukung kekuatan jumlah nasabah yang menembus 62-63 juta. Shifting bank BUMN ini ke digital akan semakin cepat, seiring perubahan transaksi di masa pandemi yang mendongkrak penggunaan electronic channel hingga 98%, sedangkan yang di kantor cabang tinggal 2%.

BNI terus perkuat digitalisasi
BNI terus perkuat digitalisasi

Dari transaksi electronic channel tersebut, saat ini, yang paling dominan masih lewat ATM sekitar 40% lebih. Namun, belakangan, transaksi mobile banking makin melesat pertumbuhannya, sehingga ke depan bisa mendominasi. Jumlah nasabah mobile banking yang baru sekitar 9 juta diyakini memberikan ruang yang besar untuk tumbuh.

Royke Tumilaar mengatakan, bank anggota Himbara ini menjadikan pandemi Covid-19 sebagai momentum untuk transformasi ke digital. Perseroan juga berencana mengembangkan bisnis anorganik dengan memiliki bank digital.

“Transformasi yang dilakukan BNI tidak 100% berubah menjadi bank digital yang tidak memiliki kantor cabang, namun transformasi dari sisi layanan, proses bisnis, dan produknya.

Untuk memiliki bank digital, kami terbuka untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Kesuksesan bank digital terletak pada empat syarat utama, yakni teknologi tinggi, cost murah, sudah terbentuk ekosistem kuat, dan mindset digital bank,” ujar Royke saat media visit virtual ke Beritasatu Media Holdings, Rabu (21/7).

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar, Direktur Bisnis Konsumer Corina Leyla Karnalies, Direktur IT dan Operasi Y.B. Hariantono, Direktur Manajemen Risiko David Pirzada, SEVP Corporate Transformation Paolo Kartadjoemena, Corporate Secretary Mucharom dan VP Corporate Communication & CSR BNI Selly Adriatika berfoto bersama Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu, COO BSMH Anthony Wonsono, Pemred Beritasatu.com ME Aditya Laksmana Yudha, Pemred Majalah Investor Komang Darmawan, GM BSMH Djemy Piether, Wapemred Investor Daily Hari Gunarto, dan Manager News Gathering Beritasatu TV Kleofas Klewen usai media visit manajemen PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk ke BeritaSatu via zoom di Jakarta, Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar, Direktur Bisnis Konsumer Corina Leyla Karnalies, Direktur IT dan Operasi Y.B. Hariantono, Direktur Manajemen Risiko David Pirzada, SEVP Corporate Transformation Paolo Kartadjoemena, Corporate Secretary Mucharom dan VP Corporate Communication & CSR BNI Selly Adriatika berfoto bersama Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu, COO BSMH Anthony Wonsono, Pemred Beritasatu.com ME Aditya Laksmana Yudha, Pemred Majalah Investor Komang Darmawan, GM BSMH Djemy Piether, Wapemred Investor Daily Hari Gunarto, dan Manager News Gathering Beritasatu TV Kleofas Klewen usai media visit manajemen PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk ke BeritaSatu via zoom di Jakarta, Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Hadir pula dalam kunjungan virtual BNI tersebut antara lain adalah Direktur Manajemen Risiko David Pirzada, Direktur IT dan Operasi YB Hariantono, Direktur Bisnis Konsumer Corina Leyla, Senior EVP Corporate Transformation Paolo Kartadjoemena, serta Corporate Secretary Mucharom.

Royke mengatakan, pihaknya juga menjajaki untuk mengakuisisi bank digital, tapi harus memenuhi sya ratsyarat kunci itu. Dengan demikian akan memperkuat BNI.

“Kami harus punya untuk melengkapi BNI, tapi yang betul-betul tidak ada cabang, kalau nanti (bank digi tal) butuh cash tinggal numpang jaringan BNI. Harus bank juga, tapi masih dalam masa penjajakan dan harus memenuhi syarat, kalau tidak, malah akan kompetisi dengan BNI,” ucapnya.

Royke mengatakan, akseptasi nasabah terhadap layanan digital sudah meningkat di tengah pandemi, untuk itu BNI tak mau ketinggalan melakukan transformasi. Namun, transformasi yang membutuhkan teknologi tinggi yang mahal ini perlu dana besar.

“Kami lihat modal terbatas, padahal peluang banyak, untuk pengembangan bisnis dalam konteks anorganik, ada potensi itu. Sementara itu, arahan dari pemegang saham mayoritas (pemerintah) agar kami fokus. Kami akan fokuskan ke depan lebih ke international bank, global bank, kami melakukan transformasi,” papar Royke. 

Tambah Modal

Jumlah nasabah Mobile Banking BNI
Jumlah nasabah Mobile Banking BNI

Dengan meningkatkan modal agar lebih kuat, lanjut Royke, maka potensi untuk tumbuh akan lebih besar. Ini mengingat salah satu kunci keberhasilan bank digital adalah memiliki teknologi tinggi.

“Begitu punya muscle kuat, kami punya mimpi tumbuh anorganik dan sudah ada kajian Kalau syarat itu tidak ketemu, mending jangan, kami tidak asal bikin digital, kami punya konsep, tunggu waktu,” imbuh Royke.

BNI akan mempertebal permodalan untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan. Sejumlah langkah dilakukan BNI, seper ti rencana penerbitan bond sekelas equity, yang baru per tama dilakukan di Indonesia, namun sudah dilakukan bank-bank asing seperti DBS. Denominasinya dalam dolar AS senilai US$ 500-800 juta, yang akan diterbitkan pada September 2021.

“Untuk melakukan transformasi dan ekspansi, perseroan perlu penguatan permodalan, karena pada kuar tal I-2021 rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BNI di posisi 18%, dan saat ini sudah menurun karena ekspansi.

Untuk itu, perseroan memiliki skenario untuk meningkatkan CAR. September, kami issue bond sekelas equity, US$ 500-800 juta, yang akan mengangkat modal inti kurang lebih 1-1,5% darisekarang 16% menjadi bisa 17,5%,” tutur Royke.

Perseroan juga menyiapkan scenario rights issue tahun 2022. Selain melakukan rights issue, BNI juga minta penyer taan modal negara (PMN) dari Kementerian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas agar kepemilikan sahamnya tidak terdilusi.

Rights issue di 2022 akan menambah 1-1,5% lagi (CAR). Izinnya itu rights issue dan minta PMN, supaya share pemerintah tetap 60%,” kata Royke.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar saat media visit BNI visit via zoom pada Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar saat media visit BNI visit via zoom pada Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Meskipun rights issue dan PMN adalah hal yang berbeda, lanjut dia, namun untuk melakukan rights issue pemegang saham existing harus mengambil jatah agar kepemilikannya tidak berkurang.

Oleh karena itu, rencana rights issue BNI dibarengi dengan PMN dari pemerintah sebesar Rp 7 triliun.

Rights issue dan PMN itu berbeda, tapi kalau mau issue dan agar pemerintah share-nya tetap sama, maka harus ada penyertaan. Ini supaya kepemilikan (saham pemerintah) nanti tetap sama dengan posisi sekarang,” ucap Royke.

Sebenarnya, lanjut Royke, BNI bisa saja meningkatkan permodalan tanpa melakukan penerbitan saham baru atau menerbitkan obligasi, namun membutuhkan waktu yang lama.

“Jadi, rencana kami itu salah satu jalan untuk mempercepat, kalau mau normal modal inti (yang diperlukan) kami bisa capai tahun 2025. Tapi, kami butuh cepat supaya bank bisa dilihat sehat,” tandas Royke.

Ekosistem BNI Solid

Direktur IT dan Operasi Y.B. Hariantono  saat media visit BNI visit via zoom pada Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur IT dan Operasi Y.B. Hariantono saat media visit BNI visit via zoom pada Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

YB Hariantono menjelaskan lebih lanjut, BNI tidak bertransformasi menjadi fully digital bank, namun mendigitalisasikan BNI mulai dari layanan, operasional, hingga proses.

Ini bertujuan memberikan layanan yang mudah, cepat, dan murah. Selain itu, lanjut dia, fully digital bank hanya menyasar segmen consumer dan usaha kecil, sedangkan BNI juga menggarap segmen korporasi.

“Kita lihat ke depan, digitalisasi itu important, namun mengembangkan bisnis (harus) dengan ekosistem. Jadi, ada customer base (besar) yang melekat,” ujarnya.

Hingga saat ini, YB menyebut, jumlah nasabah BNI sekitar 62-63 juta nasabah, dengan pengguna mobile banking sebanyak 9,3 juta nasabah. Hal tersebut menunjukkan ruang untuk meningkatkan jumlah pengguna mobile banking masih terbuka lebar.

Customer mobile banking 9 juta lebih, ini masih kecil, jadi ruang untuk tumbuh masih banyak. Untuk transaksi, hanya 2% di cabang dan 98% sudah melalui channel elektronik,” urai YB.

Ia mengatakan, kanal yang paling banyak digunakan adalah ATM dengan komposisi lebih dari 40%, diikuti oleh mobile banking. Sedangkan dari jumlah nilainya, transaksi mobile banking dan ATM hampir sama, dan ke depan mobile banking akan dominan nilai transaksinya.

“Karena kekuatan mobile banking dan akseptasi nasabah inline dengan pertumbuhan itu, orang mengarah ke digital banking lewat open API. Kami juga jadi market leader karena paling banyak institusi yang terkoneksi,” imbuh dia.

Direktur Bisnis Konsumer Corina Leyla Karnalies saat media visit BNI visit via zoom pada Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Bisnis Konsumer Corina Leyla Karnalies saat media visit BNI visit via zoom pada Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Corina menambahkan, mobile banking menjadi produk andalan BNI sepanjang tahun lalu dari sisi layanan. Tugas saat ini, lanjut dia, adalah mengedukasi nasabah untuk mulai beralih menggunakan mobile banking.

“Fokus base nasabah dan akuisisi, transaksi terlihat tumbuh tinggi di tabungan. Kita ada 9,3 juta pengguna mobile banking, yang aktif ada 35% pengguna. Ini kita mau jadikan 50%, 60%, sampai 70%,” papar Corina.

Menurut dia, dengan adanyapembatasan mobilitas masyarakat akibat pandemi Covid-19 membantu perseroan membuat nasabah menggunakan mobile banking untuk bertransaksi. Shifting ke bank digital menjadi lebih mudah.

“Dengan pandemi orang tidak bisa ke mana-mana, shifting jadi mudah, yang dipastikan bank itu punya solusi tepat dan mudah. Ini yang kami fokuskan, onboarding gampang, tinggal download sudah bisa transaksi,” kata dia.

BNI juga baru saja memperbaharui mobile banking-nya dengan upgrade UI/UX, dan mempermudah pembukaan rekening secara digital dengan face recognition. Sehingga, lanjut dia, nasabah tidak perlu datang ke cabang, cukup buka rekening melalui mobile banking sudah punya rekening BNI.

Selain proses pembukaan rekening yang dipermudah, dalam mobile banking terdapat produk kartu kredit, nasabah bisa mengajukan kartu kredit melalui BNI mobile. “Sekarang ribuan yang sudah coba, tidak harus ke mana-mana bisa apply kartu kredit. Transaksi, bill statement, bisa dilihat melalui mobile banking, kita buat powerful,” ucap Corina.

Kemudian, perseroan juga membuat fitur tarik tunai tanpa kartu. Nasabah cukup melalui mobile banking bisa mengambil uang di ATM.

“Ini kami buat juga fitur yang lebih personalize agar nasabah loyal. Setahun ini pergerakan saldo tabungan cukup baik, karena nasabah teredukasi dengan mobile banking kami,” katanya.

Tingkatkan Capex

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar saat media visit BNI visit via zoom pada Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar saat media visit BNI visit via zoom pada Rabu (21/7/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Royke mengatakan, BNI juga membuka peluang bagi bank digital untuk bekerja sama. Namun, dia memastikan ingin menjadi pengendali bank digital tersebut nantinya.

“Kami open untuk bekerja sama, tidak semua (syarat utama yang diperlukan) harus dari kami. Tapi, kami harap yang jadi pengendali,” tutur dia.

Untuk transformasi, perseroan tahun ini juga meningkatkan belanja modal (capex) untuk teknologi informasi (TI) dan digitalisasi.

Di sisi lain, tahun ini BNI juga tidak agresif dalam membuka kantor cabang baru, karena fokus mengembangkan digitalisasi.

Capex kami sebagian besar untuk pengembangan IT dan digital, yang pasti lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Yang penting eksekusi capex seberapa kuat, kalau tidak punya budget, itu juga jadi problem. Walau terkendala pandemi, kami kejar eksekusi capex jadi prioritas,” ujar Royke.

Tumbuh Positif

Gedung BNI
Gedung BNI

Royke mengatakan, pandemic paling terdampak bagi segmen UMKM. Hal tersebut diperkirakan akan meningkatkan kredit macet perseroan tahun ini.

“Kami masuk segmen bawah juga, UMKM tapi yang kecil, bukan mikro. Dan ini ada kenaikan NPL, tapi masih bisa buat kami, ukurannya sepanjang tidak sampai bulan Agustus nanti, setelah itu agak seram. Pasti impact ke consumer tidak bisa bayar kredit motor, tidak bisa bayar cicilan, itu pasti kami ada pengar uh,” urai dia.

Namun, lanjut dia, segmen korporasi meskipun masih ada yang wait and see tetap berjalan dengan baik. Secara keseluruhan, kredit dan dana pihak ketiga (DPK) BNI masih tumbuh positif.

“Sampai sekarang ini year on year atau year to date masih positif. DPK juga positif, tapi tidak besar, kisaran 2-3%. Kami pikir tadinya proyeksi tumbuh 6%, tapi kita lihat kini ada kenaikan angka positif Covid-19 harian, namun ruang untuk tumbuh ada,” kata Royke.

Pihaknya masih optimistis masih ada ruang untuk menumbuhkan kinerja positif tahun ini, khususnya untuk kredit dan DPK. “Saya masih optimis positif pasti, tapi kita lihat berapa nanti,” ujar dia. (th/pd/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN