Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BTN. Foto: IST

Bank BTN. Foto: IST

Fokus Digitalisasi, BTN Siapkan Capex TI Rp 500 M

Aris Cahyadi, Minggu, 9 Februari 2020 | 12:20 WIB

JAKARTA, investor.id  – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) tahun ini fokus mengembangkan layanan digital dengan menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) teknologi informasi (TI) sebesar Rp 500 miliar. Perseroan mulai memoles layanan mobile banking untuk mempermudahkan nasabah menggunakan aplikasi tersebut, khususnya bagi milenial.

Direktur Utama BTN Pahala N Mansury menjelaskan, pengembangan layanan digital tahun ini guna menghimpun dana murah (current account saving account/ CASA). Dengan meluncurkan kembali mobile banking BTN, tahun ini perseroan membidik 2,7 juta pengguna baru.

“Investasi TI sekitar Rp 500 miliar, kami akan tingkatkan, itu baru mobile banking saja. Rencana tabungan kami tahun ini tumbuh sekitar 17% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan rasio CASA kami harapkan meningkat di atas 45% dari tahun lalu 43%,” jelas Pahala dalam acara Millenials Digital Experience, di Jakarta, Jumat (7/2).

Pahala N Mansyuri. Foto: IST
Pahala N Mansury. Foto: IST

Dia mengungkapkan, selama ini banyak nasabah BTN yang belum aktif melakukan transaksi dengan mobile banking sebagai digital channel. Padahal, saat ini segala sesuatu dilakukan dengan mobile. Untuk itu, perseroan juga terus berinovasi meningkatkan berbagai layanan transaksi digital termasuk pengembangan aplikasi mobile banking tersebut.

“Di industri perbankan itu lebih dari 50% transaksi sudah menggunakan mobile banking, kami mengikuti tren pasar dengan relaunching mobile banking dengan tampilan baru. Tampilan baru ini tidak kalah dengan bank-bank sebelah, ini untuk meningkatkan ritel funding BTN, sesuai branding kami Bank Tabungan Negara,” terang Pahala.

Pahala menambahkan, layanan supper apps yang tengah dibangun perseroan akan menyajikan berbagai fitur, antara lain fitur Online Onboarding yakni pembukaan rekening secara online dari smartphone.

Selain itu, akan ada fitur pembukaan edeposito, tarik tunai tanpa kartu, dan berbagai fitur lain yang akan mengikuti tren industri.

“Tahun ini kami rencanakan bisa melakukannya, termasuk on boarding, artinya kalau menggunakan sarana mengirimkan foto melalui sarana online. Ini salah satu persyaratan yang harus ada tatap muka langsung dengan pembuka rekening, Insya Allah pada kuartal I atau II kami akan bisa melakukan pembukaan rekening secara online,” kata dia.

Sementara itu, hingga Desember 2019, emiten bersandi saham BBTN tersebut telah memiliki 1,17 pengguna mobile banking. Dari pengguna tersebut, jumlah dan nilai transaksi menggunakan mobile banking BTN mencapai 55,3 juta transaksi dengan nilai Rp 9,11 triliun per Desember 2019. Posisi jumlah dan nilai transaksi tersebut naik masing-masing sebesar 41,43% dan 36% secara tahunan (year on year/yoy) dari 39,1 juta transaksi dan Rp 6,7 triliun pada Desember 2018.

Dengan capaian tersebut, perseroan mencatatkan perolehan fee based income senilai Rp 42,51 miliar pada Desember 2019 atau naik 27,65% (yoy). Dengan target pengguna baru pada 2020, Pahala menuturkan pihaknya membidik posisi fee based tersebut naik sekitar 33%.

Di sisi lain, Pahala mengaku awal tahun ini BTN baru mendapat izin sebagai acquirer. Dengan izin tersebut, perseroan tahun ini mulai menerbitkan mesin electronic data capture (EDC) ke merchant rekanan BTN untuk menggenjot transaksi yang dapat meningkatkan dana murah.

“Awal tahun kami juga sudah punya izin merchant acquiring pakai EDC, kami fokus di ekosistem yang BTN sudah kuat. Tahun ini mesin EDC yang kami terbitkan berkisar 2.000- 3.000 EDC, ini masih tahap pengembangan, yang penting EDC tersebut memang aktif bertransaksinya,” kata Pahala.

Untuk penyebaran mesin EDC, perseroan juga bekerja sama dengan developer, merchant bahan bangunan di sektor properti yang merupakan ekosistem yang difokuskan BTN.

Selain itu juga ekosistem layanan seperti notaris, hotel, restoran juga akan dikembangkan. Terkait hal tersebut, pada kesempatan itu BTN juga menggelar penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU) terkait penggunaan EDC. BTN menggadeng PT Duta Paramindo Sejahtera Developer Green Pramuka City, PT ISPI Pratamalestari Perkasa Developer ISPI, Panties Pizza Indonesia Merchant Makanan Panties Pizza, serta Notaris dan PPAT Umi Chamidah.

Sedangkan untuk mesin ATM, perseroan belum merinci rencana penambahan, namun saat ini BTN sudah terakses dengan ATM merah putih milik himpunan bank milik Negara (Himbara) yang beredar di Indonesia.

“Selain itu kami juga terakses dengan 53 ribu ATM Link di seluruh Indonesia milik Himbara, jadi kalau bertransaksi tidak akan dikenakan charge atau fee,” imbuh dia.

Sasar Debitur KPR

Pengembangan digitalisasi tidak hanya untuk menarik dana murah, namun juga untuk menyasar calon debitur untuk pengaplikasian kredit pemilikan rumah (KPR). Hal tersebut tentu saja akan memudahkan bagi generasi milenial untuk mengajukan aplikasi KPR tanpa datang ke kantor cabang.

“Sekarang juga bisa aplikasi KPR lewat sarana online, kami sudah punya portal online, aplikasi BTN properti. Proses aplikasi, kami punya target selalu memberikan layanan dengan SLE satu hari instant approval, lima hari untuk persetujuan, satu hari untuk pencairan,” kata Pahala.

Perseroan juga memberikan suku bunga menarik sebesar 6,99% fixed dua tahun untuk program BTN Solusi dan bisa digabungkan dengan program lain, misalnya KPR Gaes dengan jangka waktu hingga 30 tahun. Program tersebut dikhususkan bagi milenial dengan usia 21-35 tahun untuk pembeli rumah pertama.

“Antusias bagus sekali tapi ke depan bisa kami aktifkan lagi dengan berbagai program bersama developer. Misalnya bagaimana KPR Gaes milenial dengan stok perumahan yang berkisar antara Rp 150-300 juta per rumah, kami harapkan tenornya sampai 30 tahun, ini bisa meningkatkan jumlah end user milenial yang punya rumah,” tutur dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA