Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah melakukan transaksi di Anjungan Tunai Mandiri (ATM),  di Jakarta. Foto ilustraasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan transaksi di Anjungan Tunai Mandiri (ATM), di Jakarta. Foto ilustraasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kembangkan Digitalisasi, Perbankan Gelontorkan Capex TI

Rabu, 13 Januari 2021 | 04:55 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Industri perbankan tahun ini menyiapkan strategi pengembangan digitalisasi karena di masa pandemi Covid-19 layanan digital bank semakin digandrungi. Untuk melakukan pengembangan layanan dan produk digital, sejumlah bank sudah siap menggelontorkan belanja modal (capital expenditure/capex) teknologi informasi (TI).

Sebelum adanya masa pandemi Covid-19, perbankan memang sudah mulai melakukan transformasi digital. Hal tersebut disebabkan transaksi yang dilakukan secara konvensional mulai menurun.

Penurunan tersebut semakin menjadi semenjak pandemi Covid-19 pada Maret tahun lalu, di mana aktivitas di area publik dibatasi untuk menghindari penularan virus corona. Oleh karena itu, pandemi Covid-19 menjadi ajang percepatan transformasi digital perbankan.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) misalnya, bank terbesar di Indonesia ini juga selalu melakukan pengembangan layanan digital untuk mempermudah transaksi nasabah melalui genggaman. Untuk itu, perseroan juga telah menyiapkan capex IT yang nilainya sama dengan tahun lalu.

"Capex IT di tahun 2021 sebesar Rp 3,5 triliun, angka ini sama dengan porsi capex tahun lalu," ucap Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto kepada Investor Daily, Selasa (12/1).

Aestika menjelaskan, dengan dana tersebut, BRI akan menggunakannya untuk transformasi digital. Transformasi ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan bisnis digital perseroan.

"Alokasi penggunaan capex IT, sebagian besar digunakan untuk mempersiapkan next generation infrastruktur IT BRI untuk menopang pertumbuhan inisiatif digital BRI," terang Aestika.

BRI saat ini memiliki mobile banking BRImo yang akan terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan para nasabahnya. Tentunya, di era digital saat ini, layanan yang saling terhubung menjadi nilai tambah yang juga akan dikembangkan oleh BRI, terutama di mobile banking-nya.

"Dari segi inovasi digital, kami akan terus mengembangkan layanan atau produk dan layanan digital BRI, khususnya memperkuat BRImo menjadi solusi financial terintegrasi bagi customer," urai dia.

Pihaknya mengungkapkan, selain memberikan kenyamanan bagi nasabah melalui digital banking, bank yang fokus pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ini juga akan mengembangkan Pasar.id yang merupakan salah satu terobosan BRI dalam digitalisasi pedagang pasar tradisional untuk bisa melakukan aktivitas jual beli secara digital. Pelaku UMKM didorong untuk beradaptasi dengan dunia digital.

"Di samping itu, BRI juga fokus untuk terus memberikan solusi di segmen mikro, salah satunya dengan Pasar.id," ujar Aestika.

Pasar.id merupakan platform seperti ecommerce yang mempertemukan penjual dan pembeli secara digital. Sehingga, meskipun adanya pembatasan aktivitas di tengah pandemi Covid-19, para pelaku UMKM atau pedagang di pasar tetap bisa melakukan penjualan secara digital.

Selain BRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk juga sudah menyiapkan modal untuk belanja IT tahun ini. Perseroan akan melakukan pengembangan layanan dan produk digital. "Tahun ini sekitar Rp 1,7 triliun," ujar Direktur Direktur Information Technology Bank Mandiri Rico Usthavia Frans.

Tak hanya bank konvensional, bank syariah juga tidak mau ketinggalan dalam bertransformasi digital. Hal ini yang dilakukan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K Permana mengatakan, transformasi digital merupakan salah satu dari tiga pilar strategi bisnis perseroan. Karena itu, wajar jika dalam beberapa tahun terakhir Bank Muamalat gencar mengembangkan produk dan layanan berbasis digital.

"Saat ini kami juga sudah ubah layanan selama pandemi kemarin cabang kita ada yang tutup dan kita harus ke digital. Dengan begitu, banyak investasi yang kita lakukan di digital dan hanya ini untuk bisa survive," papar Permana.

Dia menyebut, sebelum pandemi, transaksi tradisional masih mendominasi yakni 80% dari total transaksi masih dilakukan melalui teller di cabang dan juga mesin ATM. Namun, sejak Februari 2020 lalu mayoritas transaksi sudah beralih ke digital.

"Sekarang sudah 65% digital dan makin meningkat, kita tambahkan layanan untuk bisa memberikan pelayanan dan juga penetrasi perbankan digital kita lakukan," tambah dia.

Pihaknya juga sangat menyadari, digital banking akan menjadi pondasi penting dalam transformasi Bank Muamalat ke depan.

"Saat ini kami sudah berada di jalur yang tepat dengan sejumlah produk dan layanan berbasis digital yang tidak kalah dengan bank-bank lain," paparnya.

Bank Muamalat melakukan pembenahan mulai dari front-end untuk meningkatkan layanan yang dinikmati nasabah hingga back-end dengan melakukan reengineering infrastruktur digital, termasuk menggunakan sistem robotik. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN