Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN)

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN)

Kredit Tumbuh Tinggi Karena Ekonomi Dibuka

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 18:09 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Pahala Nugraha Mansury mengakui, pada kuartal III tahun ini kredit tumbuh lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal itu, menurut Pahala, terjadi karena aktivitas ekonomi mulai dibuka kembali seiring relaksasi Pembatasan Sosial Bersakala Besar (PSBB) di berbagai daerah. Alhasil, penyaluran kredit perumahan BTN pun meningkat.

Ya, kuartal III jauh lebih baik dari kuartal II, kalau realisasi kredit pada September terus bertahan,” kata Pahala kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (16/10), menanggapi Survei Perbankan Bank Indonesia yang mengindikasikan pertumbuhan kuartalan kredit baru pada kuartal III-2020 membaik dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan itu tercermin pada SBT permintaan kredit baru yang mencapai 50,6%.

Perkiraan pertumbuhan kredit
Perkiraan pertumbuhan kredit

Secara terpisah, Direktur Consumer Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan sepakat dengan survei BI bahwa pertumbuhan kredit pada kuartal III lebih tinggi dari kuartal sebelumnya, terutama pada kredit properti.

“Kuartal III memang lebih baik dari kuartal II. KPR kami secara year on year (yoy) tumbuh sekitar 8%. KKB (kredit kendaraan bermotor) lewat CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) sekitar 15%,” tutur dia.

Direktur Consumer Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk
Direktur Consumer Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk

Lani mengungkapkan, pertumbuhan kredit konsumer di CIMB Niaga belum merata di semua sektor. KPR dan KKB mulai pulih, sedangkan kartu kredit belum mencatatkan pertumbuhan. Hal itu sejalan dengan belum pulihnya sektor pariwisata dan turunannya.

Soalnya, kata Lani Darmawan, portofolio kartu kredit CIMB Niaga mayoritas merupakan transaksi pariwisata dan turunannya. Akibat pandemi Covid-19, bisnis kartu kredit perseroan turut terdampak.

“Hanya kartu kredit yang masih rendah, karena travel related transactions belum pulih akibat Covid-19,” ujar Lani.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI)
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI)

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Sunarso mengemukakan, pada semester II tahun ini masih sulit bagi industri perbankan untuk mencatatkan pertumbuhan kredit yang tinggi. Sebab, permintaan kredit masih lemah karena sektor riil belum banyak berekspansi.

Perbankan pun, menurut Sunarso, tidak bisa memberikan kredit kepada debitur yang tidak membutuhkannya meskipun bank memiliki banyak dana dan likuiditasnya melimpah.

“Dana masyarakat (dana pihak ketiga/DPK) BRI tumbuh 16%, kredit kami hanya tumbuh 3,1% dan kredit perbankan keseluruhan tumbuh 1%. Apa artinya? Berarti kesulitan likuiditas yang dikhawatirkan tidak terjadi,” papar Sunarso.

Permintaan kredit baru
Permintaan kredit baru

Merujuk laporan keuangan BRI, pada kuartal II-2020 kredit bank only BRI tumbuh 2,90% dari Rp 844,55 triliun menjadi Rp 869,05 triliun. Sedangkan pada kuartal III, pertumbuhan kredit perseroan mencapai 3,1% (yoy). Dengan demikian, secara kuartalan, kredit BRI mengalami pertumbuhan lebih tinggi pada kuartal III-2020. Meski demikian, Sunarso menekankan bahwa kredit perbankan perlu didorong supaya tumbuh lebih tinggi.

Berdasarkan data BI, kredit industri perbankan pada September hanya naik 0,12% (yoy).

Perkiraan pertumbuhan DPK
Perkiraan pertumbuhan DPK

“Memang loan demand-nya tidak ada. Jadi, saya katakan, untuk mendorong pertumbuhan kredit, demand jadi kunci. Yang harus didorong adalah demand. Solusinya, tidak bisa sektor usaha disuruh minta kredit. Orang tidak butuh ngapain kami kasih. Demand harus didorong, butuh stimulus,” tegas Sunarso.  (az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN