Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky. Foto: IST

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky. Foto: IST

LPEM UI Perkirakan BI Pertahankan Bunga Acuan 3,5%

Rabu, 21 Juli 2021 | 18:50 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5% pada Juli ini.

“Kami melihat bahwa BI perlu mempertahankan suku bunga acuan di 3,5% pada Juli 2021. Menjaga nilai tukar dan stabilitas keuangan di masa ketidakpastian krisis Covid-19 harus menjadi prioritas utama bank sentral,” kata Ekonom LPEM-FEB UI Teuku Riefky dalam Laporan Seri Analisis Makroekonomi Juli 2021 yang diterima pada Rabu (21/7).

Peningkatan jumlah kasus Covid-19 diperkirakan akan menghambat pemulihan ekonomi. Seluruh indikator ekonomi, seperti inflasi, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Purchasing Manufacturing Index (PMI), dan surplus neraca perdagangan, mulai menunjukkan prospek yang suram. LPEM UI memperkirakan indikator-indikator tersebut akan terus mengalami penurunan di bulan Juli, terutama setelah pemerintah memutuskan untuk menerapkan PPKM darurat di Jawa dan Bali. Sementara itu dari sisi eksternal, rupiah cenderung bergerak sideways karena investor mempertimbangkan perkembangan terakhir dalam kasus Covid-19 dan bagaimana sikap bank sentral, terutama The Fed.

“Terlepas dari kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tidak ada ruang bagi BI untuk mengubah kebijakannya karena sisi penawaran masih redup,” ucap Riefky.

Dengan pemberlakuan PPKM darurat sebagai upaya untuk meredam peningkatan infeksi Covid-19, pemulihan ekonomi kemungkinan akan tertunda. Riefky mengatakan, beberapa pihak memandang kondisi yang sedang berlangsung sebagai trade-off antara ekonomi dan kesehatan masyarakat. Pemulihan ekonomi tidak akan terjadi tanpa adanya masyarakat yang sehat. Oleh karena itu, pemerintah harus memprioritaskan penanganan krisis kesehatan masyarakat. Dari sisi eksternal, pasar keuangan saat ini mengamati dengan cermat bagaimana varian delta mendorong kembali krisis Covid-19 di seluruh dunia sambil memantau bagaimana pembuat kebijakan, terutama The Fed, akan bereaksi.

“Meskipun penurunan suku bunga kebijakan biasanya merupakan alat utama yang diterapkan oleh bank sentral selama periode inflasi rendah, kami melihat bahwa penurunan suku bunga kebijakan saat ini akan sia-sia karena sisi penawaran praktis masih redup di masa meningkatnya Covid-19 ini,” ucapnya.

Setelah The Fed mengisyaratkan akan melakukan dua kali kenaikan suku bunga acuan pada tahun 2023 dalam rapat FOMC tanggal 15-16 Juni, rupiah mengalami depresiasi terhadap US$, berkisar antara Rp 14.220-14.530 per US$ karena investor memindahkan modalnya dari pasar negara berkembang. Sejak saat itu, rupiah relatif stabil di sekitar Rp 14.500 per US$, meskipun ada jumlah kasus Covid-19 dan PPKM Darurat di Jawa dan Bali.

“Rupiah dinilai cukup kuat karena beberapa faktor eksternal, termasuk sikap the Fed untuk kebijakan moneter yang akomodatif meskipun inflasi AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan,” ucapnya.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN