Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
LPS. Foto ilustrasi: Majalah Investor/Uthan A Rachim

LPS. Foto ilustrasi: Majalah Investor/Uthan A Rachim

TREN SUKU BUNGA TURUN

LPS Pangkas Bunga Penjaminan Jadi 6,25%

Nida Sahara, Rabu, 20 November 2019 | 18:19 WIB

JAKARTA, investor.id – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memangkas tingkat bunga penjaminan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25% untuk simpanan rupiah bank umum. Penurunan tingkat bunga tersebut dilakukan merespons tren suku bunga global dan domestik yang turun.

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah mengatakan, penurunan tingkat bunga panjaminan LPS sebesar 25 bps pada bank umum dan BPR utamanya karena tren suku bunga yang menurun dan kondisi ekonomi global yang melemah pertumbuhannya. Selain itu, kondisi likuiditas perbankan membaik.

Halim Alamsyah. Foto: IST
Halim Alamsyah. Foto: IST

Untuk tingkat bunga penjaminan simpanan valuta asing (valas) bank umum juga turun 25 bps menjadi sebesar 1,75%, sedangkan bunga penjaminan simpanan rupiah BPR turun 25 bps menjadi 8,75%. Tingkat bunga penjaminan tersebut berlaku sejak 20 November 2019 sampai dengan 24 Januari 2020.

“LPS lihat ini waktu krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Kami harap tingkat bunga penjaminan LPS ini membuka ruang penurunan biaya dana (cost of fund) perbankan, tujuannya begitu,” ujar Halim di Jakarta, Selasa (19/11).

Halim mengungkapkan, suku bunga simpanan perbankan masih melanjutkan tren penurunan pascapemangkasan suku bunga kebijakan moneter BI sebesar 100 bps sepanjang Juli-Oktober 2019. Ia juga menilai, risiko dan prospek likuiditas perbankan stabil dengan kecenderungan turun di tengah seimbangnya pertumbuhan simpanan dan kredit, demikian pula stabilitas sistem keuangan (SSK) terkendali seiring meredanya volatilitas di pasar keuangan meski risiko ketidakpastian global masih tinggi.

“Perkembangan suku bunga pasar (SBP) simpanan 62 bank benchmark rupiah terpantau mengalami penurunan 12 bps menjadi 5,48% pada periode observasi (15 Oktober 2019 hingga 11 November 2019). Sementara itu, untuk SBP simpanan valuta asing dari 19 bank benchmark sepanjang periode evaluasi (18 September 2019 hingga 8 Oktober 2019) tercatat turun sebesar 7 bps menjadi 1,08%,” papar Halim.

Mempertimbangkan bahwa perbankan masih dalam proses penyesuaian terhadap penurunan suku bunga kebijakan moneter, serta mempertimbangkan dinamika berbagai faktor ekonomi dan stabilitas sistem keuangan yang akan memengaruhi kondisi likuiditas ke depan, maka LPS akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perkembangan suku bunga simpanan. Selanjutnya, LPS terbuka untuk melakukan penyesuaian terhadap kebijakan tingkat bunga penjaminan, sesuai perkembangan data suku bunga simpanan dan hasil asesmen terhadap kondisi ekonomi makro, stabilitas sistem keuangan, serta likuiditas perbankan.

“Suku bunga simpanan perbankan diperkirakan masih dalam tren turun mengingat proses penyesuaian terhadap BI 7DRR masih berlangsung dan baru sebagian diserap oleh perbankan. Membaiknya kondisi likuiditas ditopang pula oleh pertumbuhan DPK yang membaik, di sisi lain pertumbuhan kredit cenderung lebih terukur sehingga mengurangi gap (selisih) pertumbuhan,” lanjut Halim.

Pelonggaran Likuiditas

Halim Alamsyah
Halim Alamsyah

Halim memproyeksi, kondisi likuiditas perbankan dalam tiga bulan ke depan akan stabil dengan kecenderungan menurun di tengah lebih seimbangnya pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan kredit. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pelonggaran likuiditas, antara lain peluang penurunan lanjutan suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang diikuti pemangkasan kembali bunga acuan BI, ditambah pelonggaran kebijakan operasi moneter dan makroprudensial BI.

Pola pertumbuhan DPK yang lebih seimbang dengan pertumbuhan kredit dalam 5 bulan terakhir (Mei-September), lanjut dia, akan mengurangi tekanan likuiditas. Namun, masih ada faktor risiko yang menyebabkan pengetatan likuiditas, yakni masih adanya tekanan likuiditas pada bank kelas menengah yang lebih ketat dibandingkan kelompok bank besar dan bank kecil.

Ia mengatakan, berdasarkan data internal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), LDR perbankan cenderung turun menjadi 93,76% pada September 2019, dari 94,04% pada Agustus 2019. Sementara itu, pertumbuhan DPK bank umum bulan September 2019 menurun tipis dari 7,62% (yoy) di Agustus 2019 menjadi 7,47% (yoy).

Pada periode yang sama, pertumbuhan kredit juga terpantau melambat dari level 8,59% (yoy) menjadi 7,89% (yoy). Hingga akhir tahun 2019 proyeksi pertumbuhan kredit dan DPK industri perbankan diperkirakan masing-masing 10,5% dan 7,4%. Sedangkan untuk tahun 2020 mencapai 11,5% dan 8,4%. “Proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini masih double digit, tapi tipis ya,” ujar Halim.

Tergantung The Fed

Jahja Setiaatmadja. Foto: DEFRIZAL
Jahja Setiaatmadja. Foto: DEFRIZAL

Dihubungi secara terpisah, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, perseroan sudah melakukan penurunan suku bunga deposito pada awal bulan November ini. Ke depan, menurut Jahja, akan tergantung pada kebijakan The Fed AS maupun Bank Indonesia (BI), dan pihaknya akan mengikuti suku bunga di pasar.

“Sudah dari awal bulan ini kami turunkan bunga deposito 25 bps. Kalau ke depan tergantung The Fed dan BI, kami ikuti pasar saja,” papar Jahja ketika dihubungi Investor Daily, Jakarta, Selasa (19/11).

Adapun sampai dengan kuartal III-2019, biaya dana (cost of fund) BCA di posisi 2,00%, turun dari semester I-2019 di level 2,02%. Menurut Jahja, sampai akhir tahun ini ada potensi biaya dana masih bisa ditekan.

Jahja juga menyebut, sampai dengan akhir tahun ini, pertumbuhan kredit perseroan tidak bisa mencapai dua digit. Hal tersebut senada dengan Otoritas Jasa Keuangan yang merevisi turun target pertumbuhan kredit perbankan menjadi 8-10% (yoy).

“Iya itu in line dengan RBB kita, tahun ini kayaknya berat. Mungkin bias di bawah 9%, sekitar 8% lah,” ucap Jahja.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Mayapada Internasional Tbk Hariyono Tjahjarijadi menyambut positif pemangkasan tingkat bunga penjaminan LPS sebesar 25 bps.

Direktur Utama PT Bank Mayapada International Hariyono Tjahjarijadi. Foto: youtube
Direktur Utama PT Bank Mayapada International Hariyono Tjahjarijadi. Foto: youtube

“Dengan penurunan suku bunga penjaminan LPS, diharapkan dampak psikologisnya dapat mendorong pasar untuk terus menurunkan suku bunganya. Perseroan seperti halnya industri perbankan secara umum akan melihat berdasarkan kondisi likuiditas dan bunga di pasar, tidak hanya berpedoman dari BI rate dan LPS rate,” tutur Hariyono.

Hingga saat ini, Bank Mayapada mencatat rasio intermediasi makroprudensial (RIM) sekitar 88-90%. Sampai dengan akhir tahun ini, perseroan akan menjaga RIM pada level tersebut.

Terkait biaya dana, Hariyono menyebut, hal tersebut akan tergantung dari suku bunga di pasar. Pihaknya akan mengikuti penurunan bunga di pasar jika mulai terasa.

“Kalau soal bunga kan tergantung pasar. Mudah-mudahan dengan BI menjaga kecukupan likuiditas di pasar, maka suku bunga bisa berangsur turun,” ungkap Hariyono. (en)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA