Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Komisioner OJK Institute - Sukarela Batunanggar, dalam diskusi Zooming with Primus - Go Digital Banking, BeritasatuTV, Selasa (30/6/2020). Sumber: BSTV

Deputi Komisioner OJK Institute - Sukarela Batunanggar, dalam diskusi Zooming with Primus - Go Digital Banking, BeritasatuTV, Selasa (30/6/2020). Sumber: BSTV

OJK Ingatkan Fenomena 'Banking Without the Banks'

Abdul Aziz, Selasa, 30 Juni 2020 | 14:55 WIB

JAKARTA, Investor. id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta  kalangan bankir  terus berbenah, berinovasi, meningkatkan pelayanan, dan memutakhirkan teknologi agar tidak ditinggalkan nasabah. OJK juga mengingatkan fenomena 'perbankan tanpa bank' (banking without the banks) yang sedang menjadi tren di dunia.

“Fenomena banking without the banks di luar sana sudah terjadi. Fenomena serupa bisa terjadi di Indonesia jika bank-bank di Tanah Air tidak melakukan langkah-langkah antisipasi,” ujar Deputi Komisioner OJK Institute/Keuangan Digital OJK, Sukarela Batunanggar dalam dikusi Zooming with Primus bertajuk Go Digital Banking yang tayang secara live di Beritasatu TV, Selasa (30/6).

Acara yang dipandu Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH), Primus Dorimulu itu juga menghadirkan pembicara lainnya, yaitu Direktur PT Bank Central Asia Tbk Santoso Liem, Group Head Digital Banking Product PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Sunarto Xie, dan Head of Digital Banking, Branchless & Partnership PT Bank CIMB Niaga Tbk Bambang Karsono Adi.

Fenomena banking without the banks adalah kegiatan transaksi lazimnya di industri perbankan, namun tidak melibatkan bank. Fenomena ini antara lain terjadi karena peran bank sudah digantikan institusi keuangan lain, di antaranya perusahaan-perusahaan finansial technology (fintech), khususnya fintech dari pengguna ke pengguna atau peer to peer (P2P) lending. Fenomena banking without the banks muncul sejak beberapa tahun terakhir di sejumlah negara, terutama di Eropa dan Tiongkok.

Transformasi atau Mati 

Menurut Sukarela Batunanggar, agar tetap eksis, bank-bank di Indonesia harus melakukan transformasi secara menyeluruh, baik transformasi teknologi atau transformasi digital, transformasi bisnis, maupun transformasi visi-misi dengan segala aspeknya secara berkelanjutan. “Itu yang paling diharapkan regulator. Jadi, kuncinya hanya dua, yaitu bertransformasi atau mati,” tegas dia.

Agar tidak ditinggalkan nasabah, kata Sukarela, bank-bank di Tanah Air harus bangkit dan bergegas. “Bank yang ditinggalkan nasabahnya sudah terjadi di luar sana. Survei yang dilakukan sebuah lembaga global menunjukkan, hampir 60% responden menyatakan bahwa bank akan ditinggalkan para nasabahnya jika tidak melakukan transformasi,” tutur dia.

Sukarela Batunanggar menjelaskan, selain melakukan transformasi, kolaborasi merupakan aspek yang sangat penting bagi bank untuk tetap survive. Kolaborasi tidak hanya dilakukan dengan sesama bank, tapi juga dengan nonbank, seperti perusahaan asuransi dan perusahaan fintech. Bahkan, kolaborasi juga harus dilakukan dengan para nasabah.

“Bank harus memahami nasabah secara lebih baik, sehingga produk dan jasa yang ditawarkannya akan diterima nasabah. Ke depan, nasabah membutuhkan produk dan jasa yang lebih terintegrasi. Maka transformasi perbankan harus mengarah ke sana,” tandas Sukarela.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN