Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua DK OJK Wimboh Santoso

Ketua DK OJK Wimboh Santoso

OJK Pantau 200 Debitur Besar

Senin, 3 Mei 2021 | 20:06 WIB
Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memantau perkembangan kredit 200 debitur besar. Sebagian dari mereka memang menurunkan baki debet. Mereka bergerak di berbagai sektor.

"Kita terus pantau debitur besar tersebut. Beberapa memang baki debet kreditnya menurun. Kredit komersial debitur besar sebagian terpengaruh," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso kepada Investor Dally di sela berbuka bersama di Jakarta, Senin (3/5/2021).

Anto Prabowo menambahkan, banyak debitur besar yang sengaja menurunkan baki debet. Dia memberikan ilustrasi, seorang debitur pemilik pabrik memiliki plafon pinjaman Rp 800 miliar.  Kemudian debitur tersebut baru mencairkan Rp 600 miliar. Ternyata kapasitas perusahaan tidak sesuai harapan karena kondisi permintaan yang masih lemah. "Daripada kena beban bunga, lebih baik dia menurunkan plafon kredit," kata Anto.

Wimboh mengakui bahwa kredit komersial saat ini relatif belum bergerak karena permintaan lemah. Karena itu, yang menjadi mesin pertumbuhan kredit adalah kredit-kredit program, yang mayoritas dijalankan oleh bank-bank BUMN anggota Himbara dan Bank Pembangunan Daerah.

"Karena itulah, kredit yang masih positif  adalah kredit bank BUMN dan BPD. Kredit bank BUMN tumbuh 0,97%  year on year, sedangkan BPD tumbuh 5,6%. Adapun kredit bank swasta yang umumnya komersial kontraksi 7,47%. Kredit cabang bank asing apalagi, lebih minus," kata Wimboh.

Wimboh menegaskan, dalam kondisi seperti sekarang, kredit memang harus distimulasi oleh pemerintah. Makanya kredit usaha rakyat (KUR) mendapat subsidi besar, 6% plus  tambahan 3% karena kondisi Covid. Tahun ini, total KUR yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 250 triliun, naik dari kuota tahun lalu Rp 190 triliun.

"Dengan bunga semurah itu karena subsidi, gimana nggak rebutan. Tapi nggak apa-apa, kita harapkan KUR dan kredit-kredit program ini bisa mengangkat atau berdampak positif ke kredit komersial," ungkap Wimboh.

Wimboh menyebutkan, kredit komersial dan kredit besar memang tidak mendapat subsidi. Skema yang diberlakukan adalah penjaminan dan restrukturisasi, yang dapat menumbuhkan peluang mendongkrak kredit baru.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN