Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pemerintah Harus Percepat Belanja Infrastruktur

Jumat, 19 Juni 2015 | 10:53 WIB
Oleh Margye J Waisapy dan Agustiyanti

Senada, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual mengatakan, kebijakan moneter melalui BI Rate tak cukup mampu menahan hot money dalam kondisi seperti saat ini yang mana ada kecenderungan seluruh emerging market bergejolak karena utang Yunani dan The Fed yang akan menaikkan suku bunga, sehingga aset berbasis dolar AS akan terus diburu.


“Agar hot money bisa ditahan caranya adalah dengan mempercepat reformasi birokrasi agar iklim bisnis membaik, terutama dari sisi perizinan. Dengan cara ini, maka arus investasi langsung juga akan masuk, karena bisnis menajdi menarik,” kata dia.


Upaya lain, kata David, pemerintah harus mempercepat belanja infrastruktur. Ada kecenderungan belanja infrastruktur belum maksimal karena tidak juga tuntasnya reformasi stuktural, sejumlah kementerian masih berbenah diri dengan melantik sejumlah pejabat hasil lelangnya.


“Jadi, untuk menahan hot money, kebijakan moneter harus diimbangi dengan menggenjot investasi langsung. Karena bagaimanapun untuk mengandalkan ekspor juga sulit karena tergantung pada harga komoditas yang sekarang sedang melempem,” kata dia.


Namun, David optimistis dengan konsistensi pemerintah yang mengutamakan BUMN dalam pembangunan infrastruktur, itu bisa mempercepat belanja atau penyerapan anggaran. “Ini menjadi semacam capital injection. Satu lagi, tender kalau bisa dipercepat, Desember sudah tuntas, atau Januari-Februari lelang selesai agar penyerapan cepat jalan,” kata dia.


Lucky Bayu Purnama juga berpendapat, penepatan BI rate sebesar 7,5% hanya akan menahan dana investor asing tetap bertahan di pasar modal Indonesia, tapi tidak akan mendongkrak jumlahnya. Sebab, selama BI rate masih tinggi maka pasar uang akan lebih dominan dibandingkan pasar modal. Hal tersebut terjadi karena investor asing memilih menyimpan dananya di bank dengan bunga tinggi dibandingkan dengan di pasar modal.


“Jika pemerintah ingin menarik dana asing ke pasar modal, maka BI rate seharusnya dapat diturunkan. Penurunan suku bunga akan meningkatkan keyakinan investor asing terhadap pasar modal Indonesia. (ID/gor)


Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/home/bi-sistem-keuangan-solid/119659

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN