Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Layanan Transfer for Payment PT Artajasa

Layanan Transfer for Payment PT Artajasa

Perlu Efisiensi, Biaya Sistem Pembayaran Masih Mahal

Rabu, 12 Februari 2020 | 09:19 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Artajasa Pembayaran Elektronis Tbk (Artajasa) mencatat biaya sistem pembayaran di negara maju berkisar antara 1-1,5% dari produk domestik bruto (PDB). Namun, di Indonesia tercatat masih lebih mahal karena infrastruktur yang belum ideal dan belum efisien, sehingga diperlukan efisiensi untuk menekan biaya sistem pembayaran.

Direktur Utama Artajasa Bayu Hanantasena mengungkapkan, perlu ada efisiensi untuk membuat biaya sistem pembayaran lebih murah. Di 14 negara maju, biaya sistem pembayaran tergolong murah. "Kalau di Indonesia yang memiliki karakteristik negara kepulauan serta infrastruktur yang belum ideal, maka estimasi biaya transaksi dari sistem pembayaran Indonesia melampaui angka itu, efisiensi diperlukan untuk tekan cost," ungkap Bayu di Jakarta, Selasa (11/2).

Oleh karena itu, sejumlah terobosan diperlukan termasuk mengalihkan bentuk-bentuk pembayaran tunai ke dalam ekosistem. "Peningkatan penggunaan pembayaran elektronik akan berakibat pada turunnya biaya transaksi, sehingga perekonomian akan efisien. Peningkatan transaksi elektronik akan mendorong pertumbuhan ekonomi serta menurunkan angka inflasi agar tetap rendah," imbuh dia.

Pihaknya juga mengungkapkan, adanya peningkatan layanan kepada nasabah juga dengan mendukung digitalisasi penuh melalui layanan perbankan dapat meningkatkan pendapatan bunga serta pendapatan berbasis komisi (fee based income).

Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta menjelaskan, penetapan biaya merchant discount rate (MDR) untuk penggunaan Quick Response Indonesia Standard (QRIS) sebesar 0,7% untuk pembayaran reguler transaksi on us maupun off us disebut sudah disetujui dari industri melalui Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Pihaknya menyebut, merchant yang berupa usaha mikro dan kecil dibebaskan dari biaya tersebut sehingga tidak merasa terbebani dari tarif tersebut yang disebut masih mahal.

"Untuk UMKM kan sekarang masih dibebaskan dari MDR, itu yang mempengaruhi biaya MDR dari tiga hal, teknologi, perubahan model bisnis dan kebijakan otoritasnya. Tapi untuk pedagang mikro dan kecil dibebaskan dari 0,7%, kemungkinan itu akan diperpanjang dari teman-teman di industri supaya orang jadi terbiasa pakai nontunai," terang Fili.

Fili menyebut, memang tidak ada yang merasa senang dari MDR tersebut, bagi penyelenggara sistem pembayaran menginginkan MDR setinggi-tingginya untuk mendapat fee, sebaliknya, merchant maupun pengguna menginginkan MDR semurah mungkin. "Makanya dicari jalan keluarnya, dan kesepakatannya 0,7%," ujar dia.

baca selengkapnya di https://subscribe.investor.id

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN