Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi Gedung HSBC. ( Foto:  AFP Photo/Ozan Kose )

Foto ilustrasi Gedung HSBC. ( Foto: AFP Photo/Ozan Kose )

Perusahaan Indonesia Paling Optimis terhadap Prospek Bisnis

Happy Amanda Amalia, Selasa, 5 November 2019 | 16:11 WIB

JAKARTA, investor.id – Perusahaan di Indonesia memiliki pandangan yang lebih optimis ketimbang perusahaan di kancah dunia, termasuk di wilayah Asia. Optimisme tersebut menyangkut prospek bisnis jangka pendek, menengah dan panjang. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa sejumlah kebijakan ekonomi makro yang diambil pemerintah akan semakin memperkuat konsumsi domestik dan investasi. Demikian kesimpulan yang diperoleh dari survei terbaru HSBC.

Menurut survei HSBC yang bertajuk 'Navigator: Now, next and how' yang mengukur sentimen dan harapan dunia bisnis di 35 pasar di seluruh dunia, “Para pebisnis di Indonesia memperlihatkan rasa optimisme yang sangat besar, dengan tingkat kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi dibanding perusahaan-perusahaan lain di seluruh dunia termasuk di wilayah Asia,” ujar Deputi Direktur, Commercial Banking PT Bank HSBC Indonesia Anurag Saigal, dalam keterangan pers yang diterima Investor Daily  pada Selasa (5/11).

Navigator merangkum hasil survei komprehensif terhadap 9.131 perusahaan dari enam wilayah berbeda dan merupakan bagian dari serangkaian laporan 'Navigator' yang dipublikasikan oleh HSBC untuk mengetahui sentimen dan melihat masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan di seluruh dunia.

Survei ini juga mencoba melihat rencana investasi para pebisnis, bagaimana mereka mengambil keputusan-keputusan penting, melakukan berbagai perubahan, serta mengembangkan bisnis. Disebutkan terdapat sebanyak 150 perusahaan dari Indonesia menjadi bagian dari sampel penelitian ini.

Ada pun kriteria yang ditetapkan HSBC untuk pengambilan sampel, yaitu perusahaan dengan omset minimal US$1,75 juta dan batas korporasi sebesar US$16,5 juta. Sedangkan para responden merupakan para pengambil keputusan kunci, dan mereka yang memiliki pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan di perusahaan.

Indonesia Menjadi Pusat Perhatian

Satu temuan penting dari survei ini adalah lebih dari setengah perusahaan Indonesia yang disurvei termasuk dalam kategori 'Navigator', yang berarti mereka mengharapkan penjualan tumbuh sebesar 15 persen atau lebih pada tahun berikutnya. Responden Indonesia juga merasa percaya diri atas prospek bisnis masa depan mereka, dimana sembilan dari sepuluh perusahaan Indonesia optimis tentang pertumbuhan, dibandingkan dengan setahun lalu.

“Optimisme di Indonesia berada di atas rata-rata Asia Pasifik, negara yang mendekati tingkat optimisme Indonesia adalah Bangladesh dengan 74% dan India dengan 72%. Navigator juga menunjukkan bahwa para pengambil keputusan dari perusahaan Indonesia optimis terhadap prospek jangka pendek, menengah dan panjang. Responden dari negara kepulauan memiliki prospek positif untuk tahun depan, juga untuk 5 tahun ke depan. Mereka juga lebih optimis tentang pertumbuhan mereka dalam 12 bulan terakhir, level yang jauh di atas rata-rata global,” jelas Anurag.

Masih dari laporan survei“HSBC Navigator: Now, Next and How” yang menyebutkan, bahwa tahun depan, terdapat lebih dari setengah bisnis yang disurvei (54%) memperkirakan penjualan mereka tumbuh 15% atau lebih, yang jauh lebih tinggi daripada rata-rata global (22%) dan Asia Pasifik (19%).

“Bisnis Indonesia adalah yang paling optimis di 35 pasar. Bangladesh adalah yang terdekat, dengan 50% perusahaan di Bangladesh mengharapkan pertumbuhan penjualan 15% atau lebih,” kata Anurag.

Selain itu, dalam jangka waktu lima tahun, proporsi bisnis di Indonesia yang mengharapkan penjualan tumbuh 15% atau lebih mencapai 61%.

Menavigasi Perlawanan Arus Global

Hasil survei juga mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan Indonesia yang diperkirakan bertumbuh dalam waktu dekat (tahun depan) kemungkinan akan didorong oleh gabungan peningkatan fokus pada keberlanjutan, serta pemasok (supplier) dan bahan baku (raw materials) berkualitas tinggi yang disokong oleh tenaga kerja yang terampil untuk meningkatkan produktivitas dan pengembangan bisnis dengan pembukaan pasar baru dan pengenalan produk/layanan baru.

Indonesia, negara terpadat keempat di dunia, telah menjadi ekonomi dengan pertumbuhan pesat selama kurang lebih satu dekade terakhir ini, dimana pertumbuhan setiap tahunannya mencapai sekitar 5 persen sejak 2015. Para pembuat keputusan dalam perusahaan yang disurvei percaya bahwa tahun depan sepertinya masih menjadi tahun pertumbuhan bagi Indonesia, karena kebijakan ekonomi makro yang bijak dengan memegang prinsip keberhati-hatian (prudent) semakin memperkuat konsumsi domestik dan masuknya aliran investasi.

“Melawan arus global sepertinya terdengar ambisius, tetapi masa depan di depan mata terlihat cerah. Strategi utama bagi bisnis di Indonesia untuk menghadapi ancaman bisnis yang mungkin terjadi, difokuskan pada peningkatan portofolio melalui berbagai cara. Hampir setengah (48%) dari perusahaan yang disurvei menyebutkan bahwa mereka meningkatan kualitas produk atau layanan. Selanjutnya, sekitar 26% melalui investasi untuk inovasi. Selain itu, penggunaan bahan baku dan pemasok dengan kualitas lebih baik (25%), dan perluasan platform dan saluran digital merupakan strategi kunci lainnya,” ujar Country Head, Global Trade and Receivable Finance PT Bank HSBC Indonesia, Dandy Pandi.

Sekitar 30% perusahaan juga menyebutkan bahwa ekspansi ke pasar-pasar baru adalah kunci strategi perluasan mereka.

Pandangan Mengenai Perdagangan Internasional, Proteksionisme

Survei tersebut juga melampirkan pandangan warga dunia tentang perdagangan internasional. Hampir semua kalangan bisnis (97%) mengharapkan prospek bagus untuk bisnis internasional dan 45% merasa sangat positif akan hal ini.

Survei ini juga merinci bahwa responden dari Indonesia lebih bersemangat ketika ditanya apakah perdagangan internasional akan mendatangkan kesempatan bisnis untuk lima tahun ke depan (Indonesia 96%, dunia 79%), menghadirkan inovasi (Indonesia 95%, dunia 80%), meningkatkan pendapatan (Indonesia 96%, dunia 70%), efisiensi (Indonesia 94%, dunia 78%), dan mendukung ketenagakerjaan (Indonesia 94%, dunia 73%).

“Hasil tersebut umumnya lebih tinggi daripada persentase global. Manfaat yang diharapkan di Indonesia beragam, mulai dari manfaat langsung (kesempatan baru dan efisiensi), manfaat untuk pekerja (pendapatan dan perekrutan kerja) serta manfaat bagi konsumen (inovasi),” kata Dandy.

Satu fakta baru yang menarik dari survei ini yaitu dunia bisnis di Indonesia merasa bahwa proteksionisme semakin marak di negara tempat mereka melakukan aktivitas bisnis. Survei juga mengungkapkan bahwa mayoritas dari para responden berpendapat bahwa hal ini (proteksionisme) lebih memberikan keuntungan. Kalangan bisnis mengatasi dampak proteksionisme dengan berfokus pada kanal digital, pemangkasan biaya, mengubah portofolio, dan mengambil (bahan baku) dari pemasok lokal.

Navigator juga mengungkapkan bahwa lebih dari 85% kalangan bisnis di Indonesia memandang bahwa proteksionisme sedang marak. Angka pertumbuhannya cukup signifikan per tahun dari 55% pada 2017 sampai hampir tiga perempatnya (71%) pada 2018.

Saran untuk Dunia Bisnis

Dengan pergeseran yang terjadi di tingkat regional dan domestik, semakin banyak perusahaan bergerak menuju era teknologi digital dan menciptakan ekosistem untuk mendukung perubahan itu. Sangat penting agar pebisnis di Indonesia mengikuti perkembangan zaman dengan menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi operasional, meningkatkan penjualan, dan menemukan mitra strategis yang tepat.

Perusahaan-perusahaan juga dapat fokus pada penjualan daring (online). Menurut Navigator, 40% perusahaan melihat metode ini sebagai cara untuk menangkal proteksionisme dan 34% menggunakannya sebagai strategi untuk mengurangi risiko geopolitik.

“Iklim politik global saat ini juga mengharuskan perusahaan menilai kekuatan dan keandalan rantai pasokan mereka. Mengamankan pasokan bahan baku dan energi adalah kuncinya,” demikian pendapat Dandy.

Perusahaan di Indonesia harus memperhatikan seruan keberlanjutan dari dunia internasional, kompetitor, dan investor, karena pada akhirnya hal ini akan memberikan keuntungan jangka panjang bagi perusahaan. Selain itu, perusahaan harus fokus pada keuangan, berinvestasi lebih banyak di sektor teknologi, serta mengembangkan kerangka kerja berkelanjutan. Navigator juga menyarankan sektor manufaktur Indonesia untuk fokus pada rantai pasokan yang dapat dilacak (traceable supply chain).


 

Sumber : PR

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA