Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah melakukan transaksi di mesin Anjungan Tunai mandiri (ATM) di Jakarta, Jumat (12/6/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan transaksi di mesin Anjungan Tunai mandiri (ATM) di Jakarta, Jumat (12/6/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

PSBB Jakarta Dinilai Tak Berdampak Signifikan Bagi Perbankan

Senin, 14 September 2020 | 10:06 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Sejumlah bankir menilai penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) total di DKI Jakarta tidak terlalu berdampak signifikan terhadap kredit perbankan pada semester kedua ini karena tidak dilakukan secara nasional. Masyarakat pun diharapkan lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan sehingga PSBB tidak diperpanjang.

Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Hery Gunardi mengungkapkan, perseroan masih menunggu aturan detail dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengenai PSBB total. Namun, karena sebelumnya sudah menjalani PSBB yang lebih luas, Bank Mandiri sudah siap menjalankan bisnisnya di tengah pembatasan di Jakarta. Pihaknya juga memperkirakan dampak dari penerapan aturan tersebut tidak besar terhadap kinerja perseroan.

"Harusnya tidak (berdampak terlalu besar) ya, karena kali ini PSBB hanya di Jakarta," kata Hery kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Di sisi lain, Hery juga mengatakan telah menerapkan protokol kesehatan sejak dilakukan PSBB pertama kali. Menurut dia, kali ini bank sudah memiliki bekal dari pengalaman sebelumnya. "Berdasarkan pengalaman PSBB bulan Maret lalu, kami sudah memiliki protokol baku untuk melakukan penyesuaian secara gradual, baik dari sisi operasional cabang maupun mobilisasi karyawan untuk mengantisipasi aturan yang akan berlaku," terang Hery.

Dihubungi terpisah, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menuturkan, bagi debitur khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sudah melakukan digitalisasi setelah belajar dari PSBB sebelumnya, maka diharapkan sudah siap apabila PSBB Jakarta diterapkan. "Masalah utama bahwa kalau toko, pasar, mal ditutup tidak bisa jualan, jadi harus cari alternatif," imbuh Jahja.

Sedangkan, apabila pengusaha masih mengandalkan aktivitas fisik tanpa alternatif seperti penjualan melalui digital, tetap akan kesulitan dengan adanya PSBB total di Jakarta. "Nah ini tergantung masing-masing nasabah, cuma yang tadinya mulai menggeliat bisa susah lagi," tutur Jahja.

Jahja juga mengaku akan menyesuaikan operasional kantor cabang yang berada di pusat perbelanjaan apabila ditutup. "Kalau sudah ada mungkin disesuaikan, misalnya mal harus tutup, ya cabang kita ikut tutup yang di mal," sambung dia.

Selain itu, Direktur Bisnis Mikro PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Supari mengungkapkan, para pelaku usaha mikro saat ini sudah banyak belajar dengan adanya pandemi Covid-19 yang membuat aktivitas ekonomi ditutup selama PSBB. Pengusaha mikro dianggap memiliki pengalaman dan sudah mengantisipasinya untuk PSBB total di DKI Jakarta, sehingga dampaknya tidak akan signifikan terhadap kinerja kredit BRI.

Berdasarkan rencana bisnis bank (RBB) pertumbuhan kredit BRI tahun ini sekitar 4% (yoy), segmen mikro masih akan menjadi penopang pertumbuhan kredit perseroan. Terlebih lagi para debitur cukup optimistis menghadapi PSBB kedua di DKI Jakarta.

"Penerapan PSBB dampaknya ada, tapi kalau saya lagi di lapangan, lihat aktivitas ekonomi tetap berjalan, tidak seperti April-Mei, karena mereka sudah banyak belajar dari PSBB pertama sehingga cepat menyesuaikan. Kredit tumbuh 4%, disumbang besar dari mikro yang kira-kira tumbuh 8-9%," jelas Supari.

Pengamat perbankan Paul Sutaryono mengatakan, dampak penerapan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 88/2020 tentang PSBB di DKI Jakarta tentu akan kembali menurunkan permintaan kredit yang sudah mulai meningkat.

"Tentu saja, aturan itu akan semakin menekan gairah bisnis yang baru mulai, akibatnya, permintaan kredit makin menipis. Saya khawatir sebagian restrukturisasi kredit terancam tak berhasil. Hal itu berakibat final pada potensi penebalan NPL (non performing loan)," jelas Paul.

Seperti data OJK per Juli kredit tumbuh 1,53% (yoy) dibandingkan Juni yang hanya 1,49% (yoy). Meski demikian sebagian bank besar tidak akan mengubah target bisnisnya karena diperkirakan dampak PSBB Jakarta tidak terlalu besar terhadap total kredit.

Editor : Trimurti (trimurti@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN