Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Rupiah Pekan Ini di Kisaran Sempit Rp 8.660-8.670

Selasa, 19 April 2011 | 10:48 WIB
Antara

JAKARTA - Pengamat pasar uang, Irfan Kurniawan memperkirakan rupiah sepanjang pekan ini akan berada dalam kisaran sempit antara Rp 8.660 hingga Rp 8.670 per dolar, karena lesunya faktor pendukung pasar dari eksternal.

“Pasar regional yang melemah, akibat merosotnya saham-saham di Wall Street, setelah Standard & Poors memperingatkan utang Amerika Serikat mengakibatkan pelaku pasar lebih hati-hati untuk masuk ke pasar domestik,” kata Irfan di Jakarta, Selasa.

Irfan Kurniawan, yang juga analis PT First Asia Capital itu mengatakan, posisi rupiah saat ini sebenarnya cukup stabil, setelah mengalami kenaikan cukup berarti.

Kenaikan rupiah hingga jauh di bawah level Rp 9.000 per dolar mendorong pemerintah untuk merevisi target rupiah yang berdasar asumsi makro ekonomi Indonesia semula ditetapkan Rp 9.250 per dolar.

“Penguatan rupiah yang terlalu cepat kurang menguntungkan karena akan menekan pendapatan negara, meski pemerintah menyatakan kenaikan rupiah mendukung anggaran terhadap subsidi bahan bakar minyak,” katanya.

Menurut dia, penguatan rupiah itu sebenarnya menjadi dilema, di suatu sisi menguntungkan anggaran pemerintah terhadap subsidi BBM, namun pendapatan pemerintah dari ekspor akan berkurang.

Ia mengatakan, faktor positif di pasar masih tetap ada terhadap rupiah, karena peluang untuk kembali naik juga cukup besar. Namun pasar tertekan karena aksi intervensi Bank Indonesia (BI) agar rupiah tidak berlanjut menguat.

Rupiah sebelumnya sempat berada di bawah angka Rp 8.660, namun tidak bertahan lama karena aksi lepas di pasar muncul. Hal ini juga merupakan keinginan BI terhadap rupiah agar tidak terus bergerak naik, karena BI juga mempunyai kepentingan terhadap dolar AS.

Koreksi terhadap rupiah, lanjut Irfan, sebenarnya tidak menjadi masalah, posisi rupiah cenderung stabil sesuai keinginan pelaku pasar. “Apabila rupiah mengalami fluktuasi, maka para eksportir akan kesulitan memperhitungkan harga penjualan produk mereka,” ucapnya.

Pelaku pasar, menurut Irfan, saat ini sedang menunggu data ekonomi AS yang akan keluar pekan depan.  (gor/ant)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN