Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional. Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan Nasional. Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

LABA BANK ASING TUMBUH SIGNIFIKAN

September, Perbankan Cetak Laba Rp 117,59 Triliun

Nida Sahara/Thomas Harefa, Minggu, 1 Desember 2019 | 12:34 WIB

JAKARTA, investor.id  – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat industri perbankan mencetak laba bersih Rp 117,59 triliun sampai dengan September 2019, tumbuh 6,64% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 110,26 triliun. Pertumbuhan laba bersih tersebut terutama ditopang oleh penyaluran kredit perbankan yang tumbuh 7,89% secara tahunan (year on year/yoy).

“Laba perbankan itu didorong dari kredit, utamanya dari kredit investasi yang tumbuh double digit. Ke depan diharapkan trennya masih positif untuk laba perbankan,” ungkap Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo di Jakarta, Jumat (29/11).

ojk
OJK. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Sedangkan terkait proyeksi pertumbuhan laba industri perbankan tahun depan, Slamet enggan menyebutkan. Pasalnya, perbankan baru akan menyampaikan rencana bisnis bank (RBB) tahun 2020 pada akhir November ini.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia periode September 2019 yang dipublikasi OJK, realisasi perolehan laba bersih tersebut dikontribusi oleh 110 bank umum. Jumlah bank tersebut menyusut dibandingkan September 2018 yang sebanyak 115 bank.

Outstanding penyaluran kredit perbankan sampai September 2019 mencapai Rp 5.524,19 triliun atau tumbuh 7,89% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 5.120,09 triliun. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 5.891,92 triliun atau tumbuh 7,46% dibandingkan September tahun lalu Rp 5.482,93 triliun. Sementara itu, total aset tumbuh 7,07% dari Rp 7.768,83 triliun menjadi Rp 8.318,28 triliun.

Indikator rasio keuangan menunjukkan, capital adequacy ratio (CAR) per September 2019 berada di level 23,28% atau naik dibandingkan September tahun lalu 22,91%. Return on asset (ROA) di level 2,48% atau turun dibandingkan September 2018 di level 2,50%. Net interest margin (NIM) menurun dari 5,14% pada September 2018 menjadi 4,90%. Loan to deposit ratio (LDR) cenderung sama yakni 94,34% per September 2019 dibandingkan periode sama tahun lalu 94,09%.

Sedangkan beban operasional terhadap pendapatan  operasionl (BOPO) di level 80,50% atau naik dibandingkan September tahun lalu 79,13%. Data OJK juga menunjukkan, hingga September 2019 kelompok bank asing mencatatkan pertumbuhan laba tertinggi sebesar 52,41% dari Rp 5,80 triliun pada September 2018 menjadi Rp 8,84 triliun.

Kelompok bank umum swasta nasional (BUSN) nondevisa mencetak laba Rp 1,50 triliun atau tumbuh 14,50% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 1,31 triliun. Peringkat ketiga untuk pertumbuhan laba bersih diraih kelompok BUSN devisa sebesar 9,63% dari Rp 36,97 triliun menjadi Rp 40,53 triliun.

Kelompok bank persero mencatatkan laba bersih Rp 56,10 triliun atau tumbuh 4,53% dibandingkan September tahun lalu Rp 53,67 triliun.

Sementara itu, kelompok bank pembangunan daerah (BPD) mencatatkan penurunan pertumbuhan laba bersih 10,53% dari Rp 10,07 triliun menjadi Rp 9,01 triliun. Demikian juga kelompok bank campuran membukukan penurunan laba 34,02% menjadi Rp 1,61 triliun dibandingkan September 2018 sebesar Rp 2,44 triliun.

Kredit Melambat, NPL Naik

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Sementara itu, OJK mencatat, sampai dengan Oktober 2019 penyaluran kredit industri perbankan hanya tumbuh 6,53% (yoy). Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan dengan kredit per September 2019 yang meningkat 7,89% (yoy). Edy mengakui, perlambatan kredit tersebut karena permintaan yang juga melambat.

“Pertumbuhan kredit per Oktober itu masih ditopang oleh kredit investasi yang tetap tumbuh dua digit di level 11,2% (yoy). Sedangkan kredit sektoral yang turun itu adalah tambang dan konstruksi. Pertambangan dan penggalian kalau dibandingkan tahun sebelumnya turun Rp 5 triliun atau minus 4% (yoy) per Oktober,” jelas Edy.

Dia mengungkapkan, supply chain sektor tersebut masih belum bangkit, dari harga yang naik dapat berpengaruh jika transportasi terganggu tidak bisa meningkatkan ekspor atau produksinya. Selain itu, sektor perantara keuangan mengalami penurunan penyaluran kredit dari Rp 24 triliun pada tahun lalu menjadi hanya Rp 22 triliun pada Oktober 2019.

“Sektor yang tertekan masih tambang, kalau yang lain meningkat,” ungkap dia.

Perlambatan kredit tersebut juga sejalan dengan kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) industri perbankan pada September 2019 di posisi 2,66%, naik menjadi 2,73% per Oktober 2019.

Menurut Edy, kenaikan NPL tersebut merupakan dampak dari industry pengolahan yang mengalami kredit macet di perbankan. Salah satunya disebabkan oleh Duniatex Grup yang menyumbang NPL di perbankan.

“Di industri pengolahan itu kena dampak dari Duniatex, bukan hanya tekstil di hilirnya, tapi di hulunya juga kena,” terang Edy.

Industri pengolahan mengalami kenaikan NPL dari posisi 2,52% per Desember 2018 menjadi 4,14% per Oktober 2019. Hal tersebut karena total utang Duniatex sebesar Rp 22 triliun kepada perbankan dan nonbank dan diperkirakan masih ada kemungkinan bertambah karena kreditur masih mendaftarkan tagihannya di Penundaan Kewajiban dan Pembayaran Utang (PKPU).

Selain industri pengolahan, sektor perdagangan juga mengalami kenaikan di sisi NPL, tercatat NPL Desember 2018 berada di posisi 3,57%, sampai Oktober 2019 naik ke level 3,92%.

Suku Bunga Kredit

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sebelumnya meminta industri perbankan mempercepat penurunan suku bunga kreditnya, karena sudah dilonggarkan likuiditasnya dengan penurunan giro wajib minimum (GWM) 100 basis poin (bps) dan pelonggaran rasio intermediasi makroprudensial (RIM) menjadi 84-94%.

“Kredit tahun ini terbatas, tapi akan meningkat tahun 2020 dengan suku bunga kredit yang turun dan prospek ekonomi akan semakin baik. Kami ajak bank untuk menurunkan bunga kredit yang masih sedikit dibandingkan bunga simpanan,” jelas Perry di Jakarta, Kamis (28/11) malam.

Perry juga mengungkapkan, dengan perbankan menurunkan suku bunga kredit. BI juga mendorong korporasi untuk meningkatkan produksi dan investasi. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi akan lebih baik lagi tahun depan.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengakui, ke depan pihaknya masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga pinjaman. Menurut dia, suku bunga kredit juga akan mengikuti tren di pasar.

Jahja Setiaatmadja.
Jahja Setiaatmadja.

“Kami pada bulan Desember untuk suku bunga kredit tertinggi akan turun 0,25%, kalau tahun depan ya lihat situasi. Kalau Fed dan BI turun berapa, akan kami ikuti,” ungkap Jahja ketika dihubungi Investor Daily, Jumat (29/11).

Jahja menuturkan, diharapkan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh kabinet yang baru akan lebih ramah terhadap pasar, sehingga prospek ke depan akan semakin baik dan mendorong dari sisi permintaan kredit di sektor riil.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Mayapada International Tbk Hariyono Tjahjarijadi juga mengakui, pihaknya akan secara bertahap menurunkan suku bunga kredit. Namun, yang penting adalah mendorong  sektor riil untuk berinvestasi dan meningkatkan produksi.

Direktur Utama Bank Mayapada Internasional Hariyono Tjahjarijadi. Foto: youtube.com
Direktur Utama Bank Mayapada Internasional Hariyono Tjahjarijadi. Foto: youtube.com

Menurut dia, percuma jika perbankan menurunkan suku bunga kredit namun tidak ada permintaan dari sektor riil. “Apa yang disampaikan Pak Perry sudah betul sekali dan dari sisi perbankan, kami juga sudah terus secara bertahap menurunkan suku bunga, yang penting sekarang bagaimana menstimulasi sektor riil supaya juga bergerak,” papar Hariyono.

Menurut dia, untuk bisa menstimulasi sektor riil agar mulai produksi dan investasi antara lain dengan meningkatkan daya beli masyarakat dan meningkatkan konsumsi masyarakat. Apabila masyarakat mulai berkonsumsi, ekonomi akan berjalan, dan perbankan juga bisa menyalurkan kreditnya dengan murah.

Vice President Director Bank Danamon Michellina Triwardhany PT Bank Danamon Indonesia Tbk juga menilai, setiap penurunan suku bunga acuan dari BI tentu membawa sentimen positif bagi para pelaku usaha. Perseroan turut merespons dengan mulai menurunkan suku bunga kredit di berbagai segmen, salah satunya pada kredit investasi.

Bank Danamon. Foto: IST
Bank Danamon. Foto: IST

“Suku bunga kredit investasi itu ada pergerakan sedikit. Itu dipengaruhi customer by customer. Suku bunga sektor itu (turun) sekitar 25-50 basis poin. Tapi ada customer yang sudah rendah sekali, ada yang masih bisa (potensi turun) juga,” ujar dia.

Menurut Michellina, penyesuaian suku bunga kredit memang butuh waktu lebih untuk merespons kebijakan dari BI tersebut. Namun, lain hal untuk dana pihak ketiga (DPK) yang dapat direspons lebih cepat. Meski begitu, perseroan terus berupaya bisa tetap atraktif dalam kompetitif.

“Sebenarnya dari segi bunga acuan sekali pun naik, bunga kredit naiknya sedikit. Begitu juga kalau turun, sedikit juga turunnya,” kata Michellina.

Di sisi lain, CFO Bank Danamon Moeljono Tjandra menyebutkan, tahun 2020 masih akan cukup menantang bagi industri perbankan. Kendati demikian, pihaknya memproyeksi akan bergerak lebih agresif. Apalagi, sambung dia, kehadiran MUFG Bank memungkinkan Bank Danamon lebih ekspansif dalam mengakses nasabah korporasi. Begitu juga penggabungan dengan Bank BNP.

“Aksi-aksi korporasi sudah kami lalui, tinggal kita bertumbuh saja tahun depan,” kata dia. (c04)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA