Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi uang rupiah/David Gitaroza/Investor Daily

Foto ilustrasi uang rupiah/David Gitaroza/Investor Daily

Soliditas Perbankan Dorong Optimisme Recovery Ekonomi

Jumat, 20 November 2020 | 15:08 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id – Di tengah resesi ekonomi, sektor jasa keuangan menunjukkan kinerja solid. Perbankan yang menjadi jangkar sektor keuangan bahkan menunjukkan likuiditas yang lebih kuat. Hal ini merupakan hasil nyata efektifnya concerted effort atau kolaborasi yang baik antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Ekonom Senior dari The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip mengatakan, saat ini industri perbankan memiliki likuiditas yang sangat kuat. Kondisi ini sangat berbeda dengan krisis 1998 di mana perbankan nasional mengalami kekeringan likuiditas dan pasar uang antarbank sangat ramai, bahkan bunga yang ditetapkan cukup tinggi.

"Ini menunjukkan kebijakan pre-emptive dan pengawasan industri perbankan sudah dijalankan dengan baik oleh OJK. Meski di sisi lain, penyaluran kredit perbankan baru tumbuh tipis, sehingga harus terus didorong," kata Sunarsip, Jumat (20/11).

Menurut Sunarsip, soliditas sektor perbankan ini bisa memberikan rasa confidence bagi pelaku usaha, regulator, maupun pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi nasional. Kekuatan likuiditas perbankan ini tercermin dari rasio alat likuid terhadap non core deposit (AL/NCD) dan alat likuid terhadap pihak ketiga (AL/DPK).

Mengutip data OJK, per Oktober 2020, rasio AL/NCD di posisi di level 154,14% dan AL/DPK 32,94%. Posisi ini meningkat dari periode Maret 2020 ketika Indonesia memasuki awal pandemi, di mana AL/NCD di posisi 112,9% dan AL/DPK 24,16%. Sementara, batas bawah yang ditetapkan adalah di level 50% untuk AL/NCD dan AL/DPK 10%. Artinya, likuiditas perbankan saat ini memang sangat kuat.

Sunarsip menjelaskan, kekuatan likuiditas perbankan tersebut akan bisa lebih efektif me-leverage pemulihan ekonomi jika bisa dimanifestasikan dalam bentuk penyaluran kredit untuk menggerakkan sektor riil. "Ini menjadi tugas bersama pemerintah selaku otoritas fiskal, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, serta OJK yang bertanggung jawab terhadap kebijakan mikroprudensial dalam hubungannya dengan industri perbankan," jelas dia.

Karenanya, berbagai pelonggaran diperlukan agar kegiatan penyaluran kredit bisa kembali seperti semula. Semakin besar penyaluran kredit, recovery ekonomi nasional juga akan semakin cepat.

"Kita lihat pertumbuhan kredit bank selama pandemi ini masih di kisaran 1%. Hal ini berkorelasi terhadap perekonomian nasional yang pada kuartal III terkontraksi sekitar 3%. Jika kredit didorong, pertumbuhan ekonomi akan ikut terangkat," terang Sunarsip.

Menurut Sunarsip, dalam kaitannya dengan mendorong penyaluran kredit perbankan, meskipun perlu relaksasi sejumlah kebijakan, pengawasan harus tetap dilakukan secara maksimal. "Dalam hal ini, posisi OJK sangat strategis. Selain menyelaraskan kebijakan mikroprudensial agar bisa mendorong bergeraknya sektor riil, juga menjalankan peran pengawasan perbankan secara efektif," kata dia.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN