Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
OJK

OJK

Terbesar Sepanjang Sejarah, Restrukturisasi Kredit Capai Rp 932,6 Triliun

Jumat, 20 November 2020 | 18:53 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuanga (OJK) mencatat, 100 bank telah mengimplementasikan kebijakan restrukturisasi kredit kepada debitur terdampak Covid-19. Hingga 26 Oktober 2020, outstanding restrukturisasi mencapai Rp 932,6 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, OJK sejak awal sudah memberikan kebijakan yang membantu baik dari sisi perbankan maupun dari sektor riil agar bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19. Untuk itu, dikeluarkan Peraturan OJK (POJK) Nomor 11 Tahun 2020 terkait Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Corona Virus Disease 2019.

"Total nasional ada 7,53 juta debitur yang diberi relaksasi dengan outstanding sangat besar Rp 932,6 triliun. Saya kira ini paling besar sepanjang sejarah," ucap Heru dalam webinar bertajuk Manfaat Perpanjangan Relaksasi Restrukturisasi Kredit Bagi Pemulihan Ekonomi, Jumat (20/11).

Heru Kristiyana. Foto: IST
Heru Kristiyana. Foto: IST

Heru memaparkan, dari jumlah kredit yang direstrukturisasi tersebut juga diberikan oleh debitur usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang merupakan kelompok paling terdampak Covid-19. Sampai 26 Oktober 2020, sebanyak 5,84 juta debitur UMKM telah menerima relaksasi dengan baki debet Rp 369,8 triliun. Sementara, debitur non UMKM sebanyak 1,69 juta dengan baki debet Rp 562,55 triliun

"Dengan angka-angka yang besar ini, mudah-mudahan restrukturisasi memberikan ruang yang baik untuk bank menata cash flow dan debitur menata diri supaya nanti bisa memenuhi kewajibannya kepada bank," sambung Heru.

OJK juga telah mengumumkan untuk memperpanjang program restrukturisasi kredit, dari awalnya sampai Maret 2021 menjadi Maret 2022. Hal ini juga sebagai upaya mendukung perbankan dan sektor riil untuk bisa bernafas, karena belum terlihat tanda pandemi Covid-19 akan berakhir.

"Kita melihat bahwa Covid-19 di Indonesia dan seluruh belahan dunia masih menjadi eskalatif, negara lain ada yang masuk second wave, tapi Indonesia first wave belum selesai justru kasus bergerak terus. Ini jadi salah satu alasan kita berpikir POJK 11 masih berlaku sampai Maret 2022," tutur dia.

Meskipun OJK telah memberikan dukungan dari sisi kebijakan perpanjangan restrukturisasi, Heru tidak bosan mengingatkan perbankan untuk tetap waspada dan meningkatkan pencadangannya sebagai antisipasi jika terjadi pemburukan kualitas kredit ke depan.

"Perbankan kita minta untuk tidak lengah, risiko kredit kalau dihitung tanpa restrukturisasi meningkat sangat cepat. Dengan restrukturisasi memang boleh tidak bentuk pencadangan tapi please dibentuk pelan-pelan, kalau (POJK) berakhir, bank punya bantalan hadapi tantangan ke depan," kata Heru. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN