Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Tiga Risiko Pasar Keuangan

Jumat, 31 Agustus 2018 | 13:07 WIB
Oleh Nida Sahara dan Hari Gunarto

Wimboh menegaskan pula, di tengah berlanjutnya volatilitas di pasar keuangan dalam negeri, profil risiko lembaga jasa keuangan –baik risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas -- masih terjaga pada level yang manageable.

Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan per Juli tercatat sebesar 2,73% (Juni 2,67%), sedangkan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan berada pada level 3,18% (Juni 3,15%).

Permodalan lembaga jasa keuangan tercatat pada level yang cukup tinggi. Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan per Juli 2018 tercatat 22,76%, sedangkan Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 311% dan 457%.

Ketahanan terhadap risiko likuiditas tercermin antara lain pada loan to deposit ratio (LDR) yang berada di posisi 92,76%. OJK juga mencatat laba bersih industri perbankan pada semester I-2018 mencapai Rp 70,92 triliun, meningkat 7,94% (yoy). Outstanding kredit sampai mencapai Rp 5.028,74 triliun, tumbuh 10,75% (yoy).

Return on asset (ROA) berada di level 2,43%, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 79,46%, serta net interest margin (NIM) sedikit turun dari 5,35% menjadi 5,11%.

Wimboh mengingatkan bahwa dinamika di pasar keuangan masih akan berlanjut seiring masih tingginya downside risk di lingkup global. OJK senantiasa mencermati beberapa faktor risiko global, di antaranya adalah perkembangan suku bunga dan likuiditas global, gejolak di pasar keuangan emerging markets, dan tensi perang dagang.

“Untuk itu, OJK akan mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional serta memperkuat koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait,” tegas Wimboh. (rw/hg)


 

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/macroeconomics/ri-vs-argentina/179800

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN