Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Consumer Banking PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Budi Satria (tengah) , didampingi Wealth Management Division Head, Sri RM Sudarsari (kanan) dan Retail Funding & Service Division Head Ferry Sipahutar (kiri) menunjukkan mock up kepingan emas saat acara peluncuran program tabungan berhadiah bertajuk Kemilau Emas di Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Direktur Consumer Banking PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Budi Satria (tengah) , didampingi Wealth Management Division Head, Sri RM Sudarsari (kanan) dan Retail Funding & Service Division Head Ferry Sipahutar (kiri) menunjukkan mock up kepingan emas saat acara peluncuran program tabungan berhadiah bertajuk Kemilau Emas di Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Tingkatkan Porsi CASA, BTN Incar Nasabah Prioritas

Nida Sahara, Kamis, 31 Oktober 2019 | 20:55 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus meningkatkan komposisi dana murah (current account saving account/CASA), salah satunya dengan program Tabungan Kemilau Emas yang menyasar nasabah prioritas. Dari program tersebut, perseroan mengincar tabungan baru sebesar Rp 3 triliun yang dapat meningkatkan CASA dari posisi saat ini 40% terhadap total dana pihak ketiga (DPK).

Direktur Konsumer BTN Budi Satria mengatakan, memasuki akhir tahun 2019, perseroan menyiapkan strategi untuk mencapai target perolehan DPK khususnya dana murah dari segmen ritel. Perseroan juga sudah meluncurkan program Poin Serbu untuk meningkatkan jumlah transaksi dan simpanan, kali ini dengan program Kemilau Emas dengan mengandalkan dua produk, yakni Tabungan BTN Prima dan Tabungan BTN Batara.

Sampai dengan Agustus lalu, penghimpunan DPK konsolidasi mencapai Rp 231,8 triliun, sedangkan DPK BTN konvensional Rp 209,2 triliun atau tumbuh 19,2% (yoy). Sementara itu, hingga kuartal ketiga 2019 DPK perseroan tumbuh 18% (yoy) dan tahun ini ditargetkan bisa tumbuh sekitar 8-10% (yoy).

"Peningkatan DPK ritel melalui Kemilau Emas diharapkan dapat mendongkrak CASA BTN yang saat ini porsinya sekitar 40% dari total DPK BTN. Kami harap dengan program tersebut bisa lebih dari Rp 3 triliun," ungkap Budi di Jakarta, Kamis (31/10).

Program tersebut lebih diutamakan bagi nasabah prioritas, di mana sampai saat ini jumlah nasabah prioritas perseroan mencapai lebih dari 65 ribu rekening. Perseroan juga menawarkan suku bunga tabungan yang kompetitif untuk menarik minat nasabah.

Adapun program tersebut mengandalkan hadiah langsung berupa logam mulia ditambah dengan suku bunga tabungan yang cukup kompetitif. Program tersebut berlaku sejak awal November sampai dengan akhir Desember 2019.

Meskipun perseroan menawarkan suku bunga tabungan yang kompetitif, namun Budi menjamin tidak akan meningkatkan biaya dana perseroan karena bunga yang ditawarkan lebih tinggi dari produk tabungan biasa.

"Program ini pakai kuota, jadi tidak langsung menambah beban biaya bunga. Cost of fund BTN masih sekitar 5%, memang kami lebih tinggi dari bank lain, tapi ini sudah turun dari posisi sebelumnya," jelas Budi.

Program tersebut berlaku bagi nasabah BTN yang minimal menempatkan dana baru sebesar Rp 2 miliar, kemudian ditambahkan penempatan dana pada Tabungan BTN Batara sebesar Rp 100 juta, dana tersebut wajib diendapkan atau diblokir selama tiga hingga empat bulan, maka dapat langsung membawa pulang emas. Dari logam mulia seberat 5 gram sampai 75 gram, berlaku kelipatan.

Meski demikian, Budi menjelaskan, dana yang ditempatkan merupakan dana segar. "Ini syaratnya harus dana segar, bukan dari pindahan rekening BTN lain dan juga bukan dana dari pencairan deposito, atau bukan dari pencairan kredit," lanjut dia.

Budi menambahkan, untuk memupuk DPK lebih tinggi tahun ini, perseroan akan lebih gencar meningkatkan produktivitas outlet, meningkatkan nasabah ritel berbasis payroll, dan meningkatkan penetrasi penggunaan e-channel BTN dengan memperluas kerja sama dengan merchant.

Sebelumnya, Direktur Keuangan BTN Nixon Napitupulu mengatakan, likuiditas BTN masih cukup ketat sampai dengan kuartal ketiga, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) yakni di level 103%. Untuk itu, perseroan aktif untuk menyasar dana murah juga dan menahan penyaluran kredit.

"BTN itu harus punya dana jangka panjang karena kreditnya KPR semua, jadi dari dulu itu LDR bukan rasio yang pas untuk BTN, tahun ini kami jaga LDR di bawah tahun lalu, di kisaran 102-103%," kata Nixon.

Dia menambahkan, kuartal ketiga ini DPK perseroan masih tumbuh dari instrumen deposito. Hal tersebut karena perseroan memberikan suku bunga yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan bank lainnya, namun ke depan diperkirakan akan mulai diturunkan bunga depositonya.

"Kalau DPK BTN masih tumbuh, tapi lebih banyak di deposito, agak kompleks di bunga. Tapi ke depannya kami harap tidak seperti ini, akan perlahan turun," lanjut Nixon.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA