Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan memantau obligasi dan rupiah di Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Karyawan memantau obligasi dan rupiah di Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

2021, Refinancing Lewat Obligasi Diprediksi Masih Ramai

Selasa, 29 Desember 2020 | 14:27 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id - Pemulihan ekonomi Indonesia pasca vaksinasi diproyeksikan masih belum mampu mengangkat kinerja emiten terdampak dalam waktu dekat. Hal ini juga mempengaruhi tingkat emisi obligasi korporasi pada tahun depan.

Head of Investment Research at PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan, emisi obligasi pada tahun depan seharusnya dapat lebih baik dari tahun 2020, didukung oleh tingkat suku bunga rendah.

Sedangkan dari segi penggunaanya, Refinancing diproyeksikan masih jadi fokus utama emiten menerbitkan obligasi.

“Terutama pada sektor yang terdampak langsung oleh pandemi, seperti sektor jasa, multifinansial, transportasi dan pariwisata,” jelasnya saat dihubungi oleh Investor Daily, Selasa (29/12).

Wawan melanjutkan, baik para investor maupun emiten pada tahun depan akan lebih selektif dalam menyerap obligasi dan cenderung Wait and See sejalan dengan ketidakpastian yang masih tinggi. Meski sebelumnya, terdapat kabar bahwa proses vaksinasi akan segera dilakukan, hal ini tidak serta merta memulihkan ekonomi.

“Dari segi distribusi, masih sangat Challenging karena pemerintah harus mendistribusikan vaksin sebanyak 170 juta, dengan artian 20 juta masyarakat Indonesia akan mendapatkan vaksin tiap bulannya sehingga pemulihan ekonomi akan berjalan secara bertahap,”ujarnya.

Di sisi lain, suku bunga yang rendah juga dapat menyebabkan peralihan penggalangan dana kepada fasilitas pinjaman daripada obligasi karena lebih fleksibel dalam waktu dan adaptif terhadap situasi yang ada. Obligasi sendiri lebih cocok pada perusahaan yang tidak terdampak seperti pada sektor telekomunikasi dan kesehatan.

Seperti yang diketahui, pada tahun ini beberapa perusahaan mengalami default atau gagal bayar obligasi maupun Medium Term Notes (MTN) akibat pandemi. Maka dari itu pinjaman ke perbankan bisa jadi pilihan yang lebih aman.

Sebelumnya, menjelang tutup tahun 2021, emisi obligasi yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia akhirnya menembus angka 100, tepatnya 101 emisi. Obligasi Berkelanjutan II Sarana Multi Infrastruktur Tahap V Tahun 2020 (Obligasi Tahap V) yang diterbitkan oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) menentukan angka 100 emisi.

Nilai obligasi yang dicatatkan perusahaan pelat merah ini mencapai Rp 3,33 triliun. Peringkat idAAA (Triple A) disematkan Pefindo untuk Obligasi Tahap V dari SMI ini. Bertindak sebagai wali amanat untuk emisi ini PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Pada hari obligasi SMI dicatatkan, juga listing Obligasi Berkelanjutan I Indah Kiat Pulp & Paper Tahap III Tahun 2020 (Obligasi) yang diterbitkan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Nilai emisi obligasi produsen bubur kertas tersebut mencapai Rp 3,55 triliun. Pefindo memberi peringkat idA+ (Single A+) untuk obligasi dengan wali amanat PT Bank Bukopin Tbk ini.

Seiring dengan pencatatan dua obligasi bernilai jumbo itu, total emisi obligasi dan sukuk sepanjang tahun 2020 menggenapi angka 101 emisi yang datang dari 58 emiten. Total nilai emisi sampai pertengahan Desember 2020 sebesar Rp 84,96 triliun.

Sedangkan total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 470 emisi dengan nilai outstanding sebesar Rp 431,88 triliun dan USD47,5 juta. Sebanyak 127 emiten ikut andil dalam seluruh emisi tersebut.

Sementara itu, Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI sejauh ini sebanyak 133 seri dengan nilai nominal Rp3.754,59 triliun dan US$ 400 juta. Sedangkan EBA sebanyak 10 emisi senilai Rp7,13 triliun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN