Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pasar surat utang. (Foto:  Pixabay)

Ilustrasi pasar surat utang. (Foto: Pixabay)

Alasan Mengapa Investor Surat Utang Wait and See

Senin, 13 September 2021 | 05:45 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) sepanjang pekan ini diperkirakan turun, seiring adanya peluang peningkatan imbal hasil (yield). Hal ini disebabkan oleh investor yang wait and see, karena The Fed akan kembali mengadakan pertemuan dalam beberapa waktu ke depan.

Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan, pada pekan ini, yield SUN akan menguat dengan tenor lima tahun di level 5,05-5,2%. Kemudian, yield SUN tenor 10 tahun akan bergerak di level 6,1-6,2%.

Pergerakan ini dipengaruhi oleh beberapa peristiwa ekonomi yang akan terjadi di tingkat domestik maupun global. Dari tingkat domestik, investor akan menunggu rilis data ekspor-impor yang diperkirakan akan meningkat.

Sementara itu, dari luar negeri, investor akan memperhatikan data retail sales advance Amerika Serikat, neraca perdagangan Eropa, dan data penjualan ritel Tiongkok. Selain data perekonomian tersebut, investor akan menunggu keputusan dalam pertemuan The Fed pada bulan ini.

Menurut Nico, pertemuan The Fed tersebut menjadi penting karena menjadi penentu kapan taper tantrum akan dilakukan. "Sedikit banyak The Fed sendiri memperlihatkan bahwa mereka akan mengumumkan keputusan tersebut pada pertemuan The Fed pada September ini," kata Nico kepada Investor Daily, Minggu (12/9).

Nico mengungkapkan, dalam pertemuan itu, investor ingin melihat sejauh mana keputusan The Fed. Pasalnya, Bank Sentral Australia dan Eropa menyatakan akan memulai taper tantrum. Karena itu, keputusan The Fed yang menjadi tolok ukur bank sentral di berbagai dunia akan sangat mempengaruhi pasar dan pergerakan imbal hasil obligasi negara.

Di tengah situasi yang wait and see ini, pasar mulai menghadapi tekanan sehingga mendorong peningkatan imbal hasil. Dalam situasi ini, Nico menyarankan investor untuk memperbanyak investasi di SUN berdurasi jangka pendek atau di bawah 10 tahun untuk meredam volatilitas yang akan terjadi. Meski demikian, investor juga harus tetap berinvestasi di obligasi jangka panjang dengan porsi yang lebih sedikit.

Lebih lanjut, Head of Fixed Income PT Sucorinvest Asset Management Dimas Yusuf menjelaskan, pergerakan imbal hasil SUN akan sedikit volatil dengan kecenderungan flat. Volatilitas ini, menurut Dimas, disebabkan oleh pertemuan The Fed yang akan digelar dua minggu mendatang.

"Dalam FOMC meeting ini akan diperoleh lebih banyak mengenai gambaran teknis mengenai pengurangan pembelian efek utang oleh The Fed dan arah Fed Fund Rate ke depannya," kata dia.

Ke depan, Dimas memperkirakan yield SUN akan bergerak di level 6,2-6,3%. Sentimen yang mempengaruhinya adalah pencapaian tax revenue dan rencana untuk menurunkan tingkat defisit anggaran pada 2023 dan ke depannya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN