Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Pekan Ini, Penguatan Harga SUN Tertahan

Senin, 20 September 2021 | 06:03 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) sepanjang pekan ini berpotensi menguat terbatas, dengan kecenderungan terkoreksi. Sebab harga SUN dalam beberapa hari terakhir terus menguat.

”Di kondisi sekarang harga mayoritas obligasi benchmark di pasar domestik sudah premium. Namun, untuk tenor 15 tahun masih terdiskon, jadi arahnya berpotensi terjadi penguatan harga untuk tenor menengah panjang. Dengan demikian, potensi penurunan yield untuk tenor menengah panjang lebih terbuka,” kata analis Panin Sekuritas Hosianna E Situmorang kepada Investor Daily, Minggu (19/9).

Namun, secara keseluruhan, ruang penurunan yield untuk semua tenor masih memungkinkan karena likuiditas domestik yang masih tinggi dan preferensi investor global yang kuat ke pasar domestik sejalan dengan kestabilan nilai tukar rupiah dan yield yang masih menarik. Selain itu, ke depan, ada potensi rilis kinerja kuartal III-2021 yang kurang baik akibat pandemi global pada Juli-Agustus lalu. Hal itu menjadi bagian dari antisipasi investor untuk tetap mengalokasikan ke obligasi yang dianggap aset lebih aman.

Secara terpisah, Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, pekan ini akan menjadi pekan yang sangat penting bagi pasar obligasi. Pasalnya, pekan ini merupakan pekan bagi pertemuan bank sentral yang diawali dari Bank Indonesia (BI), The Fed, dan Bank Sentral Jepang.

”Yang akan menjadi perhatian tentunya adalah The Fed, yang konon dengan tingkat probabilitas di atas 50% berpotensi untuk mengumumkan kapan tapering off akan dimulai beserta dengan besaran dari nominal yang akan dikurangi,” jelasnya.

Hal ini tentu akan menjadi parameter, karena akan memberikan dampak bagi pasar obligasi di negara berkembang. ”Situasi dan kondisi pada tahun 2013 kemungkinan besar tidak akan terulang, namun secara tekanan, tentu masih akan terasa. Sejauh mana kita mampu mengantisipasi, sejauh itu pula kita bisa menghadapi. Wait and see menjadi sebuah pilihan, cermati setiap situasi dan kondisi khususnya terkait dengan pertemuan bank sentral nanti,” ujar Maximilianus.

Sementara itu, pemerintah masih menyisakan dua seri surat berharga negara (SBN) ritel yang akan ditawarkan pada tahun ini. Menurut data dari laman Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan pada Kamis (16/9), sebanyak 6 SBN ritel direncanakan terbit pada 2021. Penerbitan ini terdiri atas seri konvensional atau surat utang negara (SUN) dan seri syariah atau surat berharga syariah negara (SBSN). Seri-seri tersebut termasuk savings bond ritel (SBR), sukuk tabungan (ST), sukuk ritel (SR), dan obligasi negara ritel (ORI).

Setelah SR015, pemerintah akan menerbitkan obligasi ritel seri ORI020 yang akan mulai ditawarkan pada 27 September mendatang. Masa pembelian ORI020 dijadwalkan hingga 20 Oktober 2021. Selanjutnya, pemerintah akan menawarkan sukuk tabungan seri ST008 mulai 1 November hingga 18 November mendatang. Sebagai informasi, obligasi ritel berjenis SBR dan ST tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder (non-tradeable). Sementara itu, seri SR dan ORI dapat diperdagangkan (tradeable).

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN