Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
j resources

j resources

Potensi Gagal Bayar Utang, Pefindo Pangkas Outlook J Resources Jadi Negatif

Rabu, 22 September 2021 | 09:27 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id -  PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat utang PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dan obligasi berkelanjutan I menjadi “idBBB” dari “idA”. Outlook perseroan juga direvisi dari stabil menjadi “CreditWatch dengan Implikasi Negatif”.

"Penurunan peringkat tersebut mencerminkan keterbatasan perseroan dalam mengatasi masalah pembiayaa kembali dan likuditas dalam beberapa pekan ini, , menyusul permintaan dari salah satu kreditur untuk melunasi seluruh pinjaman sebesar US$ 95,09 juta pada 1 September 2021," tulis analis Pefindo Kresna Piet Wiryawan dan Gifar Indra Sakti dalam siaran pers di Jakarta, kemarin.

Pefindo menambahkan, situasi ini juga membatasi upaya J Resources dalam mengembangkan salah satu proyeknya di Doup yang sebelumnya akan dibiayai oleh kreditur tersebut.

Hingga kini, perseroan tengah berupaya melunasi pinjaman bank tersebut dengan mencari investor baru, namun mengingat waktu yang terbatas untuk menggalang dana yang signifikan, perseroan menghadapi risiko ketidakpastian dalam memenuhi kewajiban keuangan tersebut dan juga Obligasi Berkelanjutan I Tahap VI seri A senilai Rp 252,2 miliar yang jatuh tempo pada 7 Desember 2021 dan sebelumnya direncanakan untuk dilunasi menggunakan kombinasi dari kas internal dan pendanaan eksternal.

"Obligor dengan peringkat idBBB memiliki kemampuan yang memadai dibandingkan obligor Indonesia lainnya untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya. Walaupun demikian, kemampuan obligor lebih mungkin akan terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi," terang Pefindo.

Dijelaskan Pefindo, peringkat perusahaan mencerminkan sumber daya dan cadangan tambang perusahaan yang cukup besar, ekspektasi terhadap biaya tunai produksi (cash cost) yang rendah dan permintaan emas yang tinggi. Namun, peringkat tersebut dibatasi oleh peningkatan risiko refinancing dan likuiditas, struktur permodalan perusahaan yang agresif, eksposur terhadap fluktuasi harga emas dan cuaca yang tidak menguntungkan, serta risiko terkait pengembangan tambang yang belum menghasilkan.

Namun apabila perseroan tidak mampu untuk mengatasi risiko pembiayaan kembali dan likuiditas dalam beberapa minggu mendatang dapat berdampak pada penurunan peringkat utang perseroan secara signifikan. Sebaliknya, outlook dapat direvisi menjadi stabil, apabila perseroan berhasil memitigasi risiko pembiayaan kembali dan likuiditas terkait dengan pinjaman yang dimiliki, termasuk Obligasi yang akan jatuh tempo dalam enam bulan kedepan.

"Kami dapat menaikkan peringkat apabila PSAB secara signifikan dapat meningkatkan fleksibilitas keuangannya termasuk dengan adanya tingkat kepastian yang cukup tinggi terkait komitmen pendanaan untuk mendukung penyelesaian proyek Doup yang juga akan memperbaiki profil bisnis perusahan secara keseluruhan," ungkap Pefindo.

PSAB didirikan pada tahun 2002 dengan nama PT Pelita Sejahtera Abadi dan memulai operasi tambang pada tahun 2012 setelah mengakuisisi aset dari Avocet Mining. Operasi Perusahaan meliputi eksplorasi, pertambangan, dan pemrosesan emas. Perusahaan mempunyai aset pertambangan yang terdiversifikasi di Indonesia dan Malaysia. Lokasi aset pertambangan Perusahaan terletak di Penjom, Malaysia; Seruyung, Kalimantan Utara; Bakan, Lanut, Pani, Doup, Bolangitang, dan Bulagidun di Sulawesi Utara.

Perusahaan mempunyai tiga tambang yang berproduksi, satu tambang dalam tahap konstruksi, satu tambang dalam tahap pengembangan dan dua tambang dalam tahap eksplorasi. Sedangkan pemegang pengendali perseroan adalah Jimmy Budiarto (92,50%). Sisanya dikuasi Sanjaya J (0,02%) dan pemegang saham publik (7,48%).

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN