Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pasar surat utang. (Foto:  Pixabay)

Ilustrasi pasar surat utang. (Foto: Pixabay)

Sentimen Tapering Tekan Harga SUN

Senin, 27 September 2021 | 06:03 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id - Harga surat utang negara (SUN) berpotensi turun yang dipicu oleh sentimen tapering The Fed mulai awal November tahun ini. Sentimen tersebut tentu bakal memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi.

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana mengatakan, kenaikan imbal hasil juga dipicu rencana peningkatan suku bunga The Fed yang perkiraan pada Desember 2021. “Sejumlah sentimen ini bakal menaikkan imbal hasil SUN jangka pendek naik. Kenaikannya lebih tinggi dibandingkan yield SUN jangka panjang,” jelasnya kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Fikri melanjutkan, pergerakan harga SUN juga akan dipengaruhi berita terkait kasus utang jumbo milik perusahaan properti asal Tiongkok, yakni Evergrande. Kasus ini memberikan tekanan secara psikologis, sehingga menahan asing untuk masuk dan cenderung wait and see pada obligasi negara.

Tertujunya perhatian pemodal terhadap kasus gagal bayar Evergrande dipengaruhi atas posisi perseroan sebagai perusahaan paling besar nomor dua dalam ekonomi Tiongkok dan menyumbang hingga 25% dari total GDP negara tersebut.

Kasus ini dikhawatirkan memperlambat perekonomian mereka dan berdampak pada rendahnya ekspor Indonesia dan menghambat surplus neraca perdagangan sehingga cadangan devisa kita akan sedikit tertahan,” ujarnya.

Pergerakan harga juga dipengaruhi berita lelang SUN pekan ini. Berdasarkan data, Selasa (28/9), pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko berniat melakukan lelang SUN dalam mata uang Rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan APBN 2021.

DJPPR akan melelang sebanyak 7 seri yaitu SPN03211229 yang jatuh tempo pada 29 Desember 2021, FR0090 jatuh tempo pada 15 April 2027, SPN12220707 jatuh tempo 07 Juli 2022, FR0090 jatuh tempo 15 April 2027, FR0091 jatuh tempo 15 Februari 2032, FR0088 jatuh tempo 15 Juni 2036, FR0092 jatuh tempo pada 15 April 2042 dan terakhir FR0089 jatuh tempo pada 15 Agustus 2051.

Pandangan hampir senada diungkapkan analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus. Menurut dia, imbal hasil SUN tenor 10 tahun diproyeksikan naik ke rentang rentang 6,10% hingga 6,20% pekan ini. Begitu juga dengan obligasi negara tenor 5 tahun 5,05%-5,20%, tenor 15 tahun 6,25% – 6,35%, dan terakhir pada tenor 20 tahun berkisar di 6,80% – 7,00%.

Nico menerangkan, kepastian dari The Fed terkait Taper Tantrum memberikan waktu yang cukup bagi pelaku pasar dan investor untuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi. Sejauh ini, pemulihan perekonomian Indonesia yang lebih cepat diharapkan mampu Taper Tantrum terutama saat tingkat suku bunga naik.

“Oleh sebab itu, kami melihat pergerakan pasar obligasi masih dalam rentang yang terbatas. Untuk imbal hasil obligasi 10 tahun pemerintah sendiri pun masih akan bermain di rentang 6,00 – 6,30. Lebih dari itu atau kurang dari itu akan menjadi sebuah tanda bahwa kita harus bereaksi. Selama imbal hasil obligasi 10 tahun masih bermain di rentang yang sama, investor tidak perlu khawatir,” kata Nico.

Terkait minat pemodal terhadap SUN, dia mengatakan, masih tinggi dan terfokus terhadap obligasi berdurasi jangka pendek di bawah sama dengan 10 tahun. Hal itu bagian dari strategi untuk meredam volatilitas pasar akibat tingginya ketidakpastian dan pergerakan US Treasury ke depan.

Begitu juga dengan lelang SUN pekan ini, menurut dia, tetap diminat pasar dengan target penawaran yang masuk berkisar Rp 40-60 triliun. “Apabila lebih dari itu, memberikan gambaran bahwa pasar obligasi masih atraktif. Wait and see memang penting, namun keputusan membeli tentu kembali kepada tujuan investasi masing masing pelaku pasar dan investor,” pungkasnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN