Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dealer memantau pergerakan SUN. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Dealer memantau pergerakan SUN. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Berlanjutnya Sentimen Tapering Tekan Harga SUN

Senin, 4 Oktober 2021 | 05:50 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) pekan ini diproyeksi turun, seiring dengan berlanjutnya isu The Fed yang segera merealisasikan tapering pada November tahun ini.

Associate Director of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Ramdhan Aria Maruto mengatakan, harga SUN pekan ini bisa turun cukup dalam akibat isu tapering oleh The Fed masih kuat, dimana kebijakan tersebut bakal direalisasikan menjelang akhir tahun.

“The Fed sudah mengeluarkan statement bahwa tapering akan mulai digelar November. Biasanya ini akan berlanjut sepanjang tahun 2022. Nanti pasar akan melihat seberapa jauh efek tapering ini terhadap ekonomi negara tersebut, seperti dapaknya terhadap penguatan ekonomi,” ujar Ramdhan kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Sementara itu, dari dalam negeri, Ramdhan menilai, relatif tidak ada sentimen negatif, sisi makro saat ini sudah relatif stabil, dan hanya pergerakan rupiah yang masih melemah pada minggu lalu. Hal ini karena isu-isu global utamanya dampak dari tapering yang mengganggu likuiditas.

Pergerakan harga SUN juga dipengaruhi lelang obligasi negara pekan ini. Berdasarkan informasi, pada Selasa (5/10), Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan akan melelang enam seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif Rp 5 triliun. Masing-masing dalam lelang pekan ini memiliki jatuh tempo 6 April 2022, 15 Juli 2024, 15 Juli 2026, 15 Maret 2034, 15 Februari 2037, dan 15 Oktober 2046.

Ramdhan mengatakan, dalam lelang kali ini, investor akan memilih obligasi negara dengan seri jangka pendek hingga menengah. Sebab sebagian besar investor sekarang ini adalah perbankan dan mereka memilih untuk mempertahankan likuiditas yang tinggi. Di samping itu, jangka pendek menengah memiliki volatilitas lebih rendah.

“Untuk target indikatif Rp 5 triliun, saya memproyeksikan bisa mencapai Rp 25-30 triliun. Hanya saja dari sisi serapan tergantung yield yang masuk,” jelas Ramdhan.

Sementara itu, Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana mengatakan, target indikatif Rp 5 triliun akan tercapai, bahkan bisa sampai Rp 20-30 triliun. Namun, penawaran yang masuk (incoming bid) masih samar, diperkirakan jumlahnya akan sama dengan 2 minggu lalu.

“Setidaknya setelah ada risiko tapering off, risiko kenaikan Fed Rate, memang investor sedikit menahan diri, ditambah juga asing sudah mulai ke luar dan dalam 2 minggu ini keluarnya sudah banyak, seminggu lalu bahkan sekitar Rp 4 triliun di SBN saja,” ujar dia.

Adapun seri yang akan diminati, menurut Fikri, adalah surat utang jangka pendek atau panjang. Hal ini seiring dengan ekspektasi inflasi akan lebih rendah dan pemulihan ekonomi akan lebih baik. “Sementara untuk jangka menengah, kami menilai risiko tapering off masih ada, kemungkinan Fed Rate pun akan menaikan suku bunga pada Juni 2022,” ujar dia.

Terkait harga SUN, Fikri mengharapkan terjadi kenaikan sejalan dengan adanya penurunan risiko dari US Treasury pada Jumat pekan lalu. Artinya, ini akan membuat risiko negara berkembang akan turun dan harusnya resiko SUN juga turun, sehingga yield turun dan harga naik.

“Untuk yield 10 tahun akan berada di rentang 6,1-6,3 dan masih akan ada volatilitas di dalam jangka pendek. Nanti kita akan lihat juga aliran asingnya akan seperti apa,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN