Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pasar surat utang. (Foto:  Pixabay)

Ilustrasi pasar surat utang. (Foto: Pixabay)

Sentimen Global Masih Jadi Penghambat Pasar Surat Utang

Senin, 8 November 2021 | 05:45 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id — Harga surat utang negara (SUN) diproyeksikan terkoreksi terbatas pekan ini, seiring dengan aksi The Fed yang segera melakukan taper tantrum akhir November 2021. Adapun imbal hasil (yield) SUN bertenor 10 tahun diperkirakan naik ke kisaran 6,3%.

Associate Director of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Ramdhan Aria Maruto mengatakan, aksi taper tantrum yang akan dilakukan The Fed membuat investor asing akan keluar, sehingga membuat gejolak pasar. Dampak yang diberikan asing ini sifatnya jangka pendek bagi Indonesia, sebab yield Indonesia masih menarik jika dibandingkan negara lain.

Yield 10 tahun saat ini berada di sekitar 6,2%. Ke depan, saya melihat yield akan bergerak menuju 6,3% seiring dengan potensi pelemahan pasar akibat taper tantrum. Namun pelemahan ini akan lebih terukur,” ujar dia kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Pelemahan pasar diproyeksikan terjadi hingga akhir tahun, hal ini juga membuat likuiditas yang diperkirakan ikut melemah akibat aksi investor domestik yang mengambil sikap untuk wait and see terhadap pasar global karena adanya taper tantrum.

Meski demikian, Ramdhan menilai likuiditas dalam negeri saat ini sudah cukup baik dan stabil, dalam arti pasar domestik saat ini sudah menjadi tuan rumah di dalam negeri. Menurut Ramdhan, kepemilikan asing untuk saat ini berada di sekitar 21%, dibandingkan sebelum pandemi yang ada di kisaran 38-40%. Sedangkan domestik berada di 80%.

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana juga mengatakan bahwa investor domestik telah menguasai tuan rumah sendiri yang didukung oleh stimulus pemerintah terkait penurunan tarif PPh dari 15% ke 10%. Ini menyebabkan likuiditas di domestik menjadi lebih baik. “Memang domestik lagi bagus-bagusnya dan return-nya pun juga lebih baik. Di sisi lain, didorong oleh keputusan pemerintah yang memilih menahan diri untuk melakukan penerbitan,” ujar dia.

Masih Positif

Meskipun likuidias membaik, Fikri berpendapat bahwa harga SUN pekan depan akan meningkat dan yield mengalami penurunan seiring dengan lelang primary yang sudah ditiadakan, sehingga likuiditas di pasar sekunder menjadi lebih ramai. Kemudian dari global, meskipun tapering akan terjadi akhir November dan adanya penurunan yield US Treasury, ini menandakan bahwa likuiditas global cukup baik.

“Apalagi The Fed menyatakan bahwa tapering off tidak akan diikuti dengan kenaikan tingkat suku bunga dalam waktu dekat. Jadi ini akan menjadi salah satu penopang harga SUN pekan depan,” ujar dia.

Adapun untuk harga SUN diperikirakan masih akan positif meskipun risikonya bertambah, dimana rupiah terdepreasi cukup dalam pada beberapa waktu terakhir dan kemungkinan depresiasi ini masih akan terjadi. “Secara umum saya melihat harapannya rupiah masih akan stabil, sehingga akan menjaga yield SUN,” ujar dia.

Selain itu, ada potensi risiko pengurangan kepemilikan asing di tradeable SUN. Fikri menilai bahwa sampai minggu kemarin, terjadi pengurangan kepemilikan SBN tradeable SUN oleh asing sebesar Rp 56 triliun. Harapannya ini tidak akan mendorong harga SUN turun atau yield-nya naik.

“Kalau kita lihat kepemilikan Bank Indonesia (BI) kan naik, kalau tidak salah sampai Rp 220 triliun per 3 November, ditambah juga kepemilikan perbankan yang sekitar 60 triliun. Jadi ini harapannya yang akan mendorong yield SUN akan lebih baik sampai akhir tahun,” ujar dia.

Seiring dengan proyeksi tersebut, Fikri menilai bahwa yield 10 tahun pada pekan depan akan mengalami penurunan ke level 6,0% dan yield 10 tahun untuk akhir tahun berpotensi di kisaran 5,9%-6%.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN