Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pasar Saham dan Obligasi Indonesia Lebih Siap Hadapi Tapering

Kamis, 11 November 2021 | 13:49 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -- Pasar saham dan obligasi Indonesia dinilai lebih siap menghadapi penerapan tapering (pengurangan stimulus) di Amerika Serikat pada akhir November mendatang. Hal ini ditopang meningkatnya aliran modal asing ke pasar saham dan rendahnya kepemilikan investor asing di pasar obligasi.

Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha menjelaskan, pada November ini, fokus pasar masih mengacu pada penerapan Fed tapering. Mengantisipasi ekspektasi peningkatan inflasi, pasar finansial mulai menyesuaikan ekspektasi peningkatan frekuensi kenaikan Fed Rate pada 2022.

"Namun sejauh ini The Fed memandang kenaikan inflasi bersifat sementara dan belum melihat potensi kenaikan suku bunga secara agresif," jelas Dimas dalam keterangan resmi, Kamis (11/11).

Berbeda dengan di Amerika Serikat (AS), tekanan inflasi di Asia saat ini relatif lebih terjaga, dipengaruhi oleh pembatasan aktivitas ekonomi, intervensi pemerintah atas harga energi, dan juga pangan yang berkontribusi besar dalam keranjang inflasi. Di tengah kebijakan fiskal yang lebih ketat, outlook kebijakan moneter Asia diperkirakan tetap akomodatif dan menjadi salah satu faktor pendorong utama pemulihan ekonomi.

Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang sempat mengalami mismanagement penanganan pandemi, dukungan stimulus yang tidak terlalu agresif, dan pembukaan aktivitas ekonomi yang kurang merata, justru memiliki ruang ekspansi ekonomi yang lebih tinggi pada 2022. Kondisi ini diharapkan memberikan sentimen yang positif terhadap perekonomian dan pasar finansial Indonesia.

Khusus di pasar obligasi, Dimas melihat pasar obligasi kini lebih siap dalam menghadapi tren perubahan sentimen global ini. Faktor kepemilikan asing yang jauh lebih rendah dibandingkan periode-periode sebelumnya, dinamika pasokan obligasi yang lebih baik dan tingkat imbal hasil obligasi Indonesia yang menarik diharapkan dapat meredam dampak kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat pada 2022.

"Fundamental makro yang lebih baik dan stabilitas eksternal yang terus diperkuat diharapkan dapat menjaga volatilitas pasar obligasi Indonesia," jelas Dimas.

Di pasar saham, aliran dana asing masuk pasar saham semakin kuat bahkan menjelang pengetatan moneter The Fed. Minat terhadap saham kapitalisasi besar mulai menunjukkan perbaikan didukung oleh membaiknya situasi pandemi dalam negeri. Sementara itu, saham ekonomi digital menawarkan prospek jangka panjang yang menarik didukung tren struktural industri yang mengarah ke digital dan potensi inklusi pada indeks saham global.

Faktor-faktor tersebut menjadi peluang bagi investor untuk menambah portofolio investasinya di reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham. Sebagai contoh reksa dana Manulife Pendapatan Bulanan II (MPB II) dari Manulife, sejak diluncurkan Januari 2009, MPB II telah mencatatkan kinerja historis rata-rata 6,36% per tahun (per Oktober 2021), mengungguli rata-rata inflasi tahunan Indonesia.

Reksa dana lain milik Manulife, yaitu reksa dana Manulife Saham Andalan (MSA), sejak peluncurannya pada November 2007 berhasil mencatatkan kinerja historis rata-rata 6,84% per tahun, di atas tolok ukur (Indeks IDX80) yang sebesar 5,80%.

Dampaknya Sangat Minimal

Di sisi lain, Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya menjelaskan, dampak dari tapering tantrum di AS akan sangat minimal terhadap pasar modal Indonesia. Pasalnya, Indonesia berada dalam posisi yang lebih baik dalam menghadapi tapering karena didukung oleh rendahnya current account deficit (CAD) dan besarnya cadangan devisa negara.

"Kami mempercayai risiko tapering tantrum akan sangat minimal terhadap pasar modal Indonesia karena investor asing terlihat sangat mempercayai Indonesia yang ditunjukkan dengan derasnya arus modal asing ke pasar saham yang mencapai Rp 41,6 triliun sejak awal tahun hingga Oktober 2021," tulis Hariyanto dalam risetnya.

Adapun sentimen lain yang mempengaruhi indeks harga saham gabungan (IHSG) adalah pelonggaran PPKM yang bisa meningkatkan aktivitas ekonomi. Selain itu dipengaruhi juga peningkatan kinerja emiten pada kuartal III-2021. Mirae mencatat, kinerja emiten LQ45 pada kuartal III-2021 meningkat 12,1% dibandingkan kuartal II-2021 dan meningkat 56,6% dari periode yang sama tahun 2020. Peningkatan kinerja emiten LQ45 dipimpin oleh emiten keuangan dan pertambangan.

Dengan melihat kondisi tersebut, Mirae merekomendasikan delapan saham unggulan pada November 2021, yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Bank Jatim Tbk (BJTM), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN