Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
obligasi Surat Utang Negara (SUN)

obligasi Surat Utang Negara (SUN)

Masih Akan Atraktif, Ini Deretan Sentimen Positif Pasar Obligasi

Jumat, 12 November 2021 | 10:22 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Langkah tapering off yang dilakukan Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) direspon optimistis pelaku pasar di Indonesia.

Terkait itu, Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) mengajak para pelaku pasar untuk mengalihkan perhatiannya dari isu tapering off karena sebelumnya sentimen pasar dinilai selalu fokus terhadap isu tapering.

Kepala Ekonom Bahana TCW, Budi Hikmat, mengatakan, sesuai ekspektasi, respon positif pasar terhadap kebijakan The Fed, menjadikan kebijakan tersebut tantrum-less taper. “Sudah saatnya kita mengalihkan perhatian kepada arah baru perekonomian paska pandemi dan kebijakan The Fed tersebut,” urainya dalam keterangan tertulis, Jumat (12/11/2021).

Lebih lanjut dikatakan, pemetaan risiko dan opportunity yang akan muncul di tahun depan haruslah menjadi perhatian pasar obligasi saat ini. “Setidaknya kami masih optimistis, hingga akhir tahun kondisi perekonomian dan pasar obligasi akan tetap positif,” kata dia.

Terkait dengan opportunity lebih ada di domestik di mana Pemerintah telah menghentikan penerbitan SBN. Setidaknya hingga akhir tahun, surat utang negara hanya dapat diperoleh dari secondary market.

Dari sisi demand, permintaan terhadap government bonds masih ada, sehingga hal ini dapat menjadi katalis positif setidaknya hingga akhir tahun 2021. Meski sejak awal tahun, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, mencatat jumlah kepemilikan asing di SBN sebesar Rp 934,41 triliun hingga 3 November lalu. Telah terjadi outflow sebesar Rp 39,5 triliun secara year to date.

Selain faktor supply yang menjadi katalis utama yang dapat membuat pasar obligasi dalam negeri masih atraktif hingga akhir tahun, di sisi demand akan didorong oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Tren excess liquidity masih terjadi, meski kredit perbankan menunjukan pertumbuhan, namun pertumbuhan DPK lebih tinggi.

“Di pasar obligasi nasional, investor domestik memegang kendali hal ini terlihat, saat investor asing belum kembali masuk ke pasar, tapi pasar obligasi kita menunjukkan penguatan (rally) dan yiled SBN kita masih tetap kuat di angka 6,0. Merujuk pada data Bahana TCW, pada kepemilikan obligasi pemerintah, investor asing hanya menguasai 20,91 persen sementara investor domestik sebesar 79,09 persen,” ujar Budi.

Kepemilikan domestik atas obligasi pemerintah juga diperkuat oleh intervensi Bank Indonesia (BI) yang berkomitmen akan membeli SBN sebanyak Rp 200 triliun sepanjang tahun ini dan Rp 240 triliun untuk tahun depan dan dapat dipastikan kepemilikan BI akan naik.

Perbankan juga disebut masih akan memiliki kelebihan likuiditas sampai dengan pertengahan tahun depan, maka seharusnya support dari perbankan terhadap SBN masih sangat besar.

Namun, di tengah optimisme tersebut faktor risiko itu tentunya masih ada. Risiko yang perlu diperhatikan pertama adalah inflasi domestik. Meski saat ini tingkat inflasi sangat rendah yakni 1,6 persen, tapi pada kenyataannya inflasi di tingkat produsen perlahan mulai naik tapi belum dirasakan di tingkat konsumen. Faktor risiko kedua adalah dari sisi tren imbal hasil surat berharga negara global yang cenderung naik. Meski, pasar SBN Indonesia diprediksi tidak akan mengikuti tren kenaikan tersebut, mengingat di dalam negeri pasar SBN memiliki isu tersendiri.

“Pasar SBN kita merupakan salah satu dari sedikit negara yang masih merasakan rally dalam enam bulan terakhir dibanding dengan negara berkembang lainnya yang harus mengalami koreksi. Yield SBN Indonesia masih sangat stabil di bawah angka 6,01 sementara negara berkembang lainnya harus mengalami kenaikan yield karena tekanan dari tapering, inflasi dan kenaikan suku bunga,” tutup Budi Hikmat.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN