Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdagangan obligasi di bursa. Foto ilustrasi: Investor Daily

Perdagangan obligasi di bursa. Foto ilustrasi: Investor Daily

Kenaikan Yield Obligasi AS Memicu Dana Asing Keluar

Jumat, 7 Januari 2022 | 13:17 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com) ,Indah Handayani (handayani@investor.co.id) ,Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 1,7% berdampak memicu dana asing keluar dari emerging markets, termasuk Indonesia. Hal ini cenderung mengerek imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) RI, depresiasi nilai tukar rupiah, mendorong suku bunga naik, dan menekan pasar saham domestic dalam jangka pendek.

Penasihat Asosiasi Analisis Efek Indonesia (AAEI) Edwin Sebayang mengatakan, seberapa besar dampak terhadap pasar saham RI juga akan tergantung pada seberapa agresifnya Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan untuk meredam capital outflow (dana asing keluar).

Edwin Sebayang, Direktur MNC Asset Management dalam diskusi Zooming with Primus - Startup Masuk Bursa, Live di Beritasatu TV, Kamis (24/6/2021). Sumber: BSTV
Edwin Sebayang, Direktur MNC Asset Management  Sumber: BSTV

Ia memperkirakan kenaikan suku bunga acuan oleh BI sebesar 50 basis poin masih bisa ditolerir oleh pasar, namun bila lebih membuat sinyal menjadi kurang bagus bagi pasar secara keseluruhan.

“Jika kemudian BI hanya menaikkan (suku bunga acuan) sebesar 25-50 basis poin, sebenarnya belum akan banyak berpengaruh terhadap sektor yang terbilang dekat dengan hal ini, yaitu perbankan. Ini mengingat NIM (net interest margin) perbankan saat ini masih terjaga. Hal serupa terjadi di sektor properti, jika pemerintah masih membebaskan PPnBM serta masih ada kebijakan DP nol persen hingga subsidi, kemungkinan akan berdampak kecil,” kata dia saat dihubungi pada Kamis (6/1/2022).

Yield obligasi 10 tahun Indonesia-AS
Yield obligasi 10 tahun Indonesia-AS

Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun tercatat melesat 5 basis poin ke 1,7% pada Rabu (5/1) waktu AS, atau level tertinggi sejak April 2021. Hal ini mendorong rupiah melemah sekitar 0,24% melawan dolar Amerika Serikat di awal perdagangan Kamis (6/1/2022), hingga menyentuh level terendah dalam satu bulan terakhir di sekitar Rp 14.390 per dolar AS.

Pemicu kenaikan yield obligasi pemerintah AS tersebut adalah rilis notula rapat kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) edisi Desember lalu. Bank sentral AS menormalisasi kebijakan moneternya dengan melakukan tapering off atau mengurangi pembelian obligasi dan surat berharga (quantitative easing/QE) mulai November lalu.

QE yang sebesar US$ 120 miliar awalnya akan dikurangi US$ 15 miliar per bulan, namun sebulan kemudian, The Fed lebih agresif dengan tapering ditambah menjadi US$ 30 miliar per bulan. QE yang awalnya direncanakan selesai pertengahan 2022, menjadi maju Maret tahun ini.

Selain The Fed mengindikasikan akan menaikkan suku bunga 3 kali tahun ini, di mana pasar berspekulasi kenaikan pertama akan dilakukan pada Maret, dalam notula rapat kebijakan moneter bulan Desember 2021 terungkap The Fed bisa bakal lebih agresif.

Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC.,  Amerika Serikat (AS). ( Foto: Daniel SLIM / AFP )
Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC., Amerika Serikat (AS). Foto: Daniel SLIM / AFP

Sebagaimana dikutip AFP, banyak pejabat The Fed juga belum melihat gelombang baru pandemi Covid-19 varian Omicron dapat mengubah jalur pemulihan ekonomi secara fundamental.

Selain itu, kenaikan suku bunga juga bakal dilanjutkan pada 2023. Sejumlah pejabat The Fed berpendapat, nilai balance sheet (neraca) bisa segera dikurangi setelah suku bunga dinaikkan lebih awal atau lebih cepat dari yang diperkirakan, melihat outlook meningkatnya perekonomian, pasar tenaga kerja, dan inflasi di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu.

Peluang dikuranginya nilai neraca The Fed di tahun ini menjadi kejutan bagi pasar finansial global, sehingga memicu kenaikan yield US Treasury dan bursa saham global rontok.

Secara terpisah, Economist MNC Sekuritas Tirta Citradi menjelaskan, tren kenaikan yield obligasi AS disebabkan karena The Fed yang semakin hawkish.

“Setelah tapering yang lebih cepat, kemungkinan kenaikan suku bunga akan lebih awal dari yang diperkirakan dan memicu pengurangan bond di balance sheet The Fed. Imbal hasil US Treasury bisa ke level 2%. Apabila ke depan kebijakan The Fed terlalu agresif, dapat memberikan kejutan kepada market dan menyebabkan shock baik saham maupun obligasi,” kata dia.

Ia melanjutkan, dampaknya juga akan terasa pada pasar modal Indonesia. Ini seperti yield SUN yang belakangan meningkat berbarengan dengan depresiasi rupiah.

“Beberapa sentimen lain yang perlu dicermati yakni isu inflasi dan normalisasi kebijakan moneter asing, yang memicu capital outflow lebih dari Rp 80 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) RI. Namun yield SBN tak naik banyak, karena masih ada bank dan BI yang membeli,” ujarnya.

Switching Dana

Suku buga acuan BI dan The Fed
Suku buga acuan BI dan The Fed

Edwin Sebayang mengatakan, ada tiga hal yang menyebabkan yield obligasi pemerintah AS tersebut meningkat. Pertama, sebagai antisipasi terjadinya kondisi taper tantrum yang bakal terjadi pada Maret mendatang.

Kedua, antisipasi kenaikan suku bunga The Fed, dan terakhir sebagai antisipasi kenaikan inflasi di Negara adidaya tersebut.

“Hal ini tentu saja akan berdampak ke pasar saham Indonesia, mengingat kenaikan itu akan membuat kenaikan yield obligasi Indonesia dan membuat rupiah akan melemah, yang secara implisit sebagai antisipasi dari potensi adanya kenaikan suku bunga di Indonesia. Kekhawatiran pelaku pasar akan naik, sehingga mereka memutuskan untuk switching dana ke aset yang berisiko lebih rendah. Kalau hal itu terjadi, IHSG di BEI akan mengalami penurunan,” ungkapnya kepada Investor Daily, Kamis (6/1).

Sedangkan untuk pengaruh potensi suku bunga acuan The Fed yang diperkirakan naik pada Juni, lanjut dia, biasanya dua bulan sebelumnya akan direspons dengan pasar yang bergejolak.

Di sisi lain, pada Januari ini merupakan masa-masa investor melakukan balancing, dan biasanya secara historical Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia masih positif.

“Tapi semua tergantung juga pada perkembangan Covid-19. Tapi kalau saya melihat masih positif, namun, tidak sebesar yang kita perkirakan (sebelumnya). Mungkin, akhir Januari IHSG bisa mencapai 6.700,” papar Edwin.

Pada perdagangan saham di BEI kemarin, IHSG tercatat turun 0,13% ke 6.653,35. Namun, asing melakukan net buy Rp 654,18 miliar. Untuk itu, lanjut Edwin, ada tiga strategi yang bisa dilakukan pelaku pasar, terutama investor institusi.

“Pertama, menjual obligasi-obligasi tenor di atas 10 tahun, sebab ketika nantinya suku bunga naik investor institusi akan ketinggalan. Untuk itu, sebaiknya mereka membeli obligasi jangka pendek 3-5 tahun atau durasi yang lebih pendek,” katanya.

Kedua, di pasar saham, sebaiknya investor masuk ke saham-saham yang tidak terpengaruh kenaikan tingkat suku bunga. Ketiga, tertib memilih sektor yang bisa bergerak positif pada 2022, walaupun terjadi kenaikan suku bunga.

“Tapi, biasanya hal ini tidak akan berpengaruh banyak pada investor ritel dan trader. Biasanya, mereka tidak akan ambil pusing soal ini,” tambahnya.

Untuk investor institusi, Edwin menyarankan untuk masuk ke sektor telekomunikasi beserta turunannya seperti menara maupun gadget. Selain itu, sektor metal, mining, ritel, dan pakan ternak bisa menjadi pilihan menarik.

“Sektor-sektor tersebut masih sangat tinggi konsumsinya oleh masyarakat. Sektor-sektor ini cukup bisa bertahan dalam menghadapi kenaikan suku bunga,” tuturnya.

Inflasi AS 4,68%

Pefindo. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM
Pefindo. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Sedangkan Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin mengatakan, kenaikan yield obligasi AS tersebut terjadi karena pasar mengekspektasi pengetatan kebijakan moneter akan diberlakukan lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Minutes meeting FOMC memberikan persetujuan kenaikan tingkat suku bunga acuan AS akan lebih cepat, yang berarti The Fed kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga lebih awal.

“Risalah The Fed terbaru mengindikasikan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) pada tahun 2022. Pelaku pasar berekspektasi The Fed akan memulainya di Maret 2022,” ujar Ahmad kepada Investor Daily, Kamis (6/1).

Adapun dua faktor penyebab kenaikan Fed funds rate lebih cepat yakni kenaikan tajam inflasi dan pasar tenaga kerja AS. Ahmad menjelaskan, hal itu dikarenakan The Fed punya dual mandate, yaitu stabilitas harga dan lapangan kerja penuh.

“Jadi, perkembangan tingkat inflasi dan tingkat pengangguran menjadi dua variabel utama terkait dengan kebijakan moneter di AS. Untuk tingkat inflasi, acuan bagi The Fed adalah Core PCE inflation di mana telah mencapai 4,68% pada November lalu, jauh di atas target yakni 2%,” ujar dia.

Dari sisi tingkat pengangguran juga telah mencapai level full employment, di 4,2% pada November lalu. Ekonom The Fed menyatakan, tingkat pengangguran alami di AS ada di antara 4,1-4,7%. Bila tingkat pengangguran turun lagi, tingkat inflasi akan meroket.

Ahmad menyampaikan, kenaikan yield itu diperkirakan akan terus berlangsung sepanjang tahun ini, dengan kecepatan yang akan tergantung pada kapan The Fed menaikkan suku bunganya. Jika dilihat dari konsensus analis di Bloomberg, yield obligasi AS tenor 10 tahun akan bergerak sekitar 1,71% pada kuartal I-2022 dan berpotensi naik menjadi 1,85% pada kuartal II-2022.

Tekanan IHSG Temporer

Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza
Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Kenaikan yield pemerintah AS akan mendorong beberapa investor asing memindahkan asetnya dari negara-negara berkembang, seperti Indonesia.

Secara khusus, lanjut dia, hal itu akan mendorong yield obligasi di Indonesia terkerek naik, dengan mengasumsikan premi risiko dan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan tidak berubah. Aliran keluar modal asing juga menekan kinerja IHSG secara temporer.

“Kenapa secara temporer? Itu tergantung pada fundamental pemulihan ekonomi Indonesia. Jika pemulihan ekonomi masih tetap sesuai jalur, pasar saham kemungkinan akan menjadi buruan investor asing. Pemulihan ekonomi berarti kinerja emiten-emiten mulai membaik, begitu juga dengan bottom line mereka. Itu membuat saham-saham mereka bergerak naik,” ujar dia.

Sementara untuk obligasi akan tergantung pada kebijakan moneter BI. Ada kemungkinan Bank Indonesia mulai sedikit mengetatkan kebijakan moneternya, mempertimbangkan inflasi yang kemungkinan lebih tinggi dan mempertimbangkan dinamika eksternal.

Sehingga, lanjut Ahmad, kemungkinan besar pasar saham akan lebih menarik daripada pasar obligasi di tahun 2022. Investor akan cenderung melirik saham-saham cyclical dan meninggalkan saham defensive. Sektor komoditas diperkirakan masih akan menjadi favorit ditengah pemulihan ekonomi global.

“Pemulihan ekonomi akan mendorong permintaan komoditas tetap tinggi, karena pabrik-pabrik mulai meningkatkan produksi. Selain itu, sektor kesehatan dan komunikasi masih menjadi pilihan investor karena meski pemulihan sedang berjalan, pandemi masih belum benar-benar berakhir. Perbankan adalah pilihan selanjutnya,” ujar dia.

Terkompensasi Kenaikan Pendapatan

Alfred Nainggolan, Kepala Riset Praus Capital. Sumber: BSTV
Alfred Nainggolan, Kepala Riset Praus Capital. Sumber: BSTV

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menilai tren kenaikan imbal hasil US Treasury disebabkan oleh isyarat percepatan kenaikan suku bunga yang akan dilakukan The Fed. Naiknya suku bunga The Fed atau berakhirnya suku bunga rendah akan membuat pasar melepas obligasi untuk mendapat yield yang lebih tinggi dengan melakukan buyback melalui harga yang lebih murah, atau mengincar obligasi dengan kupon atau tingkat yield yang lebih tinggi.

“Pada saat terjadi kenaikan suku bunga, tentu untuk penerbitan obligasi baru kuponnya akan menyesuaikan (naik). Inilah yang diantisipasi pasar. Sebelum terjadi kenaikan suku bunga, mereka melepas obligasi untuk mendapatkan yield lebih tinggi sebagai konsekuensi suku bunga yang naik,” tutur Alfred kepada Investor Daily, Kamis (6/1).

Ia mengamini bahwa kenaikan suku bunga akan menaikkan tingkat cost of fund, sehingga kupon yang diberikan harus lebih tinggi dari sebelumnya karena suku bunga acuan naik. Kondisi tersebut akan meningkatkan biaya pendanaan bagi perusahaan, alhasil kenaikan yield sebagai imbas kenaikan suku bunga akan menekan harga saham.

Di sisi lain yang perlu menjadi perhatian, kata Alfred, kenaikan suku bunga ini merupakan upaya untuk menekan inflasi yang meningkat seiring dengan ekonomi yang mulai pulih. Artinya, bagi perusahaan, sekalipun mengalami kenaikan biaya pendanaan, namun akan terkompensasi oleh kenaikan pendapatan karena pulihnya permintaan.

“Jadi, kenaikan suku bunga juga cukup memberikan pengaruh (negatif) terhadap pasar saham. Namun, saya melihat, pengaruhnya seharusnya tidak terlalu signifikan karena kenaikan tersebut merupakan konfirmasi atas pemulihan ekonomi. Tinggal dilihat kondisi perusahaan atau emitennya,” ujarnya.

Adapun untuk emiten yang masih merugi dan kondisi leverage-nya tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi itu akan memberatkan. Soalnya, dampak kenaikan biaya pendanaan tidak mampu ditutupi oleh perbaikan performa emiten akibat pemulihan ekonomi, lantaran kondisi emiten yang masih merugi.

“Sebaliknya, bagi emiten yang labanya sudah pulih dan tidak memiliki isu besar dalam kebutuhan pendanaan, tidak akan menjadi masalah. Dalam tren kenaikan imbal hasil US Treasury, kenaikan suku bunga merupakan sentimen makro, maka dampak yang dihasilkan terhadap sektor pun akan sangat tergantung kondisi sektor atau emitennya,” tambah Alfred.

Sementara untuk yield SUN atau obligasi di dalam negeri tidak berbeda jauh dengan kondisi US Treasury. Alfred menegaskan, kenaikan yield tersebut lebih disebabkan aksi jual pasar untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Dampak kenaikan suku bunga The Fed, lanjut dia, juga sangat bergantung pada kondisi masing-masing negara.

“Bagi negara-negara yang memiliki fundamental baik, bank sentral mereka akan merespons berbeda dalam mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed, sehingga dampak terhadap kenaikan yield juga berbeda. Namun, untuk arahnya tentu sama, di mana kenaikan suku bunga akan menaikkan yield,” paparnya.

Direktur Asosiasi Riset & Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus
Direktur Asosiasi Riset & Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus 

Sementara itu, Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengungkapkan, dampak dari naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS mendorong imbal hasil SUN RI naik dan akan mendorong harga obligasi turun. Kecenderungan itu terlihat sudah sejak 4-6 minggu yang lalu.

Indonesian Bond Pricing Agency (IBPA) mencatat, yield obligasi Pemerintah Indonesia untuk tenor 10 tahun sebesar 6,57% per 5 Januari 2022. (jm/eva/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN