Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Harga SUN Diprediksi Menguat pada Pekan Ini

Senin, 6 Juni 2022 | 05:00 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Harga Surat Utang Negara (SUN) pekan ini diprediksi akan menguat dengan imbal hasil (yield) diperkirakan turun ke kisaran 6,95% untuk yield 10 tahun. Proyeksi ini turut dipengaruhi peningkatan yield US Treasury yang terlihat pada perdagangan Jumat (3/6/2022).

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana menjelaskan, meski ada sinyal positif penurunan yield dalam negeri, namun diperkirakan akan ada dorongan peningkatan yield dari US Treasury. “Jadi secara umum (SUN) sideway sampai pekan depan,” ujarnya kepada Investor Daily, Minggu (5/6/2022).

Menurut Fikri, sejumlah data yang akan memengaruhi SUN pekan ini. Antara lain initial jobless claims Amerika Serikat (AS) yang pekan lalu menunjukkan angka positif atau kecil. Di sisi lain ternyata non-farm payrolls AS tertekan, sehingga perlu menjadi perhatian investor pada perdagangan SUN pekan ini. Pasalnya, kondisi pasar tenaga kerja AS berpotensi meningkatkan yield US Treasury jangka panjang dan bisa berdampak pada yield SUN, meski nilai tukar rupiah dipercaya masih akan terjaga.

Baca juga: Fundamental Ekonomi Bagus, BI Percaya Diri Tetap Pertahankan BI7DRR

Sedangkan dari dalam negeri, Fikri memperkirakan aliran modal asing sudah mulai masuk ke Indonesia, khususnya ke SUN, terlihat dari lelang dua pekan terakhir yang sudah positif. Ditambah adanya private placement dan Samurai Bond yang diterbitkan, ia meyakini yield SUN Indonesia akan stabil. Global bond semacam ini diminati investor asing karena akan terhindar dari volatilitas nilai tukar.

“Jadi bisa dikatakan sentimen global ada negatif, tetapi sentimen domestiknya sangat positif sebenarnya,” papar Fikri.

Dalam jangka pendek, Fikri menilai dampak yield US Treasury akan terbatas terhadap yield SUN Indonesia. Alhasil, pekan ini akan ada divergensi pergerakan antara SUN jangka pendek dan jangka panjang.

Sementara itu, lanjutnya, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga masih dinilai tepat saat ini karena memperlihatkan kepercayaan diri bank sentral terhadap kondisi ekonomi di Tanah Air. Inflasi Indonesia dapat terjaga dengan kondisi ekonomi yang sudah cukup baik, didukung permintaan tambahan subsidi oleh pemerintah sekitar Rp 520 triliun untuk listrik dan bbm tahun depan.

Baca juga: WIR Group Punya 5 Paten Global Berbasis Augmented Reality

“Jadi tidak ada kekhawatiran inflasi dari harga yang diatur pemerintah. Khawatir kemarin itu dari capital outflow. Selama capital outflow terkendali, kekhawatiran untuk rupiah tiba-tiba anjlok atau inflasi tiba-tiba, juga kecil,” jelas dia.

Pada 7 Juni 2022, pemerintah berencana melelang tujuh seri SUN dengan target indikatif Rp 20 triliun dan target maksimal Rp 30 triliun. Fikri optimistis, target ini akan tercapai dengan penawaran masuk diperkirakan mencapai Rp 40 triliun, lebih positif dibandingkan perdagangan SUN dua pekan sebelumnya.

Pekan ini, investor domestik diperkirakan masih akan mendominasi pembelian SUN, utamanya dari sektor perbankan, asuransi, dan dana pensiun. “Perbankan mungkin masih memburu (SUN) jangka pendek, asuransi dan dana pensiun jangka panjang,” imbuhnya.

Sementara itu, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menilai, penguatan yield SUN sudah cukup terbuka dan mulai menguji level imbal hasil di bawah 7% untuk yield 10 tahun. Namun dengan peningkatan yield US Treasury, Indonesia masih belum bisa mengharapkan investor asing untuk masuk kembali karena The Fed masih punya rencana menaikkan suku bunga tahun ini.

Baca juga: Sepanjang 2021, BRI (BBRI) Setor Rp 27,09 Triliun ke Negara

“Minggu ini yield 10 tahun kita akan tetap bertahan di 7%,” kata Ramdhan.

Ramdhan menyebutkan, sentimen yang perlu dicermati investor terutama dari sisi eksternal adalah pergerakan US Treasury. Sedangkan dari internal, ia ikut optimistis kondisi ekonomi Indonesia akan terjaga dan stabil. Target pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi 5% juga Ramdhan nilai cukup realistis.

“Sekarang banyak industri mulai tumbuh dan ekspansif, kita lihat juga pergerakan surat utang di pasar mulai banyak dibanding dua tahun kemarin,” tegas dia.

Untuk lelang SUN, Ramdhan memprediksi penawaran masuk akan mencapai Rp 50 triliun, yang masih didominasi investor domestik. “Kita masih memanfaatkan likuiditas yang memang masih cukup baik ini untuk bisa membuat pasar lebih hidup. Kenyataannya memang investor kita yang kuat meramaikan pasar surat utang Indonesia, terutama perbankan,” pungkasnya. (C02)

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN