Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Pasar Obligasi Indonesia Diprediksi Volatil pada Semester II-2022

Rabu, 22 Juni 2022 | 21:06 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) memprediksi pasar obligasi Indonesia cenderung volatil pada semester II-2022. Hal itu dikarenakan banyaknya faktor resiko yang menghantui pasar obligasi Indonesia di paruh kedua tahun ini. Terutama berasal dari risiko ekonomi global.

Head of Research & Market Information Department PHEI Roby Rushandie mengatakan, volatilitas jangka pendek dapat berpotensi mendorong kenaikan yield pada Surat Berharga Negara (SBN). “Hal itu dipengaruhi oleh faktor risiko ekonomi global. Mulai dari pengetatan moneter negara-negara maju, kenaikan inflasi global, tensi geopolitik, perkembangan pandemi Covid-19, hingga stagflasi,” ungkapnya di sela virtual BEI Edukasi Wartawan terkait Proyeksi Obligasi pada Semester II-2022, Rabu (22/6/2022).

Hal ini, lanjut Roby, juga membuat imbal hasil US Treasury semakin menarik. Bahkan, spread antara US Treasury dengan SUN semakin dekat, yaitu hanya disekitar 400 basis poin. Alhasil, banyak investor memilih kembali membenamkan investasinya ke US Treasury yang juga merupakan safe heaven. Kinerja SBN pun secara year to date (ytd) per 15 Juni 2022 terlihat sudah sangat menurun. Hal ini ditunjukan pada Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun 1,80% year on year (yoy) dari level 332,8078 menjadi 326,8177.

Baca juga: Tutup Utang, Duta Anggada (DART) Tawarkan Obligasi Rp 300 Miliar  

“Indonesia Government Bond Return Index (INDOBeXG-Total Return) turun -2,09%yoy dari 326,1186 menjadi 319,2893,” jelasnya.

Lebih lanjut Roby mengatakan, investor Asing diperkirakan masih dalam kondisi net sell SBN. Kepemilikan investor asing pun mulai turun, apabila pasar SBN pada sebelum pandemi menjadi penopang utama atau pemain kunci karena memegang porsi sebesar 40%, kini berkurang hanya sebanyak 16-17% saja. Bahkan, nilai net sell yang dibukukan asing secara ytd telah mencapai Rp 87 triliun. “Angka ini melebihi total akumulasi net sell untuk full year 2021,” tambahnya.

Meski demkian, Roby menambahkan, saat ini investor domestik masih menjadi penopang demand pasar SBN. Hal ini ditambah lagi, kondisi makro domestik yang terjaga, penurunan defisit fiskal, dan burden sharing BI menjadi support pasar. Bahkan, disaat negara-negara lain diprediksi mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang drastis, Indonesia bahkan masih diperkirakan masih akan tumbuh sebesar 5%. Arah kebijakan moneter BI cenderung menjaga momentum pemuluhan ekonomi dengan mengoptimalkan normalisasi non-suku bunga.

Baca juga: BEI: Total Emisi Obligasi dan Sukuk Sepanjang 2022 Capai Rp 64,2 T

Sedangkan untuk potensi pasar obligasi korporasi, Roby mengatakan masih menunjukan pertumbuhan. Berdasarkan Indonesia Corporate Bond Return Index (INDOBeXC-Total Return) tercatat naik +2,56%yoy dari 367,9748 menjadi 377,3892. Tahun ini, potensi obligasi korporasi yang akan jatuh tempo mencapai Rp 145,97 triliun.

Menurut Roby, jika pada sebelum pandemi, biasanya peluang penerbitan obligasi korporasi bisa mencapai dua kali lipat dari jumlah obligasi yang jatuh tempo. Namun, sejak pandemi yang terhadi kecenderungannya kurang atau bahkan sama dengan jumlah yang jatuh tempo.

“Secara ytd penerbitan obligasi korporasi telah mencapai Rp 64,42 triliun. Oleh karena itu, dalam skenario moderat, peluang penerbitan obligasi korporasi diperkirakan sebesar Rp 105 triliun-110 triliun,” tutupnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN