Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Masih Menarik, Pasar Obligasi Indonesia Cukup Resilient

Jumat, 24 Juni 2022 | 10:45 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Head of Fixed Income Analyst Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, obligasi masih menarik. Sebab, pasar obligasi Indonesia cukup resilient. Di tengah ketidakpastian perekonomian dunia, pasar obligasi Indonesia juga mengalami kenaikan yield akibat foreign fund outflow.

“Namun dukungan investor domestik untuk obligasi pemerintah yang tinggi membuat pasar obligasi Indonesia cukup resilient, dimana kenaikan yield obligasi pemerintah Indonesia relatif lebih kecil dibandingkan negara-negara Emerging Market lainnya,” tulis Handy dalam risetnya, Jumat (24/6/2022).

Baca juga: Mandiri Sekuritas: Indonesia Resilient Risiko Eksternal, IHSG Capai 7.800 Akhir 2022

Handy menjelaskan, dukungan investor domestik kepada obligasi pemerintah akan terus solid karena faktor likuiditas rupiah yang masih melimpah. Secara umum, terjadi pertumbuhan pada kredit perbankan sebesar ±9%, namun Dana Pihak Ketiga (DPK) berupa tabungan, giro, dan deposito juga mengalami kenaikan yang lebih tinggi yakni ±10%.

Hal ini, lanjut dia, menyebabkan tren loan-to-deposit ratio perbankan terus menurun, yang berarti sistem perbankan Indonesia memiliki likuiditas yang memadai. Dampaknya suku bunga deposito terus mengalami penurunan, sehingga selisih antara bunga deposito dan yield SUN semakin melebar.

“Kondisi ini membuat dukungan investor domestik terhadap obligasi pemerintah Indonesia akan terus berlanjut,” tambah Handy.

Baca juga: Mandiri Sekuritas: IHSG Bergerak Bervariasi Intip Target Harga Empat Saham Pilihan Berikut

Menurut Handy, tren likuiditas pada perbankan akan terus memadai, mengingat Bank Indonesia masih akan melakukan burden sharing SKB3, dengan memberikan membeli obligasi pemerintah di pasar perdana sejumlah Rp 220 triliun. Selain itu, pemerintah masih menjalankan ekspansi fiskal dimana defisit APBD masih di atas 4% dari PDB serta terjadi surplus pada neraca perdagangan Indonesia, akan turut menjaga likuiditas kedepannya.

Lebih lanjut Handy mengatakan, di tengah ketidakpastian global yang masih terjadi akibat pandemi, geopolitik perang Rusia dan Ukraina, disrupsi rantai pasokan, kenaikan inflasi yang diikuti dengan kenaikan suku bunga global, maka diversifikasi portofolio investasi menjadi sangat penting.

“Obligasi menjadi instrumen yang menarik karena memberikan cash flow kupon yang pasti, dengan tingkat imbal hasil yang masih menarik dan nilai pokok investasinya akan kembali lagi pada saat jatuh tempo,” tutup Handy.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN