Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Harga SUN Cenderung Melemah pada Pekan Ini

Senin, 27 Juni 2022 | 05:00 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Harga Surat Utang Negara (SUN) diprediksi kembali terkoreksi atau turun pada pekan ini. Hal ini seiring kenaikan imbal hasil (yield) 10 tahun yang diprediksi bergerak antara 7,3-7,5%.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menjelaskan, yield 10 tahun surat berharga Indonesia akan kembali tertekan akibat rangkaian kenaikan suku bunga The Fed (Fed Fund Rate/FFR). Pasalnya, The Fed diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga lagi, setelah kenaikan sebelumnya disebut-sebut menjadi kenaikan tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Advertisement

“Kenaikan FFR membuat pasar kita panik. Yield kita yang sudah sekitar 7% bahkan sempat di bawah 7% sedikit kemarin, melemah kembali sampai 7,5% minggu lalu. Tetapi akhir minggu kemarin sudah mulai menguat, yield mengecil saya lihat menjadi sekitar 7,3%,” ujar Ramdhan kepada Investor Daily, Minggu (26/6/2022).

Baca juga: IHSG Masih Bertenaga, Jangan Lewatkan ACES, SMGR, PTPP, WIKA

Ramadhan memperkirakan, The Fed masih akan menaikkan suku bunga secara agresif karena inflasi Amerika Serikat (AS) yang tinggi. Menaikkan suku bunga menjadi pilihan negara adidaya tersebut untuk meredam inflasi yang meroket. Ramdhan tidak bisa memungkiri, hal ini akan membuat pasar obligasi di Indonesia kembali tertekan, apalagi Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunganya.

“Banyak negara memang sudah menaikkan suku bunga bank sentralnya. Ada beberapa negara termasuk Indonesia yang belum karena masih cukup yakin dengan kondisi makro ekonomi,” ungkap dia.

Ia menilai wajar bila BI masih mempertahankan suku bunga acuan. Sebab, bertujuan menggerakkan ekonomi yang dalam fase pemulihan setelah pandemi. Sehingga pertimbangannya, dengan mempertahankan suku bunga rendah, ekonomi bisa lebih terdorong setelah terpuruk pada pandemi kemarin.

“Cuma memang ancaman dari kenaikan suku bunga global akhirnya membuat suku bunga kita jadi kurang menarik di mata global,” imbuhnya.

Baca juga: Ekonomi RI Resilient, Asing Antusias Investasi

Menurut Ramdhan, tidak naiknya suku bunga BI juga dinilai akan memancing dana asing untuk keluar dari pasar obligasi Indonesia yang saat ini porsinya hanya sekitar 15-16%. Namun secara nilai, jumlah investasi asing di pasar obligasi Indonesia disebut-sebut masih cukup banyak, yakni lebih Rp 800 triliun.

“Memang masih ada potensi mereka keluar. Namun, saya melihat mereka sebetulnya cukup nyaman dengan yield, likuiditas, dan kondisi pasar kita sekarang ini,” sambung Ramdhan.

Menurut dia, investor domestik masih menganggap SUN sebagai instrumen yang cukup aman dan kuat. Salah satunya Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini terlihat dari transaksi pembelian SUN yang masih ditopang oleh minat investor domestik.

“Saya melihat tekanan global masuk cukup besar jadi akhirnya dengan potensi kenaikan FFR, investor akan cukup hati-hati dan mengurangi likuiditas,” imbuh Ramdhan.

Baca juga:  Banyak Data Vendor Belum Siap Terapkan ITCH Protocol, BEI Kaji Pelonggaran

Perlu diketahui, pemerintah akan kembali melelang sukuk negara yakni Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 28 Juni 2022. Seri SBSN yang akan dilelang adalah seri Surat Perbendaharaan Negara - Syariah (SPN-S) dan Project Based Sukuk (PBS) untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2022. Dalam lelang ini, pemerintah menaruh target indikatif senilai Rp 9 triliun.

Ramdhan memprediksi, penawaran yang akan masuk pada lelang tersebut masih di atas target indikatif pemerintah, yakni mencapai Rp 20 triliun. Meski ia akui, volatilitas pasar obligasi saat ini cukup tinggi dan biasanya membuat kehati-hatian lebih tinggi sehingga jumlah peminat terkait lelang akan turun.

“Karena domestik investor kita masih membutuhkan instrumen untuk portofolio mereka,” jelasnya.

Pada lelang yang sama, Ramdhan memproyeksikan investor perbankan masih akan mendominasi karena likuiditas mereka masih tinggi. Perbankan dinilai butuh instrumen yang aman untuk portofolionya, demi mengoptimalkan dana pihak ketiga yang ada di mereka. (C02)

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN