Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Senior Portfolio Manager, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Syuhada Arief

Senior Portfolio Manager, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Syuhada Arief

Pasar Obligasi Domestik Dinilai Masih Menarik Karena Ini…

Selasa, 26 Juli 2022 | 09:36 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id -  Meningkatnya kekhawatiran resesi Amerika Serikat dan juga perlambatan ekonomi global menjadi tantangan bagi industri pasar obligasi.

Senior Portfolio Manager, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Syuhada Arief mengatakan, secara umum kelas aset obligasi akan menghadapi lebih banyak tantangan di tengah periode kenaikan suku bunga dan inflasi, sesuai dengan prinsip bahwa suku bunga dan harga obligasi berbanding terbalik.

“Namun fundamental makro ekonomi Indonesia yang lebih baik dan lebih siap dalam menghadapi pengetatan kebijakan moneter global diharapkan dapat memberikan dukungan bagi pergerakan pasar obligasi domestik,” katanya dalam risetnya, dikutip Selasa (26/7/2022).

Syuhada menyebutkan ada beberapa faktor positif yang mendukung pasar obligasi domestik di antaranya adalah kebijakan pemerintah untuk menjaga beberapa harga barang membuat inflasi tahun 2022 walaupun meningkat tetap terkendali, basis investor yang lebih terdiversifikasi naiknya partisipasi investor domestik dan penurunan kepemilikan investor asing (saat ini persentase kepemilikan asing dibawah 16%) berkontribusi pada stabilitas pergerakan pasar obligasi domestik.

Baca juga: Tower Bersama (TBIG) Rilis Obligasi Rp 2,2 Triliun

Selain itu, Kementerian Keuangan menyatakan bahwa terjadi surplus anggaran pada bulan Mei sebesar Rp132,2 triliun atau setara dengan 0,74%dari PDB.  Kementerian Keuangan pun menurunkan target pembiayaan melalui lelang sebesar Rp147 triliun, di mana ini berarti dalam setiap lelang target penerbitan turun dari Rp 20 triliun menjadi Rp 5 triliun.

“Kita melihat kebijakan BI dalam melakukan pengetatan moneter terutama suku bunga BI akan berperan penting terhadap sentimen investor global terhadap pasar obligasi Indonesia. Dalam jangka menengah kami memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun kembali ke kisaran 6,5%-7,0%,” sebutnya.

Meski demikian, dari sisi eksternal, perkembangan konflik geopolitik dan lonjakan kasus Covid Tiongkok menjadi risiko utama yang yang perlu dicermati karena memiliki dampak yang siginifikan pada tekanan inflasi. Hal ini dapat mempengaruhi laju perubahan kebijakan moneter, dan pembelian aset. Sementara dari sisi internal perkembangan harga minyak dunia, dan komoditas utama ekspor memberikan dampak yang besar terhadap beban subsidi energi, dan nilai tukar rupiah.

Baca juga: Sepanjang 2022, BEI Catat Total Emisi Obligasi dan Sukuk Rp 85,48 T

Di samping itu laju pertumbuhan kredit menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati mengingat selama ini bank menjadi pembeli mayoritas SBN. Kebijakan BI untuk menaikkan GWM secara bertahap juga harus dicermati efeknya dalam mengurangi likuiditasi di pasar.

Untuk itu, Syuhada menjelaskan ada beberapa strategi investasi yang diterapkan guna mendorong kinerja portofolio. Di mana, pengelolaan portofolio didasari pada pendekatan top-down analisa makro ekonomi global, dan domestik serta kekuatan analisa bottom-up pemilihan efek berdasarkan fundamental yang solid untuk pembentukan portofolio yang optimal

“Dengan volatilitas pasar yang tinggi, berbeda dengan strategi pada sebelumnya, kami tidak memfokuskan strategi pada overweight atau underweight duration vs durasi tolok ukur, namun kami lebih fokus kepada relative valuation methodology. Pada strategi ini kami fokus pada pemilihan seri obligasi atau alokasi sektor tenor pada kurva imbal hasil yang memberikan spread paling optimal relative dibandingkan spread imbal hasil pada seluruh sektor tenor yang lain. Di samping itu kami juga terus mencermati likuiditas, dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi memberikan hasil optimal dengan risiko yang terukur,” jelasnya.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN