Menu
Sign in
@ Contact
Search

Imbas Kenaikan Suku Bunga BI, Harga SUN Lagi-lagi Melemah

Senin, 21 November 2022 | 05:00 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) pekan ini diperkirakan kembali meningkat pada kisaran 6,95-7,23%. Akibat penyesuaian permintaan pelaku pasar akan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) dan The Fed. Disisi lain, resesi global diproyeksikan mempengaruhi permintaan lelang SUN pekan ini. Hasilnya, harga SUN lagi-lagi bakal melemah

Fixed Income Analis Ahmad Nasrudin mengatakan, kenaikan yield 10 tahun akan bergerak secara moderat sejalan dengan penyesuaian dari permintaan pasar akibat kenaikan suku bunga dari Bank Indonesia pada 17 November 2022 lalu. Selain itu pasar akan menantikan kabar dari The Fed dan ECB pada pekan ini.

Yield cenderung bergerak naik di pekan depan karena memang spread antara suku bunga domestik terhadap suku bunga AS semakin menyempit karena Bank Indonesia menaikkan suku bunga pada tingkat yang lebih moderat daripada the Fed, membuat pasar domestik rentan terhadap pembalikan modal,” jelasnya kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Tabel Imbal Hasil: Merdeka Gold (MDKA) Terbitkan Obligasi Rp 4 Triliun

Tabel Imbal Hasil

Baca juga:Moratelindo (MORA) Siap Lunasi Obligasi Sebesar Rp 460 Miliar

Secara terpisah, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus menjelaskan, pasar obligasi saat ini perlahan tapi pasti mulai memasuki masa stabil dan tenang, meskipun belum berhasil berada di bawah 7% untuk imbal hasil dengan tenor untuk 10 tahun, namun ini sebetulnya sudah lebih cukup. Secara jangka pendek, ruang penurunan imbal hasil obligasi terlihat masih ada, namun volatilitas akan cukup tinggi di pasar yang berpotensi untuk mendorong kenaikan imbal hasil kembali.

“Apabila situasi dan kondisi kondusif seperti ini, bukan tidak mungkin akhir tahun nanti, imbal hasil obligasi 10 tahun berada di bawah 7,5%. Hati hati, dan cermati setiap situasi dan kondisi yang ada,” ujarnya.

Nico merincikan, rincian imbal hasil mulai dari tenor 5 tahun yakni 6,85-6,95%, tenor 10 tahun yakni berkisar pada 7-7,10%, tenor 15 tahun pada 7,05-7,2%, dan 20 tahun pada 7,15 – 7,25%.

Proyeksi Lelang SUN

Untuk diketahui, pada Selasa, 22 November 2022 mendatang pemerintah akan melakukan lelang SUN dalam mata uang Rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2022.  Dalam lelang kali ini pemerintah akan melelang sebanyak 8 seri dengan target indikatif minimal Rp 13,5 triliun dan maksimal Rp 20,25 triliun.

Baca juga: Selain Rights Issue, Waskita Karya (WSKT) Mau Terbitkan Obligasi dan Sukuk Rp 3,9 T

Ahmad melanjutkan, adanya resesi global akan mempengaruhi serapan pasar domestik secara tidak langsung. Dua alasan menjelaskan bagaimana itu berdampak pada pasar obligasi. Pertama, resesi mengakibatkan permintaan yang lebih lemah terhadap minyak dan itu akan mendorong harganya untuk turun. Akibatnya, inflasi sisi penawaran, akibat harga minyak yang tinggi, dapat ditekan turun.

Namun demikian, seberapa jauh harga minyak turun, itu semua tergantung pada seberapa pulih risiko geopolitik. Perang Ukraina-Russia berdampak pada tingginya harga minyak karena Rusia menggunakan power sebagai produsen minyak global untuk menghadapi tekanan negara-negara barat.

Kedua, lanjut Ahmad, resesi bisa menjadi berita positif bagi pasar obligasi global. Dengan asumsi inflasi sisi penawaran turun. Karena itu, harga minyak harus turun, bank sentral akan membalikkan stance mereka dan mengambil kebijakan moneter longgar dengan menurunkan suku bunga.

Baca juga: 2023, Sarana Multigriya Akan Terbitkan Obligasi Rp 3,9 Triliun

“Kesimpulannya, saat ini investor sedang menanti titik terendah di pasar obligasi sebelum masuk kembali. Mereka akan masuk sebelum kebijakan moneter berbalik arah. Dengan begitu, mereka mendapatkan harga obligasi pada titik terendah dan mendapatkan keuntungan ketika harganya naik akibat penurunan suku bunga oleh bank sentral,” tuturnya.

Soal minat asing pada pasar SUN dalam kondisi seperti ini, Ahmad menyampaikan, bahwa serapan investor asing tidak banyak terpengaruh karena inflasi domestik memang meningkat pada persentase yang lebih moderat dibandingkan dengan negara-negara maju. Inflasi yang lebih rendah daripada yang diantisipasi dan daripada di negara-negara maju membuat bank sentral untuk menghindari pengetatan moneter yang agresif.

“Dan ini membuat kuatnya permintaan domestik untuk mendukung kinerja pasar, terutama untuk mengimbangi koreksi selama investor melepas kepemilikan mereka,” kata dia.

Tabel pembelian (penjualan) oleh investor di pasar sekunder surat utang pemerintah:

Tabel pembelian (penjualan) oleh investor di pasar sekunder surat utang pemerintah:

Sebagai hasilnya, pasar obligasi mata uang lokal Indonesia menjadi yang terbaik di Asia secara year to date (ytd). Pasar membukukan pengembalian 5,6% ytd per 16 November 2022, mengalahkan peers di Asia, sebagaimana seperti Tiongkok (4,7%), India (4,3%), dan Malaysia (-2,5%).

Sementara itu, Nico memaparkan, pasar SUN saat ini masih didominasi oleh kepemilikan dari investor lokal yang kian dominan. Hal ini memberikan dampak yang positif yakni volatilitas di pasar obligasi yang semakin berkurang.

Baca juga:

Ia juga menyampaikan bahwa investor asing hanya menggenggam obligasi Indonesia hanya sebesar 14%. Namun demikian, Pilarmas meyakini  bahwa investor asing pasti akan kembali, lantaran Indonesia sendiri adalah pemilik dari imbal hasil obligasi terseksi nomor tiga di asia pacifik, setelah Pakistan dan India.

Dengan demikian, Nico memproyeksikan, lelang kali ini tetap akan didominasi oleh pelaku pasar dan investor dalam negeri, namun bukan berarti lelang kali ini tidak menarik bagi investor asing. Namun lebih kepada momentum yang mengatakan bahwa ini belum saatnya bagi investor asing untuk mulai masuk.

“Sejauh ini kami melihat, kurang tertariknya pelaku pasar dan investor akan membuat total penawaran diperkirakan masih akan sepi peminat, dan hanya berkisar antara Rp 25 triliun dan Rp 30 triliun. Apabila imbal hasil yang diminta terlalu tinggi, mungkin pemerintah akan mengurangi serapannya,” tuturnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com