Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kegiatan di tambang Adaro.

Salah satu kegiatan di tambang Adaro.

Adaro Terbitkan 'Global Bond' US$ 750 Juta

Farid Firdaus, Senin, 28 Oktober 2019 | 09:37 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melalui anak usahanya, PT Adaro Indonesia, akan menerbitkan surat utang global (global bond) senilai US$ 750 juta. Surat utang yang bakal dicatatkan di Bursa Efek Singapura (SGX) tersebut ditawarkan dengan bunga 4,25% per tahun dan jatuh tempo pada 2024.

Sekretaris Perusahaan Adaro Energy Mahardika Putranto mengatakan, Adaro Indonesia bersama perseroan sebagai penjamin dan para pembeli awal global bond, yakni DBS Bank Ltd, Citigroup Global Markets Singapore Ltd, UBS AG cabang Singapura, MUFG Securities Asia (Singapore) Ltd, dan OCBC Ltd melakukan penandatanganan purchase agreement dan penentuan harga untuk penerbitan surat utang pada 24 Okotber 2019. 

“Dana hasil penerbitan akan digunakan Adaro Indonesia untuk melunasi sebagian utang yang telah ada, kebutuhan umum perseroan dan belanja modal,” jelas Mahardika dalam keterangan resmi.

Adapun global bond ini telah meraih peringkat B1a dari Moody’s dan BBB- dari Fitch Ratings. Rating ini mencerminkan prospek stabil. Aksi korporasi ini juga diharapkan memberikan hasil yang positif bagi kinerja keuangan perseroan. 

Menurut Mahardika, berdasarkan purchase agreement, Adaro Indonesia dan Adaro Energy sebagai penjamin akan menadatangani indenture dengan Bank of New York Mellon sebagai trustee. Tak ketinggalan, keduanya juga turut menandatangani dokumen lainnya terkait surat utang. Penerbitan surat utang ini bukan merupakan transaksi material lantaran memiliki nilai kurang dari 20% dari ekuitas perseroan per 30 Juni 2019.

Sebagai informasi, terakhir kali Adaro Energy menerbitkan global bond adalah satu dekade lalu, yakni 22 Oktober 2009. Ketika itu, perseroan menawarkan senior guaranteed notes senilai US$ 800 juta dan memiliki jatuh tempo selama 10 tahun. Suku bunga yang diraih perseroan saat itu sebesar 7,62%. Perseroan memanfaatkan hasil emisi obligasi untuk kebutuhan ekspansi.

Aksi penerbitan global bond Adaro turut menambah daftar emiten yang menerbitkan obligasi global tahun ini. Pertengahan Oktober lalu, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) sukses menerbitkan obligasi sebesar US$ 225 juta. Obligasi tersebut jatuh tempo pada 2025 dengan tingkat kupon 7,25% per tahun.

Pertengahan September lalu, PLN juga tercatat berhasil melakukan penawaran obligasi berdenominasi yen (Samurai Bond) senilai 23,2 miliar yen atau setara Rp 3 triliun. Aksi korporasi ini merupakan yang pertama bagi PLN.  Perseroan menunjuk empat bank sebagai join lead, yakni Mizuho Bank Ltd, Morgan Stanley, Nomura, dan SMBC Nikko.

Lebih lanjut, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mempertimbangkan untuk menerbitkan global bond sebagai salah satu sumber kebutuhan likuiditas perseroan pada tahun depan. Nilainya diproyeksikan sekitar US$ 250 Juta.

Target

Sementara itu, Adaro Energy menargetkan produksi batubara dari tambang Kestrel yang berlokasi di Queensland, Australia naik 40% menjadi 6,7 juta ton tahun ini. Perseroan berharap mulai mendapatkan untung dari tambang tersebut setelah resmi mengakuisisinya pada Agustus tahun lalu.

Sebelumnya, Chief Financial Officer Adaro Energy Lie Luckman mengatakan, pada tahun ini, perseroan tidak mengeluarkan biaya ekspansi yang besar pada tambang Kestrel lantaran perseroan hanya memanfaatkan kapasitas produksi yang sudah terpasang. “Kestrel adalah tambang underground yang pertama kali perseroan punya. Kami berupaya meningkatkan efisiensi operasi di sana,” jelas dia, belum lama ini.

Seperti diketahui, Adaro bersama EMR Capital Ltd membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) bernama Kestrel Coal Resources Pty Ltd dalam mengakuisisi 80% tambang Kestrel dari Rio Tinto. Pada JV tersebut, Adaro menguasai 48% dan EMR Capital Ltd menguasai 52%. Nilai akuisisi mencapai US$ 2,25 miliar.

Menurut Lie Luckman, sebanyak 60% sumber pendanaan akuisisi tersebut berasal dari pinjaman bank. Pada tahun ini, perseroan belum berencana melakukan pembiayaan kembali (refinancing) atas utang tersebut. Berdasarkan laporan keuangan Adaro per Juni 2019, perseroan telah mengeluarkan investasi pada Kestrel sebesar US$ 528,03 juta, naik dibanding investasi pada 31 Desember 2018 yang mencapai US$ 488,10 juta.

Sepanjang 2019, Adaro mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 450-600 juta. Sebanyak US$ 200 juta dari alokasi tersebut dikucurkan untuk anak usaha perseroan Adaro Metcoal Companies (AMC).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA