Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawati mengamati layar elektronik perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawati mengamati layar elektronik perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Alfamart dan Mandala Multifinance Siapkan Dana Pelunasan Obligasi Rp 1,11 Triliun

Senin, 22 Maret 2021 | 14:55 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id -  Sebanyak dua emiten telah menyatakan kesiapan dana untuk membayar obligasi jatuh tempo dalam waktu dekat. Total obligasi jatuh tempo tersebut mencapai Rp 1,11 triliun. Kedua perusahaan tersebut adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Mandala Multifinance Tbk (MFIN).

Sekretaris Perusahaan Sumber Alfaria Trijaya Tommy Widian mengatakan, emiten pengelola brand Alfamart ini telah menyiapkan dana sebesar Rp 1,01 triliun untuk membayar pokok dan bunga obligasi Berkelanjutan II Sumber Alfaria Trijaya Tahap II Tahun 2018 yang jatuh tempo pada 12 April 2021.

"Dana untuk pembayaran obligasi berasal dari kas internal perusahaan. Pembayaran pokok obligasi beserta bunga akan dibayarkan kepada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) paling lambat pada 9 Februari 2021," jelas Tommy dalam keterbukaan informasi, Senin (22/3).

Selain Sumber Alfaria, manajemen PT Mandala Multifinance Tbk (MFIN) telah menyatakan kesanggupan dana. Direktur Utama Mandala Multifinance Harryjanto Lasmana mengatakan, perseroan sudah menyiapkan dana sebesar Rp 100 miliar untuk pembayaran obligasi. Adapun obligasi akan jatuh tempo pada 12 April 2021 dan dana akan tersedia pada 9 April 2021.  "Sumber dana untuk pembayaran obligasi akan berasal dari kas internal perseroan," kata dia.

Instrumen Menarik

Sementara itu, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia memandang obligasi masih menjadi pilihan investasi yang menarik tahun ini. Hal ini ditopang oleh membaiknya kondisi makro ekonomi dan meningkatnya minat investor asing terhadap pasar obligasi.

Chief Economist and Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan, pasar obligasi sangat erat hubungannya dengan kondisi makro ekonomi, terutama terkait suku bunga, inflasi, dan stabilitas nilai tukar Rupiah. "Pasar obligasi secara historis mencatat kinerja baik pada tren suku bunga rendah dan inflasi tetap terjaga," jelas dia.

Katarina melihat, kondisi makro ekonomi tahun ini akan tetap suportif bagi pasar obligasi. Dia memperkirakan suku bunga acuan akan tetap rendah dan tingkat inflasi berada pada level yang terjaga.

Meskipun pada Januari 2021, kinerja obligasi sempat mengalami penurunan. Namun, menurut Katarina, rilis data ekonomi pada Januari masih sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga pelemahan tersebut bukan disebabkan karena terjadi perubahan faktor fundamental.

"Volatilitas pasar pada Januari dipengaruhi faktor teknikal, di mana pasar sudah menguat berturut-turut pada periode Oktober hingga Desember sehingga rawan terhadap aksi ambil untung," kata dia.

Menurut Katarina, tahun ini adalah tahun pemulihan ekonomi Indonesia. Program vaksinasi Covid-19 secara global menjadi kunci untuk normalisasi aktivitas ekonomi. Bahkan, International Monetary Fund (IMF) merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2021 dari sebelumnya 5,2% menjadi 5,5%, karena ketersediaan vaksin yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Program vaksinasi ini juga mulai dilakukan di Indonesia. Dalam implementasinya, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber vaksin, sehingga meminimalisir risiko tertundanya produksi vaksin. "Oleh karena itu kami memandang positif program vaksinasi secara luas dapat dijalankan dengan baik oleh pemerintah dan memitigasi risiko meningkatnya kasus Covid-19," papar dia.

Potensi perbaikan ekonomi juga didukung oleh kebijakan moneter dan fiskal yang tetap akomodatif. Tingkat suku bunga diperkirakan masih dipertahankan pada level rendah. Selain itu, program pembelian aset skala besar (quantitative easing) juga masih dipertahankan, sehingga tingkat likuiditas tetap tinggi dan mendukung pemulihan ekonomi.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN