Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi perdagangan efek. Foto: Lorenzo Cafaro (Pixabay)

Ilustrasi perdagangan efek. Foto: Lorenzo Cafaro (Pixabay)

Aliran Dana Asing Kerek Harga Surat Utang

Senin, 23 November 2020 | 07:10 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kenaikan harga surat utang negara (SUN) diprediksi berlanjut selama pekan ini. Hal itu didukung oleh dana asing yang terus mengalir ke pasar surat utang Indonesia.

Head of Economy Research PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengatakan, imbal hasil (yield) SUN cenderung turun. Untuk SUN tenor 10 tahun diperkirakan bergerak ke 6,2%. "Investor global tampaknya sudah mulai risk on, sehingga aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, semakin deras," kata dia kepada Investor Daily, Minggu (22/11).

Derasnya aliran modal asing tersebut, menurut Fikri, disebabkan oleh rencana kebijakan Joe Biden sebagai presiden terpilih Amerika Serikat (AS) yang akan lebih ekspansif. Selain itu, indeks dolar AS juga relatif turun. Peningkatan aliran dana juga dapat dilihat dari beli bersih asing di pasar saham dalam negeri dan portofolio investasi lainnya.

"Karena itu, kendati spread antara BI 7 days reverse repo rate (BI7DRRR) dengan Fed Rate yang diikuti spread yield SUN dan US Treasury mengecil, namun aset domestik masih diminati," ungkap dia.

Penguatan harga SUN, ungkap Fikri, juga bakal ditopang oleh lelang primer SUN pekan ini. Lelang ini akan dimanfaatkan secara oportunis oleh investor global dan domestik, sehingga akan meningkatkan penawaran di lelang selanjutnya.

Namun,pandangan berbeda disampaikan oleh Associate Director of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto. Menurut dia, yield SUN bisa naik, meski terbatas selama pekan ini. Yield SUN 10 tahun diperkirakan berkisar 6,15-6,25%. "Agak terbatas pergerakannya, potensi profit taking perlu mendapat perhatian setelah rally pekan lalu," kata dia.

Sentimen yang mempengaruhi pergerakan SUN akan datang dari perkembangan vaksin Covid-19. Sentimen lainnya adalah kebijakan dari Joe Biden yang sangat ditunggu oleh pelaku pasar. "Dalam kondisi seperti ini, ada baiknya bagi investor untuk masuk secara bertahap," kata dia.

Sementara itu, Presiden Direktur PT BNI Asset Management Putut Endro Andanawarih mengatakan, yield SUN akan bergerak di level 6,7-7,4% tahun ini. Kembali masuknya modal asing menjadi penyebab pergerakan tersebut. "Appetied asing terhadap pasar obligasi 21 triliun pada Oktober 2020, meski belum diikuti inflow di pasar saham," terang dia.

Sementara itu, tahun depan, arus modal asing ini akan mempengaruhi pergerakan SUN. Untuk tenor 10 tahun, yield SUN tahun 2021 akan stabil di angka 6,5-6,9%.

Selain arus modal asing, kebijakan Bank Indonesia (BI) juga turut mempengaruhi pergerakan SUN tahun depan. Dia mengungkapkan, BI cenderung akan mempertahankan suku bunga kebijakan di level 3,7-4%, seiring dengan tingkat inflasi yang meningkat.

Sentimen eksternal yang mempengaruhi pergerakan SUN, menurut Putut, berasal dari kebijakan Joe Biden yang akan mendukung kenaikan stimulus fiskal dan suku bunga rendah bisa berdampak positif ke negara emerging market. Pasalnya, hal ini bisa mendorong permintaan atas komoditas logam dan mendorong investor berburu yield yang lebih tinggi ke negara emerging market.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN