Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Emisi Obligasi dan Sukuk Korporasi

Emisi Obligasi dan Sukuk Korporasi

BEI Bidik Transaksi Harian Obligasi Pasar Alternatif Rp 1,12 Triliun

Senin, 9 November 2020 | 17:35 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id -  Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengembangkan electronic trading platform (ETP) perdagangan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) di pasar sekunder melalui Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA). Nilai transaksi harian platform baru ini diperkirakan tembus Rp 1,12 triliun pada 2021.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengatakan, target transaksi ditetapkan berdasarkan diskusi dengan Perhimpunan Pedagang Surat Utang Negara (Himdasun) dan membandingkan dengan sistem perdagangan di luar negeri.

"Berdasarkan diskusi, kami menetapkan target sekitar 3% dari transaksi harian obligasi tahun depan akan dilakukan melalui SPPA, nilainya sekitar Rp 1,12 triliun," jelas dia dalam acara Konferensi Pers Virtual Soft Launching SPPA, Senin, (9/11).

Target ini, menurut Laksono merupakan target konservatif setelah mempertimbangkan sistem ETP yang dikembangkan pada tahun 2016 tidak diminati partisipan. Namun demikian, pihaknya tetap optimistis target tercapai dengan melihat realisasi transaksi yang telah terjadi pada hari pertama soft launching. "Hingga kini, sudah ada 25 transaksi di SPPA dengan nilai sekitar Rp 309 miliar," terang dia.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi menambahkan, SPPA ini dikembangkan dengan mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
(POJK) Nomor 8/POJK.04/2019 tentang Penyelenggara Pasar Alternatif (PPA). Berdasarkan POJK tersebut, BEI telah ditetapkan oleh OJK untuk dapat bertindak sebagai PPA. Sebagai PPA, BEI memiliki peluang mengembangkan bisnisnya tidak hanya sebagai penyelenggara perdagangan bursa, namun juga sebagai penyelenggara perdagangan di luar bursa.

Sebelumnya, bursa sudah mengembangkan ETP untuk perdagangan EBUS di pasar sekunder, namun ETP tahap pertama masih sangat sederhana dengan fasilitas terbatas. Sementara SPPA memiliki banyak keunggulan, yakni dari segi instrumen, partisipan bisa memperdagangkan semua instrumen EBUS, yakni ORI, SUN, SBSN, obligasi korporasi dan sukuk di SPPA.

Kemudian, mekanisme perdagangannya bisa dilakukan melalui order book, request for quotation dan request for order. Identitas dealer yang mendapatkan transaksi di awal juga dijaga ketat. "Ada aspek pengawasan juga sehingga partisipan bisa melakukan transaksi secara fair," ucap dia.

Hingga kini, Laksono melanjutkan, sudah terdapat 20 pelaku pasar EBUS Indonesia yang sudah menjadi pengguna jasa SPPA. Sebanyak 20 partisipan ini terdiri dari 14 bank dan 6 sekuritas dengan 17 diantaranya adalah anggota dealer utama. Sementara itu, sekitar 4 dealer, yakni PT Bank Negara Indonesia Syariah, PT Bank Rakyat Indonesia Syariah, PT Syariah Mandiri dan Deutsche Bank sedang dalam proses untuk menjadi partisipan SPPA.

Menurut Laksono, partisipan dalam SPPA ini memang banyak diisi oleh perbankan. Pasalnya, transaksi EBUS merupakan bagian dari kegiatan treasury bank. Pihaknya juga mendorong bank yang menjadi dealer utama untuk bisa bertransaksi di ETP. Migrasi sepenuhnya perdagangan EBUS yang sebelumnya dilakukan secara sentralisasi di bursa ke SPPA akan dilakukan tahun depan.

Adapun dari segi transaksi, per Agustus 2020, nilai transaksi harian obligasi mencapai Rp 40 triliun. Nilai transaksi ini sudah melampaui target BEI untuk tahun ini di kisaran Rp 33 triliun. Transaksi obligasi ini didominasi oleh obligasi pemerintah sebanyak Rp 38,59 triliun dan obligasi korporasi sebanyak Rp 1,42 triliun. Dari segi kepemilikan obligasi, kepemilikan asing di obligasi pemerintah cenderung menurun pada Agustus 2020, yakni mencapai 28,24%. Tahun lalu, kepemilikan asing di obligasi pemerintah mencapai 38,57%.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN