Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita

Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita

BEI Luncurkan SPPA, Bidik Transaksi Harian Rp 1,1 Triliun di Tahun 2021

Senin, 9 November 2020 | 16:21 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor, PT Bursa Efek Indonesia menggelar soft launching Sistem Penyelenggaraan Pasar Alternatif (SPPA) untuk perdagangan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) di Pasar Sekunder.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan SPPA merupakan pengembangan dari Electronic Trading Platform (ETP) Tahap 1 yang sejak tahun lalu dimiliki BEI.

“Sebelumnya ETP ini kurang diminati, bahkan tidak ada transaksinya, karena itu kami mengembangkan ETP Tahap II  bernama SPPA dengan memberikan sejumlah keunggulan terutama pada instrumen EBUS yang dapat diperdagangkan. Bila ETP Tahap I relatif terbatas, maka di SPPA ini semua instrumen EBUS dapat diperdagangkan,” urai Hasan dalam Konfrensi Pers Soft Launching SPPA yang digelar secara virtual, Senin (9/11/2020).

Disampaikan bahwa minat pelaku pasar menggunakan sistem anyar ini cukup tinggi. Di hari pertama peluncuran SPPA, hari ini tercatat sebanyak 22 kali transaksi menggunakan SPPA dengan nilai sebesar Rp 309,6 miliar.

“Kami menargetkan, di tahun 2021 jumlah transaksi rata-rata harian SPPA mencapai 1,1 triliun hingga 1,2 triliun dari total transaksi surat utang,” imbuh Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono Widito Widodo.

Adapun jumlah partisipan yang telah mengantungi surat izin resmi penggunaan SPPA dari BEI dikatakan Laksono saat ini sebanyak 20 bank dan perusahaan efek yang terdiri dari 17 dealer utama dan 3 non dealer utama Surat Utang Negara (SUN).

“Selain itu ada 3 calon anggota partisipan yang sedang mengurus proses adaministrasi serta 1 yang sedang meminta persetujuan dari kantor regionalnya karena merupakan bank asing,” urainya.

20 partisipan tadi yaitu; Bahana Sekuritas, Bank ANZ Indonesia, Bank CIMB Niaga, Bank Danamon, Bank Mandiri, Maybank Indonesia, BNI, Bank Permata, BRI, Danareksa Sekuritas, JP Morgan Bank, Mandiri Sekuritas, Standard Chartered bank, Trimegah Sekuritas, Bank Panin, Bank HSBC, Bank DBS, Korea Investment & Sekuritas serta Mirae Sekuritas.

Sementara 4 yang sedang proses terdiri dari BNI Syariah, BRI Syariah, Mandiri Syarah dan Deutche Bank.

Dipaparkan, pengembangan SPPA didasarkan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 8/POJK.04/2019 tentang Penyelenggara Pasar Alternatif (PPA). Berdasarkan POJK tersebut, BEI telah ditetapkan oleh OJK untuk dapat bertindak sebagai PPA.

“Sebagai PPA, BEI memiliki peluang mengembangkan bisnisnya tidak hanya sebagai penyelenggara perdagangan Bursa, namun juga sebagai penyelenggara perdagangan di luar Bursa,” kata Hasan.

Hasan menyampaikan dlam pengembangan SPPA, BEI telah banyak berdiskusi dengan Perhimpunan Pedagang Surat Utang Negara (HIMDASUN) dan melakukan focus group discussion dengan pelaku pasar untuk mengidentifikasi kebutuhan bisnis dan merancang spesifikasi SPPA.

“BEI juga menggandeng penyedia solusi perdagangan surat utang global, yaitu Axe Trading yang berbasis di Eropa, untuk mengembangkan SPPA agar sistem yang kami kembangkan ini adalah sistem yang applicable sesuai best practice yang ada dan user-friendly,” pungkas Hasan.

BEI optimistis, dengan perannya sebagai PPA, BEI dapat mendukung terciptanya Pasar EBUSyang lebih efisien dan likuid.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN