Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

BEI: Penerbitan Surat Utang Korporasi Siap Melaju

Selasa, 29 Desember 2020 | 23:37 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) optimisitis penerbitan surat utang korporasi akan lebih tinggi pada tahun depan dibanding tahun ini. Hal ini turut mempertegas proyeksi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang memperkirakan penerbitan surat utang korporasi 2021 mencapai Rp 122-159 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, dari awal tahun hingga 28 Desember sudah terdapat penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) sebanyak 103 emisi oleh 59 emiten dengan total nilai emisi Rp 86,96 triliun.

Sementara itu, dalam daftar rencana penerbitan EBUS di BEI, terdapat sebanyak 8 penerbit yang akan menawarkan 9 emisi. Sebanyak 1 penerbit diantaranya merupakan calon perusahaan tercatat yang baru pertama kalinya mencatatkan EBUS.

“Total nilai penerbitan EBUS di tahun 2020 relatif menurun dibanding tahun 2019, namun nilai penerbitan EBUS dalam pipeline di akhir 2020 meningkat 41% dibandingkan pada periode yang sama tahun 2019,” kata dia dalam keterangan tertulis.

Nyoman menjelaskan, optimisme BEI terhadap prospek penerbitan surat utang korporasi pada 2021 didukung oleh perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan yang sebesar 4-5%. Kemudian, kebijakan pemerintah juga mendukung penerbitan surat utang korporasi seperti tingkat suku bunga BI-7 days Repo pada level terendah 2020, yakni 3,75% akan memberikan katalis positif yaitu cost of fund surat utang yang relatif rendah.

Prospek ekonomi Indonesia juga masih dinilai baik oleh lembaga pemeringkat international. Fitch Ratings, S&P dan Moody’s masih menempatkan peringkat Indonesia pada investment grade sejak awal 2020. Tak ketinggalan, pada 22 Desember 2020, Japan Credit Rating Agency (JCR) mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB+/outlook stabil atau investment grade.   

Pada 2020, BEI pun telah memperbarui peraturan I-B yang diterbitkan 20 Mei terkait pencatatan EBUS. Dalam peraturan tersebut, BEI memberikan beberapa relaksasi dalam rangka penerbitan EBUS, baik yang berkaitan dengan aspek persyaratan pencatatan maupun aspek biaya pencatatan, termasuk juga obligasi berwawasan lingkungan atau green bond.

“Relaksasi Peraturan I-B diberikan kepada korporasi maupun pemerintah Daerah. Hal tersebut diharapkan turut mendukung penerbitan EBUS pada tahun depan,” kata Nyoman.

Secara terpisah, Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana mengatakan, proyeksi nilai penerbitan 2021 yang sekitar Rp 122-159 triliun bercermin terhadap dua faktor utama. Pertama, jumlah surat utang jatuh tempo pada 2021 yang mencapai Rp 121 triliun, dan kedua adalah suku bunga acuan yang rendah. “Sebagai acuan, yield seri SUN bertenor 10 tahun, dengan asumsi moderat kami perkirakan di level 5,7% pada akhir 2021,” kata dia kepada Investor Daily.

Menurut Fikri, faktor pendukung seperti risk appetite dan struktur permodalan emiten juga mempengaruhi potensi penerbitan surat utang korporasi. Pada tahun ini, pihaknya mengakui faktor utama yang membuat penundaan penerbitan surat utang adalah efek negatif pandemi seperti cash flow dan credit risk emiten. Pefindo memproyeksikan nilai penerbitan surat utang korporasi sekitar Rp 88,4-106,7 triliun sepanjang 2020.

Sebelumnya Presiden Direktur Pefindo Salyadi Saputra mengatakan, selain untuk kebutuhan pelunasan utang, penerbitan obligasi juga didorong oleh pendanaan ekspansi emiten,

“Kalaupun mengandalkan yang mau refinancing, itu sudah mencapai Rp 120 triliun, tapi diharapkan bukan hanya untuk refinancing, namun untuk ekspansi juga di tahun depan,” ujar dia baru-baru ini

Adapun prediksi nilai jatuh tempo pada tahun 2021 untuk kuartal I sebanyak Rp 22,5 triliun, kuartal II sejumlah Rp 31,7 triliun dan yang paling besar kuartal III sebesar Rp 38,1 triliun. Sedangkan kuartal IV sejumlah Rp 29,6 triliun

Sementara itu, berdasarkan industri, persentasi nilai jatuh tempo untuk sektor lainnya pada 2021 sebesar 18,8%, perbankan 20,7%, multifinance 17,8%, lembaga keuangan khusus 16,8% dan industri pembiayaan 8,8%. Kemudian, pertambangan sebanyak 5%, properti sejumlah 4,3%, konstruksi sebesar 4% dan telekomunikasi 3,9%.

Meskipun jumlah penerbitan surat utang korporasi tahun depan diproyeksikan lebih tinggi dari tahun ini, namun masih terdapat beberapa hal yang patut diperhatikan, seperti minat dari para investor. Salyadi menilai, investor akan cenderung berhati-hati dalam berinvestasi.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN