Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi perusahaan. Foto: Mohamed Hassan (Pixabay)

Ilustrasi perusahaan. Foto: Mohamed Hassan (Pixabay)

Bersiap, Obligasi dan Sukuk Senilai Rp 10,5 Triliun Segera Meluncur

Rabu, 17 Februari 2021 | 06:21 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, sebanyak delapan emiten yang akan menerbitkan obligasi dan sukuk dalam waktu dekat. Nilai dari penerbitan obligasi itu mencapai Rp 10,5 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, berdasarkan pipeline BEI per 16 Februari 2021, 8 emiten tersebut akan menerbitkan 10 emisi. "Sebanyak 10 emisi itu terdiri atas tiga emisi sukuk dan tujuh emisi obligasi dengan nilai Rp 10,5 triliun," jelas dia dalam keterangan resmi, Selasa (16/2).

Penerbitan obligasi itu, menurut Nyoman, akan meningkatkan penerbitan obligasi korporasi tahun ini yang berpotensi mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun lalu. Potensi ini terlihat dari outstanding obligasi korporasi yang mulai menunjukkan pertumbuhan pasca adanya penurunan yang disebabkan oleh pandemi.

Menurut Nyoman, ada beberapa katalis yang bisa mendorong pertumbuhan obligasi itu. Katalis pertama adalah dari sisi kebijakan moneter dan fiskal yang tetap akomodatif. Kebijakan berupa penurunan suku bunga acuan mendorong penurunan biaya dana penerbitan surat utang korporasi. "Ditambah juga dengan adanya stimulus dari bank sentral untuk meningkatkan likuiditas di pasar uang sehingga membuat bank lebih banyak menempatkan dana di pasar obligasi," terang dia.

Kemudian, pemulihan ekonomi disinyalir akan terjadi pada tahun ini. Seiring dengan pemulihan itu, kebutuhan dana korporasi yang sempat tertunda pada 2020 akan meningkat pada tahun ini. Dari sisi global, pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mendorong masuknya aliran dana asing ke Indonesia. Pasalnya, investor asing mencari negara dengan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dari AS.

Peningkatan investor tidak hanya berasal dari investor asing. Nyoman juga melihat adanya peluang penambahan jumlah investor dari dalam negeri. Hal ini dengan melihat dari data pertumbuhan jumlah investor pada tahun lalu.

Nyoman menyebutkan, pada tahun lalu, jumlah investor pasar modal, baik dari saham, obligasi maupun reksa dana meningkat 56% menjadi 3,88 juta investor. Jumlah ini meningkat 4 kali lipat dalam 4 tahun terakhir. "Kondisi tersebut memberikan optimisme akan likuiditas obligasi maupun sukuk, di mana dapat menjadi alternatif pilihan investasi yang menarik bagi investor," terang dia.

Penerbitan obligasi ini, lanjut Nyoman masih akan didominasi oleh sektor keuangan. Hal tersebut dengan melihat realisasi pada 2020 dengan 43,11% penerbitan obligasi berasal dari sektor keuangan.

Meski demikian, Nyoman tidak menutup kemungkinan adanya peluang penerbitan obligasi dari sektor lain. Hal ini didukung oleh kemampuan membayar korporasi yang memadai dan imbal hasil yang menarik.

Salah satu korporasi non-keuangan yang akan menerbitkan obligasi adalah PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Wika akan menggelar penawaran obligasi dan sukuk senilai Rp 3 triliun. Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan perseroan untuk melunasi pokok pinjaman talangan dan membiayai modal kerja proyek infrastruktur serta gedung

Wika menawarkan obligasi berkelanjutan I tahap II senilai Rp 2,5 triliun, yang terdiri atas tiga seri. Pada seri A, jumlah pokok yang diterbitkan sebanyak Rp 495 miliar dengan tingkat bunga 8,50% per tahun bertenor tiga tahun. Kemudian, seri B ditargetkan sebanyak Rp 745 miliar dengan tingkat bunga 9,10% per tahun bertenor lima tahun. Selanjutnya, seri C sebesar Rp 1,25 triliun dengan tingkat bunga 9,75% per tahun bertenor tujuh tahun.

Sementara itu, perseroan turut menerbitkan sukuk mudharabah berkelanjutan I tahap II senilai Rp 500 miliar. Sukuk terdiri dari tiga seri, antara lain seri A senilai Rp 134,30 miliar, dan nisbah 37,28% dari pendapatan yang dihasilkan dengan indikasi bagi hasil ekuivalen 8,50% per tahun bertenor tiga tahun.

Untuk seri B, sukuk yang ditawarkan sebesar Rp 211,60 miliar, dan nisbah 39,91% dari pendapatan yang dihasilkan dengan indikasi bagi hasil ekuivalen 9,10% per tahun bertenor lima tahun. Sedangkan seri C, sukuk yang ditargetkan mencapai Rp 154,10 miliar, dan nisbah 42,76% dari pendapatan yang dihasilkan dengan indikasi bagi hasil ekuivalen 9,75% per tahun bertenor tujuh tahun.

Penerbitan surat utang ini merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) I yang memiliki total plafon Rp 4 triliun, dan Penawaran Umum Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I yang memiliki target hingga Rp 1 triliun. Tahun lalu, Wika telah merilis tahap pertama masing-masing Rp 1,5 triliun dan Rp 500 miliar.

Sementara itu, hingga 16 Februari 2021, BEI mencatat nilai obligasi dan sukuk baru yang sudah dicatatkan mencapai Rp 5,11 triliun. Sedangkan total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 473 emisi dari 130 emiten dengan nilai nominal outstanding Rp 427,09 triliun dan US$ 47,5 juta.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN