Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dealer memantau penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di global market Bank Mandiri, Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Dealer memantau penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di global market Bank Mandiri, Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

PEKAN INI ADA LELANG SUKUK

BI Diperkirakan Potong Bunga, SUN Pekan Ini Diproyeksikan Naik

Muhammad Nabil Alfaruq, Minggu, 17 Mei 2020 | 12:05 WIB

JAKARTA, investor.id — Harga Surat Utang Negara (SUN) pekan ini diproyeksikan akan mengalami peningkatan, hal ini seiring dengan sentimen dalam negeri terkait pertemuan Bank Sentral Indonesia yang dikabarkan akan melakukan pemotongan tingkat suku bunga. 

Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, pertemuan yang akan dilakukan oleh Bank Sentral Indonesia akan membawa angin segar untuk SUN pekan ini, meskipun dengan tingkat suku bunga yang sekarang sudah lebih dari cukup.

“Sentimen tersebut akan menjadi angin segar meskipun tingkat suku bunga saat ini sudah cukup. Pemotongan dapat dilanjutkan apabila situasi dan kondisi sudah lebih stabil untuk mendorong perekonomian,” tutur dia kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (17/5).

Data Global
Dari aspek global, dari Amerika Serikat terdapat kabar mengenai beberapa data ekonomi  yang diperkirakan akan mengalami penurunan, mulai dari New Home Sales hingga MBA Mortgage Application. Selain itu, terdapat data ekonomi yang dinantikan oleh para pelaku pasar, yakni GDP Annualized QoQ yang diproyeksikan juga menurun. 

“Tidak berhenti sampai di situ, berikutnya data Personal Consumption, Spending and Income akan mengalami hal yang sama. Pekan depan, sentimen ini akan menjadi perhatian utama di pasar,” ujar dia. 

Dari Eropa, akan muncul data mengenai inflasi dan consumer confidence. Sentimen ini akan menjadi perhatian utama di tengah situasi dan kondisi yang saat ini tengah menekan dan Eropa berusaha untuk menaikkan tingkat inflasinya.

Sedangkan dari Tiongkok, akan ada data Industrial Profit. Data ini akan menjadi perhatian utama apakah perekonomian Negeri Tirai Bambu itu mulai pulih atau tidak. Sejauh ini, perekonomian Tiongkok mulai menggeliat kembali. 

Sementara dari Jepang, akan ada data ekonomi All Industry Activity Index, yang diproyeksikan akan mengalami penurunan. Kemudian, inflasi dan tingkat pengangguran di Negeri Matahari Terbit ini akan menjadi perhatian. “Namun yang menentukan adalah Retail Sales yang berpotensi untuk mengalami penurunan kembali. Buruknya data ekonomi Jepang mungkin akan memberikan tekanan terhadap pasar Asia,” ujar dia. 

Lelang
Pada pekan ini juga akan dilakukan lelang Surat Berharga Syariah Negara atau Sukuk Negara, tanggal 18 Mei 2020. Nico menilai transaksi lelang pekan ini berpotensi mengalami peningkatan, karena merupakan yang terakhir menjelang Lebaran. Lelang sukuk bisa menjadi pilihan bagi pelaku pasar yang ingin mendapatkan obligasi dengan tingkat votalitasi rendah.

“Kami tentu menantikan lelang pekan depan akan menjadi lelang yang menyedot perhatian, apalagi ada pertemuan Bank Sentral Indonesia. Selain itu, apabila memang benar ada pemotongan tingkat suku bunga, tentu saja harga obligasi memiliki potensi untuk mengalami kenaikan,” ujar dia.

Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, lelang SUN pekan ini memiliki target indikatif sebesar Rp 7 triliun. Terdapat seri new issuance SPN-S 19112020 serta seri reopening yakni PBS-002, PBS-026, PBS-023, PBS-004, dan PBS-005.

Seri new issuance memiliki jatuh tempo 19 November 2020. Sedangkan lima seri lainnya yang merupakan reopening memiliki jatuh tempo 15 Januari 2022, 15 Oktober 2024, 15 Mei 2030, 15 Februari 2037, dan 15 April 2043.

Dari seri tersebut, Nico melihat bahwa seri PBS-023 akan menarik perhatian pelaku pasar karena tenor termasuk pendek dan kupon tinggi. Ini akan menjadi yang paling mencolok di antara yang lain.

Seiring SUN pekan ini yang berpotensi mengalami peningkatan, imbal hasil (yield) diproyeksikan akan mengalami penurunan, menjadi  7,05% – 7,35% untuk tenor 5 tahun, 10 tahun sebesar 7,70% – 7,90%, 15 tahun 8,10% – 8,20%, dan 20 tahun 8,00% – 8,25%.

Yield 7%
Sedangkan Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengatakan, harga SUN pekan ini berpotensi bergerak stabil dengan kecenderungan sedikit menurun. Untuk imbal hasil atau yield akan bergerak dengan rentang 7,0% - 7,35% untuk tenor 5 tahun dan untuk 10 tahun 7,65% - 7,90%.

Ia menjelaskan pula, lelang Surat Berharga Syariah Negara diproyeksikan akan mengalami permintaan cukup stabil. Hal ini didorong oleh permintaan dari domestik yang diperkirakan semakin banyak, khususnya dari perbankan dan Bank Indonesia.

“Faktor pendorong lainnya karena yield dirasa cukup kompetitif, dengan kemungkinan menurun dalam beberapa waktu mendatang. Untuk seri yang akan menjadi perhatian adalah SPN-S 19112020 dan PBS-023,” tutur dia. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN