Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Berbagai tabel investor asing di pasar modal, pasar uangm dan obligasi

Berbagai tabel investor asing di pasar modal, pasar uangm dan obligasi

Catat, Inilah 13 Perusahaan yang akan Emisi Obligasi Rp 18,22 Triliun Hingga Akhir 2019

Gita Rossiana, Kamis, 7 November 2019 | 12:40 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 13 perusahaan yang akan menerbitkan obligasi hingga akhir 2019. Adapun potensi obligasi yang akan diterbitkan dari 13 perusahaan tersebut mencapai Rp 18,22 triliun.

Berdasarkan data pipeline BEI per 6 November 2019, dari 13 perusahaan yang akan menerbitkan obligasi, sebanyak tujuh perusahaan merupakan lembaga jasa keuangan. Sebanyak empat dari tujuh lembaga jasa keuangan tersebut adalah bank, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap I dengan nilai Rp 5 triliun, PT Bank Mandiri Taspen dengan nilai obligasi Rp 1 triliun, PT Bank BTPN Tbk (BTPN) dengan nilai obligasi Rp 1 triliun dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang akan menerbitkan obligasi senilai Rp 2 triliun dan obligasi subordinasi dengan nilai Rp 1 triliun.

Kemudian ada tiga multifinance yang juga akan menerbitkan obligasi, yakni PT Bussan Auto Finance dengan nilai obligasi Rp 1,5 triliun. Selanjutnya ada PT Indonesia Infrastructure Finance dengan nilai obligasi Rp 1,5 triliun, dan PT Usaha Pembiayaan Reliance Indonesia dengan nilai Rp 600 miliar.

Selain bank dan lembaga pembiayaan, ada perusahaan lain dari berbagai sektor yang akan menerbitkan obligasi. PT Kereta Api Indonesia akan menerbitkan obligasi Rp 2 triliun, PT Voksel Electric Tbk (VOKS) yang akan menerbitkan obligasi Rp 500 miliar dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang akan menerbitkan obligasi Rp 600 miliar.

Kemudian ada PT Barito Pasific Tbk (BRPT) dengan nilai obligasi Rp 750 miliar dan PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK) dengan nilai obligasi Rp 375 miliar. Terakhir, ada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan nilai obligasi Rp 400 miliar.

BEI mencatat, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat hingga sepanjang 2019 mencapai 86 emisi dari 45 emiten dengan nilai Rp 101,04 triliun. Sedangkan total outstanding emisi sukuk dan obligasi yang tercatat di BEI mencapai Rp 442,01 triliun dan US$ 47,5 juta dari 118 emiten.

Sebelumnya, PT BCA Finance mencatatkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap I Tahun 2019 dengan nilai Rp 1,5 triliun. Obligasi ini terdiri dari tiga seri dengan tingkat bunga 6,75-7,8%.

Sementara itu, hingga akhir tahun ini, PT Penilaian Harga Efek Indonesia (PHEI) memproyeksi penerbitan obligasi akan mencapai Rp 130 triliun. Tren penerbitan obligasi korporasi akan naik karena dipengaruhi kondisi ekonomi makro Indonesia yang menunjukkan kondisi stabil dengan nilai pertumbuhan ekonomi 5% di tengah kondisi perlambatan ekonomi global. 

Faktor Pendorong

Di sisi lain, kondisi yang mempengaruhi investor asing masuk ke pasar obligasi Indonesia adalah langkah S&P meningkatkan Sovereign Credit Rating Indonesia dari BBB-/Outlook Stabil menjadi BBB/Outlook Stabil. 

"Selain penurunan suku bunga acuan oleh The Fed, peringkat yang diberikan oleh S&P juga sangat menarik minat investor asing di pasar obligasi indonesia. JIka inflow asing makin banyak maka akan menguatkan rupiah," kata Direktur PHEI Wahyu Trenggono.

Sedangkan tahun depan, PHEI memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi bisa mencapai Rp 175 triliun. Wahyu menyatakan, secara historis, keadaan pasar obligasi pada tahun depan tak jauh berbeda seperti lima tahun ke belakang, yang mana kondisinya tak jauh berbeda dengan situasi setelah pemilu 2014. 

"Secara historis, pada 2015, pertumbuhan pasar obligasi korporasi bisa double up, namun pada waktu itu kondisi pasar global tidak segamang saat ini. Kami proyeksikan penerbitan obligasi pada tahun depan berkisar Rp 155 triliun hingga Rp 175 triliun," ujar dia.

Menurut Wahyu, pada tahun depan, kondisi pasar obligasi korporasi di dalam negeri masih akan terpengaruh kondisi pasar global. 

"Jika kita lihat kondisi pasar global masih menunjukkan pesimisme. Jika kita lihat saja kondisi ekonomi Amerika mengarah pada resesi, sehingga membuat The Fed akan kembali menurunkan suku bunga acuannya, untuk memperbaiki kondisi ekonomi Amerika," tuturnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA