Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chandra Asri. Foto: beritasatu.com

Chandra Asri. Foto: beritasatu.com

Chandra Asri Rampungkan 'Buyback' Obligasi Global Tahap Awal

Kamis, 20 Mei 2021 | 22:20 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) menyelesaikan tender offer pembelian kembali (buyback) obligasi global (global bond) tahap awal sebesar US$ 32,55 juta. Dengan buyback ini, jumlah obligasi global yang tersisa mencapai US$ 235,23 juta.

General Manager Legal dan Sekretaris Perusahaan Chandra Asri Erri Dewi Riani menjelaskan, perseroan melakukan tender offer pembelian kembali obligasi global pada 19 Mei 2021. Pada periode itu, perseroan berhasil membeli pokok surat utang sebesar US$ 32,55 juta dari jumlah penyelesaian awal atas tender offer sebesar US$ 33,4 juta. "Setelah tender offer awal ini dilakukan, maka total kewajiban yang tersisa sebesar US$ 235,23 juta," jelas Erri dalam keterangan tertulis, Kamis (20/5).

Adapun tujuan dari buyback ini untuk mengoptimalkan dan mengelola kas internal perseroan. Selain itu, perseroan juga bisa mengelola profil utang dan struktur permodalan perusahaan.

Dalam keterangan sebelumnya dijelaskan, Chandra Asri akan melakukan buyback obligasi global senilai US$ 300 juta. Dalam rangka buyback itu, perseroan akan melakukan tender offer sejak 3 Mei hingga 14 Mei 2021 sebagai tenggat batas awal dan 28 Mei sebagai tenggat batas terakhir. Target dari nilai pokok tender offer ini adalah sampai maksimal US$ 75 juta.

Global bond yang akan dibeli kembali diterbitkan pada 2017 dan akan jatuh tempo pada 2024. Nilai pokok dari surat utang ini adalah US$ 300 juta dan nilai outstanding sebesar US$ 267,8 juta. Tingkat bunga dari surat utang ini adalah 4,95%.

Dari sisi likuiditas, Direktur Chandra Asri Suryandi menjelaskan, pihaknya memiliki likuiditas sebesar US$ 1,1 miliar serta posisi kas dan setara kas mencapai US$ 767 juta pada kuartal I-2021. “Kami juga memiliki leverage yang lebih rendah dengan net debt to EBITDA sebesar 0,2 kali. Kami juga bisa mengurangi total utang menjadi US$ 825 juta pada kuartal I-2021 dari posisi US$ 885 juta pada kuartal I-2020," ungkap dia.

Pada periode yang sama, perseroan mencatat pendapatan bersih perseroan sebesar US$ 598 juta, naik 25% dibandingkan kuartal I-2020 yang sebesar US$ 477 juta. Pendapatan bersih yang diraih anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini secara otomatis menjadikan laba bersih perseroan mencapai US$ 85 juta pada kuartal I-2021, jauh lebih baik dibandingkan kuartal I-2020 yang mencatat rugi bersih US$ 17 juta.

Hingga kuartal I-2021, EBITDA Chandra Asri meningkat signifikan menjadi US$ 147 juta dibandingkan periode sama tahun lalu yang minus US$ 14 juta. “Hasil kuartal I-2021 sangat menggembirakan. Kondisi ini mencerminkan penyebaran produk yang sehat, pelaksanaan strategi yang solid, dan ketahanan keuangan yang berkelanjutan,” kata Suryandi.

Menurut dia, pencapaian kinerja yang luar biasa ini sejalan dengan permintaan produk petrokimia di Indonesia dan regional Asia yang terus meningkat terutama sejak semester kedua tahun 2020. Ditambah, dengan program vaksinasi yang terus berjalan menjadi salah satu kunci agar Indonesia bisa mempercepat pemulihan ekonomi.

Perseroan juga akan fokus pada bisnis berkelanjutan dan operasional yang baik. Dengan begitu, perseroan bisa mempertahankan kinerja operasional yang baik dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat, sehingga kesehatan dan keselamatan karyawan tetap terjamin.

Sementara itu, tahun ini, perseroan menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) minimal sebesar US$ 65 juta. Perseroan akan mengalokasikannya untuk operasional pabrik-pabrik yang sudah ada, serta persiapan menuju proyek CAP II. Belanja modal tersebut bisa bertambah tergantung pada kondisi ekonomi global dan domestik.

Perseroan juga masih mempertimbangkan aksi korporasi seperti penerbitan saham baru melalui skema rights issue untuk menopang dana ekspansi. Seperti diketahui, saat ini CAP II yang berlokasi di Cilegon, Banten dalam tahap pra-final investment decision (FID). Secara desain, pabrik tersebut akan 15% lebih besar dari CAP I. Proyek ini ditaksir bakal menelan investasi hingga US$ 5 miliar.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN