Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi reksa dana pasar uang

Ilustrasi reksa dana pasar uang

Desember 2020, AUM Reksa Dana Capai Rekor Level Rp 573,54 Triliun

Senin, 11 Januari 2021 | 14:49 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id -  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana mencapai Rp 573,54 triliun hingga akhir Desember 2020. Angka tersebut menunjukkan peningkatan 5,78% dari realisasi periode sama tahun lalu senilai Rp 542,17 triliun.

Pencapaian tersebut menjadikan dana kelolaan industri reksa dana Indonesia terbesar sepanjang masa terjadi pada Desember 2020 atau mengalahkan pencapaian sebelumnya pada November 2020 sebesar Rp 547,84 triliun.

Berdasarkan data tersebut, reksa dana terproteksi menjadi kontributor utama sebesar Rp 145,26 triliun atau mencapai 25,33%. Kemudian reksa dana pendapatan tetap sebesar Rp 139,15 triliun atau sebesar 24,26%. Sisanya berasal dari reksa dana saham dan pasar uang masing-masing Rp 127,79 triliun dan Rp 94,54 triliun.

Sementara dilihat dari produk, Reksa Dana Ashmore Obligasi Nusantara dari PT Ashmore Asset Management Indonesia menjadi produk dengan dana kelolaan terbanyak, yakni mencapai Rp 4,7 triliun. Selanjutnya, Schroder Dana Prestasi dari PT Schroder Investment Management Indonesia juga membukukan dana kelolaan yang besar sebesar Rp 4,66 triliun.

Di posisi selanjutnya tercatat produk reksa dana pasar uang dan exchange traded fund (ETF) dari PT Bahana TCW Investment Management. Reksa dana pasar uang, Bahana Dana Likuid dan reksa dana ETF ABF Indonesia Bond Index Fund masing-masing membukukan dana kelolaan sebesar Rp 4,6 triliun dan Rp 4,58 triliun.

Instrumen Favorit

Sementara itu, Danareksa Research Institute mencatat masyarakat tetap menyisihkan pendapatannya untuk berinvestasi selama pandemi. Dalam investasi tersebut, reksa dana dan saham menjadi pilihan yang diambil masyarakat.

Danareksa mencatat pendapatan masyarakat memang turun, namun mereka tetap menyisihkan pendapatannya untuk tabungan atau investasi. Tercatat, sebanyak lebih dari 80% responden yang berpenghasilan di bawah Rp 3 juta hingga di atas Rp 40 juta menyisihkan pendapatannya untuk investasi.

"Alokasi dana terbanyak berasal dari responden dengan penghasilan di antara Rp 20-30 juta, yakni sebanyak 97,06% dan responden berpenghasilan di antara Rp 30-40 juta sebanyak 100%," tulis Danareksa dalam risetnya belum lama ini.

Meski demikian banyak juga masyarakat mencairkan tabungan dan investasinya selama pandemi. Sekurangnya 55,94% dan 23,23% responden mencairkan dana tabungan dan investasinya selama wabah virus corona merebak. "Dana ini dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu juga digunakan untuk memenuhi dana darurat, modal usaha, cicilan, dan dipindahkan ke instrumen investasi lainnya," tulis Danareksa.

Dari berbagai instrumen investasi, reksa dana dan saham menjadi pilihan instrumen responden selama pandemi, yakni mencapai 21,28% dan 20,21%. Selain itu, responden juga memilih emas sebagai instrumen investasi, yakni sebanyak 31,91%, deposito sebanyak 11,7%, valas sebanyak 5,32% dan lainnya 9,57%.

Danareksa mencatat, instrumen investasi baik emas, reksa dana, dan saham mengalami peningkatan, dibandingkan sebelum pandemi. Kenaikan tersebut masing-masing mencapai 27,23%, 17,41% dan 16,07%. Sementara deposito, valas dan instrumen lainnya menurun, yakni masing-masing 16,07%, 9,82% dan 13,39%.

Sebelumnya, PT Panin Asset Management menargetkan dana kelolaan sebesar Rp 16,3 triliun pada tahun ini. Nilai ini meningkat dibandingkan akhir 2020 yang melebihi Rp 14 triliun. Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, indeks harga saham gabungan (IHSG) yang diprediksi menembus 6.700 tahun ini menjadi faktor yang mendorong kinerja Panin AM.

Dengan melihat potensi peningkatan IHSG tersebut, Panin AM mencoba masuk ke saham-saham undervalued. Saham-saham tersebut ada di segmen medium cap dan juga kombinasi dengan big cap.

Guna mencapai target tersebut, perseroan akan meluncurkan lima produk reksadana terproteksi tahun ini. Selain itu, perseroan akan meluncurkan produk lain sesuai permintaan konsumen.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN