Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas sedang pemeriksaan rutin gardu induk PLN. Foto: IST

Petugas sedang pemeriksaan rutin gardu induk PLN. Foto: IST

Dua BUMN Galang Dana US$ 2 Miliar

Farid Firdaus, (jauhari_id)  Rabu, 24 Juni 2020 | 22:16 WIB

JAKARTA, investor.id – Dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengincar dana dari luar negeri hingga US$ 2 miliar. Secara rinci, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) membidik dana US$ 1,5 miliar dari penawaran surat utang global (global bond), sedangkan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) menjajaki pinjaman sindikasi hingga US$ 500 juta.

Direktur Sarana Multi Infrastruktur Mohammad Ghozie Indra Dalel mengatakan, pihaknya telah menunjukan mandated lead arrangers and bookrunners (MLAB) untuk menangani pencarian pinjaman. Para MLAB tersebut adalah Bank of China, CTBC, MUFG, Standard Chartered Bank, dan UOB. Pinjaman tersebut akan bertenor tiga tahun dan digunakan untuk mendukung aktifitas pembiayaan infrastruktur sesuai mandat SMI.

“SMI sudah memberikan mandate letter kepada lima MLAB, dan target penandatanganan perjanjian pinjaman sindikasi adalah September 2020,” jelas Mohammad Ghozie kepada Investor Daily, Rabu (24/6).

SMI adalah BUMN yang merupakan special mission vehicles (SMV) di bawah Kementerian Keuangan yang memiliki bisnis pembiayaan untuk proyek-proyek infrastruktur. Hingga akhir 2019, SMI tercatat memiliki aset Rp 75,82 triliun, dengan liabilitas Rp 35,96 triliun dan ekuitas Rp 36,85 triliun.

SMI juga tercatat sebagai emiten obligasi, yang dalam waktu dekat akan membagikan dividen tunai Rp 500 miliar atau setara 29% dari laba bersih perseroan tahun lalu.

Sementara itu, laporan Global Capital Asia menyebutkan, Perusahaan Listrik Negara (PLN) menggelar masa penawaran global bond senilai US$ 1,5 miliar selama pekan ini. PLN memanfaatkan minat investor yang tinggai terhadap penerbitan surat utang dari Indonesia. Hal ini tercermin dari kesuksesan pemerintah Indonesia dalam menerbitkan sukuk global hingga US$ 2,5 miliar pada pekan lalu. Saat dikonfirmasi, Direktur Keuangan PLN Sinthya Roesly tidak menjawab pesan singkat dan telepon Investor Daily.

Usulan penerbitan global bond PLN telah meraih peringkat BBB dengan outlook stabil dari Fitch Ratings, dan Baa2 dari Moody’s Investor Service. Fitch Ratings menyebutkan, peringkat yang diberikan kepada usulan penerbitan global bond PLN sama dengan peringkat Indonesia yang juga BBB dengan outlook stabil. Peringkat berdasarkan penilaian Fitch terhadap dukungan yang sangat kuat dari Indonesia, sebagai pemegang saham PLN. Hal ini juga sejalan dengan kriteria pemeringkatan Fitch's Government-Related Entities (GRE).

“Profil kredit standalone PLN yakni BB+ mencerminkan posisi monopoli perusahaan milik negara di sektor transmisi dan distribusi listrik Indonesia, posisi dominan dalam sektor pembangkit listrik, serta profil keuangan yang moderat,” tulis Fitch dalam risetnya, baru-baru ini

Fitch memperkirakan, kegiatan ekonomi yang terbatas di tengah pandemi Covid-19 memicu penurunan 10% volume penjualan listrik PLN pada 2020, dibandingkan dengan volume penjualan 2019 yang naik 4,7%. Fitch juga memperkirakan tarif listrik tetap sama selama 2020.

Menurut manajemen PLN, perseroan melakukan pengurangan capex menjadi Rp 53 triliun dari rencana semula Rp 80 triliun pada 2020. Pemangkasan capex dinilai meredam dampak dari penjualan yang lebih rendah dan tarif yang tak berubah terhadap profil keuangan PLN dan beban subsidi.

Tahun ini, pemerintah Indonesia juga berniat mengucurkan Rp 48 triliun sebagai dukungan likuiditas kepada PLN, terhadap piutang kompensasi perusahaan sebesar Rp 45 triliun pada akhir 2019.

Fitch memprediksi, PLN tetap bergantung pada dukungan negara dalam mempertahankan operasinya secara jangka menengah. EBITDA PLN bisa negatif, jika tidak menerima subsidi dan pendapatan kompensasi dari pemerintah. Selain itu, Fitch turut menilai capex PLN tetap tinggi pada 2021 dan seterusnya. Hal ini dalam rangka mendukung meningkatkan permintaan daya listrik di Indonesia.

“Kami memperkirakan rata-rata capex PLN sebesar Rp 80 triliun per tahun, yang membuat perseroan bebas dari arus kas defisit secara jangka panjang,” jelas Fitch.

Sementara itu, Moody’s Investors Service menjelaskan, dilihat dari faktor lingkungan, sosial dan tata kelola, peringkat Baa2 yang disematkan kepada PLN juga memperimbangkan risiko transisi karbon yang moderat. Meskipun 42% dari kapasitas pembangkit PLN menggunakan tenaga batubara. Hal ini lantaran batubara masih menjadi sumber tenaga listrik yang termurah, dan ada dukungan kebijakan berkelanjutan terhadap penggunaan batubara.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN