Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Emisi 'Global Bond' Korporasi RI Marak

Selasa, 4 Februari 2020 | 18:59 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Penerbitan obligasi global (global bond) oleh perusahaan asal Indonesia sepanjang 2020 diyakini lebih marak dibandingkan tahun lalu. Selama Januari saja, penerbitan global bond mencapai US$ 3,82 miliar atau Rp 52,4 triliun. Selanjutnya, sejumlah perusahaan berencana emisi global bond sebesar US$ 10,93 miliar atau Rp 150 triliun. Dengan demikian, totalnya bisa mencapai US$ 14,7 miliar atau Rp 202 triliun.

Selama Januari, tercatat tujuh perusahaan telah merampungkan penerbitan global bond. PT Pertamina menjadi penerbit dengan nilai emisi paling besar mencapai US$ 1,5 miliar. Tahun ini, BUMN tersebut meluncurkan program surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) hingga senilai US$ 10 miliar. Fitch Ratings telah menyematkan peringkat BBB terhadap MTN tersebut, dengan prospek stabil.

Adapun perusahaan yang berencana menerbitkan global bond adalah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sebesar US$ 500 juta, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) senilai US$ 1,25 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar US$ 500 juta, dan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) senilai US$ 185 juta. Sedangkan Pertamina masih menyisakan potensi penerbitan sebesar US$ 8,5 miliar dari program MTN.

Analis Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan, maraknya penerbitan global bond pada Januari sebenarnya momentum bagi emiten untuk mendapatkan biaya dana (cost of fund) penerbitan yang murah. Sebab, yield atau imbal hasil US Treasury yang merupakan acuan obligasi korporasi global tengah menurun.

“Apalagi, ada beberapa penerbit yang merupakan issuer baru seperti BTN dan Bayan Resources, dimana mereka percaya diri menerbitkan global bond perdana pada awal tahun ini,” kata Made kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (3/2).

Tahun ini, Made yakin nilai penerbitan global bond lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Penerbit dari kelompok BUMN dinilai memiliki kelebihan di mata investor luar negeri, lantaran mendapatkan prospek stabil dari lembaga pemeringkat internasional. Terlebih, investor global tak asing lagi dengan latar belakang dari BUMN, seperti Pertamina, PLN, ataupun Bank BUMN.

Tahun lalu, PLN berhasil menerbitkan Samurai Bond senilai 23,2 miliar yen atau setara Rp 3 triliun. Berkaca dengan pengalaman tersebut, bukan tidak mungkin PLN kembali menerbitkan Samurai Bond tahun ini.

Untuk emiten dari sektor lain, lanjut dia, memang sebelumnya ada kekhawatiran dari investor asing, khususnya kepada emiten tekstil sejak kasus Duniatex mencuat pada pertengahan 2019. Namun, hal ini tidak serta-merta membuat minat investor asing berkurang terhadap surat utang emiten dalam negeri. “Mereka akan menimbang dahulu sektor emiten tersebut. Ketika sejumlah sektor emiten terpapar sentimen kurang bagus, maka ongkos penerbitan global bond emiten di sektor itu akan lebih tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Head of Fixed Income Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, likuiditas yang besar pada awal tahun ini mendorong emiten beramai-ramai menerbitkan global bond. Selain itu, pandangan dovish Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, juga menjadi faktor yang mempengaruhi pasar obligasi. Investor surat utang dan emiten sebagai penerbit juga optimistis dengan ekonomi global setelah fase I kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, serta meredanya perseteruan kedua negara.

“Tahun ini tantangannya ada pada semester II, terutama jelang pemilihan umum Presiden AS yang biasanya membuat market volatile,” jelas Handy.

Secara terpisah, Fixed Income Division Head-SVP Bank Sinarmas Anup Kumar mengemukakan bahwa terdapat kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) ataupun modal kerja dalam denominasi dolar AS yang mendorong emiten menerbitkan global bond. Dengan begitu, tidak terjadi mismatch antara pendanaan dan penggunaan dana.

Selain itu, lanjut dia, faktor kupon yang lebih rendah dibanding tahun lalu turut membuat aksi penerbitan kian ramai pada 2020. Sebab, cost of debt perusahaan lebih baik bila hasil emisi obligasi untuk pelunasan utang yang memiliki bunga lebih tinggi. Salah satu emiten yang mengincar suku bunga surat utang lebih rendah tahun ini adalah Alam Sutera. Perseroan setidaknya berharap mampu menerbitkan global bond minimal dengan nilai yang sama dan bertenor minimal selama lima tahun.

Refinancing Utang

Direktur Utama Alam Sutera Realty Joseph Sanusi Tjong pernah mengatakan, pihaknya menunggu waktu yang tepat untuk melakukan refinancing surat utang. “Jika melihat pengalaman yang lalu, kalau rate-nya lagi bagus, kami akan terbitkan yang lima tahun, jatuh temponya pada 2024,” tutur dia.

Alam Sutera berhasil mengantongi izin permohonan persetujuan (concent solicitation) perubahan atas dua global bond yang telah diterbitkan sebelumnya. Surat utang tersebut berupa senior notes senilai US$ 175 juta dengan bunga 11,5% dan jatuh tempo 2021, serta senior notes senilai US$ 370 juta dengan bunga 6,625% yang jatuh tempo 2022.

Amendemen pada dua surat utang ini memberikan fleksibilitas bagi Alam Sutra dalam meraih pembiayaan hingga US$ 185 juta. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk kebutuhan pelunasan kembali utang.

Di sisi lain, Garuda Indonesia mengejar penyelesaian limited review laporan keuangan 2019 guna merealisasikan penerbitan sukuk global minimal senilai US$ 500 juta pada kuartal I-2020.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, sukuk global akan menjadi prioritas, lantaran perseroan menghadapi utang jatuh tempo sukuk global senilai US$ 500 juta pada 3 Juni 2019. Proses penerbitan nantinya turut melewati persetujuan dewan komisaris perseroan. “Kami mesti selesaikan utang ini secepatnya. Yang prioritas global sukuk, kami akan negosiasi,” jelas dia.

Sementara itu, Bank Mandiri memiliki sisa jatah penerbitan global bond hingga senilai US$ 1,25 miliar, yang merupakan bagian dari nilai yang diizinkan oleh regulator sebesar US$ 2 miliar. Perseroan berencana menerbitkan global bond secara bertahap dalam satu tahun.

Penerbitan global bond juga masuk dalam rencana bisnis bank (RBB) BNI. Dana hasil penerbitan tersebut rencananya akan dipakai untuk refinancing utang dan sebagian untuk penyaluran kredit.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN